BAB 10: WARISAN BERDARAH
Ledakan membutakan mata. Ardian terlempar ke dinding, tulang rusuknya nyeri seperti ditusuk pisau. Asap tebal memenuhi ruangan, tapi mahkota pengantin masih melekat erat di tangannya—sekarang memancarkan cahaya merah redup.
Dari balik kabut, suara Rian berteriak: “Ardian! Baca ukiran di bagian dalam mahkota!”
Dengan jari gemetar, Ardian membalik mahkota itu. Tulisan kuno terukir halus:
“Ronggeng Merah Generasi Ke-13 – Mei Ling Wijaya”
“Bukan nama… tapi gelar?”
——
Di tengah panggung, Ronggeng Merah menjerit-jerit tak karuan, wajahnya yang terpotong-potong mulai meleleh seperti lilin. Tapi yang lebih mengerikan—
Dewi kecil (Nomor 3 yang asli) tiba-tiba tersentak, tubuhnya mulai tercabik-cabik seperti kertas dimakan api. “Mereka menghapus backup!” teriaknya sebelum lenyap menjadi debu.
Dewi yang sekarang—Nomor 3 cadangan—jatuh ke lutut, darah mengalir dari hidung dan telinga. “Aku ingat… semuanya,” bisiknya. “Laboratorium… delapan anak perempuan… ritual transfer memori…”
——
Ardian merangkak mendekatinya, tapi tiba-tiba—
Lantai panggung terbuka! Sebuah lubang menganga menampakkan tangga spiral menuju kegelapan. Suara ibunya bergema dari bawah:
“Turunlah, Anakku. Lihatlah kebenaran terakhir.”
Johanes Lim muncul dari balik asap, separuh wajahnya sudah hancur, memperlihatkan logam berkilat di bawah kulit. “Jangan!” raungnya. “Jika kau melihat apa yang ada di bawah, Proyek Roro Jonggrang akan—”
Tembakan menggema.
Darah menyembur dari dada Johanes. Di baliknya, berdiri Rian dengan pistol berasap. “Sudah cukup kebohongan,” katanya.
Tapi Ardian melihat sesuatu yang membuat darahnya beku—
Lubang bekas tembakan di dada Johanes… tidak berdarah. Yang keluar adalah—
Origami bangau kecil berwarna merah.