BAB 8: TARI PENGANTIN DARAH
Selendang merah jatuh perlahan ke lantai panggung.
Wajah yang tersembul membuat perut Ardian berontak—delapan potongan wajah berbeda dijahit menjadi satu, dengan mata yang tidak seimbang dan senyum miring. Tapi yang paling mengerikan adalah bibirnya…
“Bibir Ibu…” Ardian bergidik.
Sosok Ronggeng Merah itu mengangkat tangan—kulitnya transparan seperti kertas minyak, memperlihatkan aliran darah yang bergerak di dalamnya. Dengan gerakan gemulai, ia mulai menari. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah di panggung.
Dewi tiba-tiba menjerit, memegangi kepalanya. “Dia memanggilku! Ada suara di kepalaku yang—”
Tahi lalat di belakang telinganya pecah.
Sebuah keping kecil logam jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Ardian memungutnya—sebuah microchip berukir karakter “03”.
——
Wanita tua dari kereta tiba-tiba muncul di samping mereka, tangannya yang keriput mencengkeram erat lengan Ardian. “Delapan pengantin, delapan tahi lalat,” bisiknya tergesa. “Tapi hanya satu yang akan menjadi wadah sempurna untuk Ronggeng Merah.”
Dia menyodorkan pisau ritual ke tangan Ardian. “Pilihanmu: biarkan gadis ini menjadi wadah, atau…”
Di dinding, bayangan mereka tiba-tiba hidup sendiri. Bayangan Ardian mengangkat pisau imajiner, mengarahkannya ke bayangan Dewi.
——
Tiba-tiba, seluruh ruangan bergemuruh. Salah satu cermin besar pecah, dan dari balik pecahannya—
Mei Ling yang sebenarnya muncul, tubuhnya setengah transparan seperti hantu.
“Jangan sentuh pisau itu, Anakku!” teriaknya. “Mereka memanipulasi kenyataan! Aku tidak pernah menikah dengan Johanes, itu—”
Suaranya terputus ketika Ronggeng Merah melompat ke arahnya, tangan berdarah mencengkeram tenggorokan hantu itu.
Di saat yang sama, Dewi mulai berjalan seperti zombie menuju panggung, darah mengalir dari telinganya. Suara yang bukan miliknya keluar dari mulutnya:
“Aku bersedia menjadi pengantin…”