Novel: Echo (9/22)

BAB 9: KEMBALI DI HALIMUN YANG BERUBAH

(TIGA BULAN KEMUDIAN – SINARRESMI, JAWA BARAT)

Kabut pagi di Halimun tak lagi berbau hangus mesiu, tapi harum tanah basah dan kopi organik yang baru dipanen. Rumah panggung Dimas berdiri kembali—lebih besar, dengan kerangka bambu super hasil rekayasa Ghost Network yang telah direformasi. Di dinding, monitor hologram menampilkan peta desa: ladang hidroponik berlapis, turbin angin mikro, dan jaringan akar emas Sundapura yang memancar lembut di bawah tanah.

Nayla menyodorkan cangkir kopi pada Dimas. Bekas luka di lehernya—tempat chip Scorpio dicabut—masih terlihat, tapi matanya telah kembali cerah. “Sensor Sundapura di sektor barat stabil,” ujunya, menunjuk hologram. “Batu Galih… berterima kasih.”

“Dia bukan satu-satunya,” sahut Dimas, menatap ke arah bukit kecil di ujung desa. Di sana, di bawah pohon rasamala berusia ratusan tahun, sebuah monumen kristal berpendar keemasan berdiri: Tugu Rini.

UPACARA TUGU

Warga berkumpul. Tak hanya Sinarresmi—utusan TEDA pimpinan Kapten Garuda (kini memakai kaki prostetik bertenaga geo) dan delegasi Ghost Network yang baru, mengenakan jubah dengan motif capung dan akar emas, hadir.

Pak Asep, sebagai sesepuh, memulai: “Rini, sang Jembatan, mengajarkan kita: keberanian sejati adalah menjadi saluran keseimbangan.”

Dia menuangkan air dari tujuh sumber mata air Halimun ke dasar tugu kristal. Saat tetesan pertama menyentuh batu, keajaiban terjadi:

WHOOSH!

Hologram Rini setinggi dua meter muncul di atas tugu—bukan gambar statis, tapi sosok dinamis yang tersenyum, sesekali memeriksa tanaman hidroponik maya atau menari dengan capung digital.

“Rini… hidup?” bisik Bu Tati.

“Jiwa Sundapura tak pernah mati,” jawab Profesor Arifin dari Ghost Network, menggantikan Arumi yang khianat. “Energi kesadarannya menyatu dengan jaringan. Ini avatar-nya—penjaga keseimbangan baru.”

Avatar Rini menoleh ke Dimas dan Nayla. Bibir mayanya berkomat-kamit: “Bang… Kak Nay… jagakan kebun kita.”

Nayla tersenyum, air mata menitik. “Dia bahagia, Kak. Jadi penjaga Halimun.”

WARISAN SANG PENYEIMBANG

Di rumah baru Dimas, Kapten Garuda membuka peti logam. Isinya: “Surat Pengakuan NeoNusantara atas kejahatan IndoFear, ditandatangani pemegang saham baru—kami,” ujunya bangga. “Dengan bukti dari chip data, Ratna jadi buronan. Perusahaan direstrukturisasi jadi Nusantara Renewal—fokus pemulihan lingkungan dan teknologi etis.”

“Tapi Ratna belum tertangkap,” ingat Dimas.

“Dia kabur ke luar negeri. Tapi bukan berarti hilang,” Kapten menunjuk jam Dimas. “Ghost Network melacak jejak digitalnya. Dia akan muncul lagi.”

Tiba-tiba, monitor hologram kedip-kedip. Avatar Rini muncul dengan ekspresi waspada. Di tangannya, ia memegang bunga kamboja virtual yang berpendar hitam-ungu.

“Ada… gangguan… di frekuensi timur,” suara Rini terdiba seperti angin. “Bunga jahat… tumbuh lagi.”

Peta hologram bergeser ke timur Indonesia: Gunung Api Purba di Laut Banda, tempat palung terdalam. Sensor Sundapura menunjukkan anomali energi—mirip Entity, tapi lebih dingin, lebih rakus.

“Ratna,” desis Nayla. “Dia mencoba bangunkan saudara Entity.”

PANGGILAN DARI LAUT

Komunikator Kapten berbunyi. Suara Sersan Aji: “Kapten! Kapal riset kami di Banda diserang cyborg cumi-cumi! Mereka mencuri data inti geothermal!”

