Novel: GADIS DUA WAJAH – Konspirasi di Jakarta (15/20)

BAB 15: LABIRIN CERMIN YANG BERBISIK

Microchip itu meleleh di kerongkongan Ardian seperti logam cair. Dunia berputar, lalu—

Denting!

Suara pecahan kaca berhamburan. Ardian terjatuh di tengah ruangan berbentuk lingkaran, dikelilingi delapan cermin tinggi. Setiap cermin memantulkan wajahnya yang berbeda-beda:

  • Cermin 1: Ardian kecil usia 5 tahun
  • Cermin 2: Remaja 17 tahun dengan mata hitam
  • Cermin 3: Versi sekarang dengan tahi lalat berdenyut

Dan di cermin terakhir—bayangan Dewi memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kau tidak seharusnya kembali,” bisik suara ibunya dari kegelapan. “Mereka akan menemukan kita semua!”

——

Tiba-tiba, ketujuh cermin lainnya mulai menangis. Darah mengalir dari bingkai kaca, membentuk sungai merah di lantai marmer.

Dari cermin nomor 5, sosok Mei Ling merangkak keluar—badannya setengah transparan, jari-jarinya mencakar lantai.

“Proyek Roro Jonggrang belum berakhir, Nak. Mereka hanya butuh satu hal terakhir…”

Dia menunjuk cermin tempat bayangan Dewi berdiri.

“Kesadaran aslinya yang tersembunyi di antara lapisan memori palsu.”

——

Ardian melangkah mendekati cermin itu. Bayangan Dewi menangis, menempelkan telapak tangan di kaca. Saat ia membalas gestur itu, seluruh ruangan bergemuruh.

Cermin itu pecah.

Tapi bukan pecahan kaca yang berhamburan—melainkan ribuan origami bangau yang tiba-tiba hidup, mengepakkan sayap dan membentuk tornado kertas.

Di tengah pusaran itu, Dewi seutuhnya muncul—tubuhnya setengah cahaya, tahi lalatnya berpendar merah.

“Ardian,” suaranya menggema dari segala arah, “apa kau ingat janji kita di laboratorium bawah tanah?”

——

Kilasan ingatan menyambar:

Gadis kecil dengan tahi lalat bulan sabit meraih tangan Ardian kecil di ruangan penuh asap. “Nanti kalau aku hilang, carilah bangau kertasku!”

Lalu ledakan. Teriakan. Dan…

Johanes Lim menarik tubuh kecil Dewi ke dalam lift logam.

Ardian tersungkur, kepalanya berdenyut sakit. Sekarang ia mengerti.

Dewi bukan klon.

Dia korban pertama yang berhasil kabur.

——

Tiba-tiba, seluruh cermin di ruangan itu pecah bersamaan. Dari pecahannya, tujuh sosok wanita berkebaya merah merangkak keluar—wajah mereka persis Dewi, tapi dengan ekspresi berbeda:

  1. Marah
  2. Takut
  3. Sedih

Sampai yang ketujuh—tersenyum puas.

*”Generasi ke-14 sudah selesai,”* kata si tersenyum, suaranya seperti Johanes Lim. “Waktunya untuk… peralihan.”

Mereka semua menghampiri Dewi yang terjebak di pusaran bangau.