Novel: GADIS DUA WAJAH – Konspirasi di Jakarta (6/20)

BAB 6: ALBUM YANG TERKUTUK

Udara di dalam gerbong kereta tiba-tiba menjadi dingin menusuk ketika album foto itu terbuka. Dewi menjatuhkan diri ke kursi kayu, tangannya menutup mulut yang hampir menjerit.

“Tidak mungkin…” Ardian menggapai foto pernikahan itu dengan tangan gemetar.

Wajah ibunya tersenyum bahagia di pelaminan, tapi bukan di samping ayahnya—melainkan Johanes Lim yang masih muda. Delapan anak perempuan berdiri mengelilingi mereka seperti pengantin kecil, mengenakan kebaya merah identik. Dan di belakang telinga setiap anak… tahi lalat bulan sabit.

Wanita tua itu tertawa, suaranya seperti ranting patah. “Kau selalu anak yang lambat, Ardian. Lihat lebih dekat—anak nomor delapan itu adalah…”

Dewi menjatuhkan foto itu seolah terbakar. “Aku? Tapi aku tidak—”

“Bukan kau, sayang,” wanita tua itu menyentuh tahi lalat Dewi, membuatnya menjerit kesakitan. “Kau hanya wadah. Memori Nomor 8 yang gagal.”

——

Di luar, kereta tiba-tiba melaju kencang, padahal seharusnya stasiun ini sudah tak beroperasi. Lampu-lampu berkedip, dan di jendela, bayangan-bayangan tanpa wajah mulai menepuk-nepuk kaca.

Ardian menyambar lengan wanita tua itu. “Apa maksudmu ‘wadah’? Di mana ibuku sebenarnya?”

Wanita itu tersenyum, gigi-giginya hitam seperti terbakar. “Mei Ling? Dia ada di mana-mana.” Tangannya yang keriput merogoh kerah kebaya, mencabut sesuatu dari balik salah satu tahi lalatnya—sepotong kecil kertas bertuliskan aksara Tionghoa kuno.

“Dia ada dalam setiap tahi lalat ini. Dalam setiap memori yang kami curi.”

——

Tiba-tiba, seluruh gerbong berguncang hebat. Dewi jatuh ke lantai, dan saat itulah ia melihat—di bawah bangku wanita tua itu, lantai kereta dipenuhi origami bangau.

Satu bangau terbuka sendiri, mengeluarkan suara yang membuat tulang mereka menggigil: suara Mei Ling muda.

“Ardian… anakku… jika kau dengar ini, artinya mereka sudah memulai ritual terakhir. Hancurkan semua cermin. Jangan biarkan bayangan kita hidup sendiri—”

Suara itu terputus ketika pintu gerbong berikutnya terbuka dengan keras.

Johanes Lim berdiri di sana, tapi bukan wajah manusia yang menatap mereka—melainkan ratusan tahi lalat bulan sabit yang bergerak-gerak di bawah kulitnya, membentuk pola seperti wayang di wajahnya.