Novel: GADIS DUA WAJAH – Konspirasi di Jakarta (7/20)

BAB 7: WAJAH DI BALIK TOPENG

Kulit wajah Johanes Lim mengelupas seperti kertas basah, jatuh ke lantai gerbong dengan suara berbisik. Ardian terpaku—dari balik lapisan kulit yang terkelupas, wajah demi wajah berganti dengan cepat:

  • Seorang wanita tua tak dikenal
  • Wajah Rian yang pucat
  • Gadis-gadis dengan tahi lalat bulan sabit

Dan terakhir—

“Ayah…?” suara Ardian pecah.

Wajah Budi Wijaya, ayahnya yang telah tewas sepuluh tahun lalu, tersenyum dingin dari balik sosok Johanes. Matanya hitam legam tanpa putih, seperti dua buah kancing arang yang tertancap di wajah.

“Bukan ayahmu, Ardian,” desis wanita tua di bangku. “Hanya boneka yang memakai kenanganmu.”

Johanes mengangkat tangan—kulitnya mulai retak, mengeluarkan asap hitam. “Proyek Roro Jonggrang hampir sempurna,” suaranya bergema aneh, seperti puluhan suara yang berbicara bersamaan. “Kita hanya butuh satu bagian terakhir…”

Matanya yang hitam menatap tajam ke tahi lalat Dewi.

——

Dewi tiba-tiba merasakan panas menyengat di belakang telinganya. Darah mulai mengalir dari tahi lalat bulan sabit itu, membentuk garis merah di lehernya. Tanpa sadar, tangannya meraih pisau kecil di meja—

“Jangan!” Ardian menerjang, tetapi terlambat.

Dewi sudah menggoreskan pisau itu di lengannya, menulis sesuatu dalam aksara Tionghoa kuno dengan darahnya sendiri. Ruangan berputar, dan tiba-tiba—

Kilasan ingatan asing membanjiri pikirannya:

Ruangan putih. Delapan tempat tidur besi. Gadis kecil di tempat tidur nomor 3 menjerit ketika jarum panjang ditusukkan ke tahi lalatnya. Dan di sudut… Mei Ling muda memegang tangan seorang pria—Budi Wijaya?

——

Kereta tiba-tiba berhenti dengan sentakan keras. Semua lampu padam.

Dalam kegelapan, Ardian mendengar suara wanita tua berbisik di telinganya:

“Stasiun berikutnya adalah akhir perjalanan. Jika kau ingin menyelamatkan keduanya—ibumu dan gadis ini—kau harus memilih.”

“Memilih apa?” Ardian membentak.

“Memilih siapa yang akan menjadi pengantin terakhir untuk Ronggeng Merah.”

Pintu gerbong terbuka dengan suara mengerang. Di luar… bukan stasiun, melainkan sebuah ruangan besar dengan delapan cermin tinggi mengelilingi panggung. Di tengahnya, berdiri sosok berkebaya merah dengan wajah tertutup selendang—persis seperti bayangan yang Dewi lihat di kamar rias.