BAB 12: DARAH PARA PENARI
Gemuruh mengguncang ruangan bawah tanah ketika kedua Dewi bersentuhan. Ardian menyaksikan dengan ngeri saat kulit mereka mulai menyatu seperti lilin panas, memancarkan cahaya keemasan.
Lantai marmer retak dengan suara mengerikan, mengungkap keris kuno yang tertancap di batu. Bilahnya berdarah meski telah berabad-abad—darah yang masih merah segar.
Ardian membaca ukiran di pangkal keris:
“Ronggeng Merah Generasi Pertama – 1675”
Tiba-tiba, mahkota di tangannya menjadi panas membara. Kilasan ingatan asing menyambar:
Seorang wanita berkebaya merah menari di alun-alun kerajaan, tubuhnya dipenuhi luka tusuk. Di tangan kanannya—keris ini. Di tangan kiri—kepala seorang pria yang wajahnya… mirip kakek buyut Ardian!
——
“Tidak…” Ardian tersungkur, muntah. “Ini bukan proyek modern. Ini—”
“Kutukan keluarga,” suara Mei Ling yang mekanik menyelesaikan kalimatnya. “Setiap generasi Wijaya harus menyiapkan penari pengganti sebelum ajalnya. Jika tidak…”
Dia membuka baju, memperlihatkan torso logam dengan delapan slot microchip. Hanya satu yang masih menyala.
“Kau lihat? Aku sudah hampir habis.”
——
Dewi kecil di peti kristal tiba-tiba menjerit. Tubuhnya melayang, menyatu dengan Dewi dewasa. Suara mereka bergema dalam harmoni mengerikan:
“Kami ingat sekarang! Mereka mengurung kami di sini! Membuat kami menari tanpa henti untuk—”
Suara mereka terputus ketika keris berdarah tiba-tiba melayang sendiri, menancap tepat di dada Dewi yang sedang bermetamorfosis.
Tapi tidak ada darah yang keluar.
Yang mengalir adalah… cahaya keemasan.
——
Ardian merangkak ke depan, tapi tangan mekanik ibunya menahannya. “Jangan!” peringatnya. “Itu bukan lagi Dewi yang kau kenal.”
Di atas panggung, Dewi yang sekarang bersinar seperti dewi—rambutnya memanjang, kuku-kukunya tumbuh menjadi cakar logam. Dan di dahinya… tahi lalat bulan sabit baru mulai terbentuk.
Dari mulutnya keluar tiga suara sekaligus:
- Suara Dewi kecil: “Tolong aku!”
- Suara wanita tak dikenal: “Akhiri siklus ini!”
- Suara Ronggeng Merah: *”Sambutlah Generasi Ke-14!”*
——
Di tengah kekacauan itu, Ardian melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti—
Keris itu mulai menulis sendiri di lantai dengan cahaya darah:
“Hanya darah Wijaya terakhir yang bisa memutus rantai.”
Dan Ardian pun mengerti.