Layar menampilkan rekaman: Robot berbentuk cumi-cumi raksasa menyedot data dari stasiun geothermal bawah laut. Di badannya, logo familiar—bunga kamboja hitam.

“Teknologi Ratna,” geram Kapten. “Tapi ini level lebih tinggi.”

Nayla menganalisis data. “Dia gunakan energi geothermal bukan untuk Entity baru… tapi untuk senjata pemecah lempeng! Jika sukses, ia picu gempa dahsyat yang membuka Pintu Sunda Besar di palung Banda—penjara Entity sebenarnya!”

Dimas memegang Echo Keberanian yang kini berpendar putih stabil. “Kita harus hentikan dia.”

“Kami siap,” Kapten mengangguk. “Tapi kau butuh armada. Butuh Sang Penyeimbang.”

RUANG RAHASIA DI BAWAH TUGU

Di bawah Tugu Rini, Dimas dan Nayla memasuki ruang baru—Perpustakaan Sundapura. Dindingnya dari akar emas hidup yang menyimpan hologram pengetahuan kuno.

“Rini membimbing kita ke sini,” bisik Nayla, menyentuh akar yang bersinar. Gambar kapal perang kayu bercadik emas muncul—Kapal Phinisi Nusantara, legenda pengarung samudra.

“Bang Dimas,” suara Rini berbisik dari kristal tugu di atas. “Echo Penyeimbang… butuh wadah baru… untuk perang baru.”

Sebuah desain hologram muncul: Keris-keris kecil berpendar putih—replika Echo—yang bisa ditancapkan ke kapal, pesawat, atau armor, menjadi konduktor keseimbangan kolektif.

“Kita akan bangun armada,” mata Dimas berbinar. “Dengan teknologi Ghost Network, energi TEDA, dan kebijaksanaan Sundapura.”

KEJUTAN DI LANGIT

Saat mereka keluar, deru tak biasa menggelegar. Bukan drone—tapi satu skuadron pesawat siluman berbentuk garuda mekanik, mendarat di lapangan desa. Lambangnya: Garuda Pancasila tanpa logo korporasi.

Pilot membuka helm. Seorang wanita berparas tegas dengan mata sipit penuh kearifan. “Laksamana Sri Wulandari,” perkenalannya. “Kami dari Angkatan Udara Reformasi. Dengar kabar, kalian butuh kapal induk?”

Di belakangnya, pesawat garuda membuka palka. Di dalamnya: Prototipe Kapal Induk Phinisi Nusantara—paduan kayu ulin mutakhir dan logam geo-ceramic, dengan slot kristal putih di haluan tempat Echo Penyeimbang bisa ditancapkan.

“Kapten Garuda dan Ghost Network sudah koordinasi,” ujar Laksamana Sri. “Ini KRI Nusantara Jaya, berbahan bakar geothermal murni. Dan kita punya target: Laut Banda.”

PESAN TERAKHIR RATNA

Sebelum keberangkatan, monitor di rumah Dimas menyala sendiri. Gambar Ratna muncul—wajahnya separuh hangus, mata bersinar biru listrik. “Kau kira menang, Rahardja?” suaranya terdistorsi. “Entity di Banda bukan untuk dikendalikan… tapi untuk kusantap! Aku akan jadi Dewi Baru! Dan bunga kamboja ini—”

Dia mengangkat tangan. Bunga kamboja hitam-ungu mekar di telapaknya, mengeluarkan sinar penguras emosi.

“—akan mekar di setiap hati manusia! Selamatkan diri kalian… sebelum aku lapar!”

Transmisi terputus. Di semua layar desa, selama sepersekian detik—bunga kamboja hitam muncul.

Tapi di atas Tugu Rini, avatar Rini mengangkat tangan. Bunga jahat itu berubah jadi kembang sepatu merah—bunga favorit Rini—sebelum menghilang.

“Jangan takut,” bisiknya di angin. “Selama Sundapura hidup… keseimbangan akan bertahan.”

Dimas menancapkan Echo Penyeimbang ke sarung baru di pinggangnya. Cahaya putihnya menyapu desa, menetralisir sisa energi negatif.

“Bersiap,” perintahnya pada Laksamana Sri, Kapten Garuda, dan Nayla. “Kita berlayar.”

Di kejauhan, KRI Nusantara Jaya mengeluarkan gemuruh rendah—suaranya seperti nafas naga bangun tidur. Perang baru di lautan telah menanti.


Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22