Dari Lontar ke TikTok: Evolusi Penyebaran Kearifan dalam Masyarakat

Bayangkan guratan pisau stylus menekan permukaan daun lontar yang telah direndam dan dikeringkan, di bawah terik matahari Nusantara berabad silam. Setiap lekukan membentuk aksara, mengukir nasihat leluhur, petuah spiritual, atau catatan hukum adat. Prosesnya lambat, fisik, dan sakral. Kearifan tak sekadar pesan abstrak; ia melekat pada objek material yang harus dijinjing, dibuka dengan hati-hati, dibaca dengan suara lantang dalam komunitas, diwariskan dari tangan ke tangan. Mediumnya—daun palem yang rapuh—membentuk pengalaman penerimaan: kebijaksanaan adalah sesuatu yang berharga, langka, memerlukan perhatian penuh dan penghormatan. Ia hidup dalam ritual dan ruang kolektif.

Kemudian datanglah kertas, mesin cetak, dan revolusi diam-diam yang mengikutinya. Kearifan yang semula terkunci dalam naskah langka atau tradisi lisan mulai bermigrasi ke buku-buku yang bisa digandakan massal. Nasihat hidup, falsafah, cerita bijak berpindah dari lingkaran terbatas pendeta atau tetua adat ke tangan siapa saja yang melek huruf. Akses meluas, demokratisasi pengetahuan terjadi. Namun, sesuatu yang esensial ikut berubah. Intimitas pengalaman langsung—suara penutur, ekspresi wajah, konteks ruang dan waktu—mulai memudar. Kebijaksanaan menjadi lebih portabel, lebih mandiri, tapi juga lebih mudah terlepas dari akar budaya dan komunitas yang memberinya makna penuh.

Lompatan besar berikutnya terjadi di abad ke-20 dengan gelombang elektronik: radio dan televisi. Kata-kata bijak kini bukan hanya tertulis, tapi terdengar dan terlihat. Motivator, tokoh agama, atau filsuf populer bisa masuk ke ruang tamu jutaan orang secara serentak. Kearifan menjadi tontonan, dikemas dalam program acara, pidato, atau wawancara. Jangkauannya fenomenal, daya pengaruhnya besar. Namun, medium baru ini juga membawa logika baru: perhatian penonton menjadi komoditas. Pesan seringkali disederhanakan, dipadatkan menjadi soundbite, dirancang untuk memikat dalam hitungan detik sebelum iklan berikutnya muncul. Kedalaman dikorbankan demi keterjualan dan rating.

Kemudian, tiba-tiba, kita terlempar ke zaman digital—zaman scroll tanpa henti. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts menjadi kuil baru penyebaran kearifan. Kata-kata bijak kini berbentuk video pendek 15 hingga 60 detik. Seorang influencer di depan ring light membacakan kutipan Rumi dengan latar belakang visual memukau dan background music yang emosional. Seorang content creator meringkas ajaran Stoikisme dalam tiga poin dengan teks bergerak cepat dan animasi. Kecepatan dan kepadatan adalah rajanya. Algoritma menjadi kurator tak terlihat, menentukan kutipan mana yang viral, filsuf mana yang trending, berdasarkan keterlibatan pengguna: like, share, comment, view time.

Evolusi ini membawa keuntungan yang tak terbantahkan. Kearifan yang dulu mungkin hanya bisa diakses segelintir elit atau komunitas tertentu kini tersedia secara global, seketika, dan seringkali gratis. Seorang remaja di pelosok desa bisa terpapar pemikiran Seneca, Lao Tzu, atau Buya Hamka hanya dengan sentuhan jari. Ragam perspektif meledak. Namun, transformasi medium ini juga menimbulkan distorsi yang dalam. Kebijaksanaan yang kompleks dan berlapis dipaksa masuk ke cetakan waktu yang sangat pendek. Nuansa, keraguan, perdebatan internal suatu pemikiran, seringkali terpangkas demi kepastian dan kesimpulan yang mudah dicerna. Konteks historis dan budaya menguap. Kutipan terlepas dari tubuh teks aslinya, melayang bebas di ruang digital, rentan disalahpahami atau dipelintir.

Yang paling mengkhawatirkan mungkin adalah perubahan dalam mode penerimaan. Membaca lontar atau buku menuntut kesabaran, fokus, dan waktu kontemplatif. Menonton video pendek tentang kebijaksanaan melatih otak untuk konsumsi cepat, reaksi instan, dan perpindahan perhatian yang konstan. Kita terbiasa “mengunyah” kearifan dalam potongan mikro, bukan “mencernanya” secara mendalam. Logika algoritma—yang mendorong konten berdasarkan keterlibatan emosional sesaat—bisa mendistorsi pemahaman kita tentang apa itu kebijaksanaan sejati. Pesan yang clickable dan shareable (biasanya yang emosional, kontroversial, atau terlalu disederhanakan) sering diutamakan daripada pesan yang substantif namun kompleks.

Medium baru juga mengubah siapa yang dianggap sebagai “pembawa kebijaksanaan”. Di masa lontar, otoritas berasal dari tradisi panjang, pengakuan komunitas, atau posisi sosial. Di era TikTok, otoritas bisa dibangun dari jumlah follower, keahlian editing video, atau kemampuan memanipulasi algoritma. Seorang ahli filsafat sejati mungkin kalah bersaing dengan creator yang pandai memvisualisasikan kutipan secara menarik namun dangkal. Authenticity terkadang kalah oleh aesthetic.

Apakah ini kemunduran? Tidak sepenuhnya. Setiap medium memiliki kekuatan dan kelemahannya. