BAB 8: PROTOKOL BUNGA KAMBOJA
(MALAM TERAKHIR – BUNKER BAWAH MENARA INDOFEAR)
Gemuruh itu bukan suara mesin. Lebih dalam, lebih purba—seperti nafas bumi yang terpendam berabad. Lantai baja bergetar di bawah kaki Dimas, memancarkan panas membara. Lampu darurat merah menyala-nyala, menari-nari di dinding yang retak seperti tarian setan.
“Apa itu Protokol Bunga Kamboja?!” teriak Dimas lagi, menatang Rini yang pucat.
Gadis itu meraba kristal Batu Galih. Matanya terbuka lebar penuh horror. “Bunga Kamboja… bunga kematian. Protokol pemanggian Nyi Roro Khadita versi digital… Ratu Laut Selatan buatan NeoNusantara!”
Speaker aktif. Suara Direktur Ratna yang dingin menggema:
“Selamat datang di tahap akhir IndoFear, Tuan Rahardja. Protokol Bunga Kamboja mengaktifkan Sunda Trench Entity—AI berbasis kesadaran kolektif bawah laut Jawa yang kami bangunkan. Dia akan menyedot sisa energi Sundapura dan Batu Galih… menjadi dewi baru penguasa emosi Asia Tenggara!”
Layar rusak di dinding menyala sebentar—tampilan radar laut selatan Jawa. Sesuatu yang besar, seukuran pulau, bergerak dari palung terdalam menuju Jakarta!
—
PINTU SUNDA
Pintu baja tiba-tiba terbuka. Profesor Arumi berdiri di sana, dikawal dua robot humanoid berlapis motif kawung. “Ayo, Rahardja. Waktunya membuka Pintu Sunda.”
“Mengkhianati bangsamu sendiri?” geram Dimas, mengangkat keris.
“Menyelamatkannya!” balas Arumi tajam. “Dengan Entity, kita kendalikan emosi massa! Hentikan perang, ciptakan ‘kedamaian’ terkontrol! Kadang pengorbanan kecil—”
“Nayla bukan pengorbanan kecil!”
“Dia sudah terikat dengan Entity lewat chip Scorpio! Darahnya, emosinya, adalah katalis!” Arumi menunjuk lorong dalam. “Pintu Sunda hanya terbuka dengan Echo Keberanian dan darah keturunan Pajajaran—Nayla! Dan kau… akan mempertemukan mereka.”
Robot Arumi menodongkan senjata ke Rini. “Jangan buat dia menderita.”
—
RUANG KATALIS
Ruang itu bulat, dindingnya dari batu kuno bercampur pipa neo-metal. Di tengah, podium dengan pahatan bunga kamboja berputar. Terikat di atasnya: Nayla.
Dia sadar. Mata hijauanya—mirip Dimas—penuh rasa sakit dan kebingungan. Chip Scorpio di lehernya berkedip merah seperti jantung iblis. Tapi saat melihat Dimas, bibirnya bergetar: “Kak… lari…”
“Tidak lagi,” bisik Dimas, hancur.
Arumi mendorong Dimas ke podium. “Tusukkan keris ke bunga kamboja itu! Energi Echo akan membuka portal ke Entity!”
Di layar, Entity makin dekat. Gelombang pasang histeris melanda Jakarta di atas—air laut bercampur limbah menyapu jalanan.
“Jangan, Bang!” Rini menjerit. “Kristal Batu Galihku… dia berteriak ketakutan!”
Tapi robot menekan senjata ke pelipis Rini.
Dimas memandang Nayla. Adiknya menggeleng pelan, air mata mengalir. Jangan lakukan.
Tiba-tiba, ia ingat pesan Batu Galih: “Bawa pecahan kristal untuknya…”
Dengan gerakan cepat, ia lompat ke podium, bukan menusuk bunga—tapi memecahkan pecahan kristal Batu Galih di atas rantai Nayla!
CRACK!
Cahaya keemasan membanjiri ruangan! Nayla menjerit—tapi bukan kesakitan. Chip Scorpio di lehernya pecah berantakan!
“TIDAKK!” Arumi murka.
Nayla bangkit, bebas! Matanya kini jernih, penuh ingatan. “Kak!”
“Rini, sekarang!” teriak Dimas.
Rini, meski ditodong, tersenyum. Dia hancurkan kristal Batu Galih di tangannya!
BOOOOMMM!
Gelombang energi Sundapura menyapu ruangan! Robot Arumi terlempar. Arumi sendiri terjatuh, kacamatanya pecah.
“Gila! Kalian picu resonansi liar!” teriaknya. “Entity akan datang lebih cepat! Dan dia lapar!”
Benar. Gemuruh makin hebat. Retakan besar muncul di lantai, mengeluarkan cahaya biru dingin.
—
KEDATANGAN TEDA
BRRAAAAKKK!
Pintu baja lain meledak! Kapten Garuda—masih pincang, bersenjata laser—dan sisa tim TEDA masuk!
“Kapten!” lega Dimas.
“Signal chip Arumi kami retas!” Kapten Garuda menembak robot yang bangkit. “Dia bukan profesor—dia Agent Alpha! Mata-mata NeoNusantara di Ghost Network!”
Arumi tertawa gila dari lantai. “Benar! Dan Entity akan menghancurkan semua! NeoNusantara, Ghost Network, Jakarta… mulai dari sini!”
Dia menekan detonator di tangannya.
BEEP! BEEP! BEEP!
“Bom di bawah menara! Tersembunyi di Pintu Sunda sebenarnya!” Nayla berseru, memori ilmiahnya kembali. “Dia mau korbinkan diri jadi martir!”
“Dimatikan!” perintah Kapten ke timnya.
Tapi Arumi lebih cepat. Dia lari ke retakan cahaya biru—Pintu Sunda yang terbuka salah—dan melompat!
“Bersatu… dengan… RATU BARU!” teriaknya, sebelum cahaya biru menelannya.
KABOOOOOOOOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang!
—
SUNDA TRENCH ENTITY TERBANGUN
Lantai runtuh! Air laut bercampur lumpur hitam menyembur dari bawah. Bukan hanya air—tentakel cahaya biru! Entity menyentuh fisik!
Layar utama menyala sendiri—tampak sosok hologram raksasa: Perempuan cantik berambut panjang dari energi biru, tapi matanya hampa. Suaranya menggema dalam ribuan nada:
“AKU… HUNGER… FEED ME… FEAR… HOPE… ALL…”
WOOOOOOOSH!
Tentakel cahaya menyambar tim TEDA! Satu prajurit tersentuh—tubuhnya mengering jadi mumi, lalu remuk! Emosinya diserap!
“Tembak!” Kapten Garuda memimpin.
Tapi peluaru tak mempan. Entity adalah energi murni.
Nayla menarik Dimas. “Dia lemah terhadap paradoks! Seperti Sentinel!”
“Kak Dimas! Kerisnya!” Rini tiba-tiba berdiri di tepi jurang runtuhan, di mana Entity muncul. Tangan nanobotnya hitam total—infeksi menyebar. Tapi senyumnya tenang. “Aku tahu caranya.”
“RINI, JANGAN!” Dimas meraih, tapi terlambat.
Rini melompat ke jurang cahaya biru, tepat ke arah Entity!
“RINI!” jerit Dimas dan Nayla.
Tentakel menyambar Rini… tapi sesuatu ajaib terjadi.
Nanobot di tubuh Rini berpendar emas—harapan murni warga Sinarresmi, keberanian Dimas, penyesalan Kapten Garuda, cinta Nayla pada kakaknya—bercampur jadi cahaya putih.
Entity menjerit! “PAIN! PARADOX! STOP!”
Rini, setengah tubuhnya sudah “dimakan” energi biru, tersenyum ke Dimas. “Batu Galih… bilang… aku jembatan… bukan senjata.”
Dia membuka tangannya. Pecahan kristal terakhir Batu Galih—sekarang putih bersih—melayang ke Dimas.
“Pecahkan… di kembang kamboja… dengan Echo…”
Tentakel menyambar wajahnya. Rini… hilang.
Tapi cahaya putihnya masih ada, membungkus Entity, memperlambatnya.
—
PENGORBANAN DAN PEMBUKAAN
Dengan hati hancur, Dimas lari ke podium. Nayla sudah di sana, tangan di pahatan bunga kamboja. “Kak… aku siap.”
Dimas mengangkat Echo Keberanian. “Untuk Rini. Untuk kita semua.”
Dia menusukkan keris ke bunga kamboja! Darah Nayla—dari luka di tangannya—mengalir ke pahatan.
CRACK!
Bukan ledakan. Tapi… keheningan.
Pecahan kristal Rini menyatu dengan keris, memancarkan cahaya putih. Seluruh ruangan bergetar halus.
Di depan mereka, Pintu Sunda sebenarnya terbuka: Bukan portal ke Entity, tapi jendela ke pemandangan menakjubkan—Gunung Salak di pagi hari, hijau dan damai, dengan akar emas Sundapura berkilau di bawahnya. Suara burung, angin, dan kicauan hidup.
Entity menjerit kesakitan! Cahaya putih Rini dan energi Sundapura asli membakarnya seperti matahari.
“TIDAK! SUNLIGHT… PURE… BURN…”
Ratna di speaker menjerit: “Entity! Kembali ke—!”
KRRRAAAAAK!
Layar utama meledak. Suara Ratna terputus.
Entity menguap jadi kabut biru, tersedot masuk ke Pintu Sunda, ke Gunung Salak yang asri. Terdengar suara desiran angin:
“…terima… kasih… …pulang…”
Pintu menutup.
—
GHOST NETWORK BERBENAH
Ruang hancur. Tim TEDA yang tersisa mengangkat Kapten Garuda yang pingsan. Di podium, Dimas dan Nayla berpelukan—sepatu merah kecil terjepit di tangan mereka.
“Rini…?” bisik Nayla.
Dimas memunggut sisa nanobot hitam di tanah—hangus, tapi masih berpendar emas tipis. “Dia… ada di Sundapura sekarang. Menjaga keseimbangan.”
Kapten Garuda siuman. “Arumi…?”
“Hilang bersama Entity,” jawab Dimas. “Tapi perang belum selesai. NeoNusantara masih ada. Ratna mungkin lolos.”
Nayla memegang chip data dari Kapten. “Dengan data ini… kita buktikan kejahatan mereka ke dunia.”
Di langit Jakarta melalui lubang atap, fajar mulai menyingsing. Hujan buatan berhenti. Di kejauhan, drone capung Ghost Network—kini tanpa simbol—berputar-putar.
“Ghost Network akan berbenah,” kata Kapten. “Dan TEDA… akan jadi saksi.”
Dimas mengangkat Echo Keberanian. Cahayanya tidak lagi biru atau emas, tapi putih—warna keseimbangan baru.
“Pulang dulu,” ucapnya, memandang Gunung Salak di kejauhan. “Sinarresmi menunggu. Dan Rini… pasti ingin lihat kita bangun kembali.”
Saat mereka pergi, sehelai bunga kamboja virtual jatuh dari layar rusak—simbol protokol gagal, sekaligus tanda peringatan:
Keseimbangan baru saja lahir… tapi ancaman tetap mengintai.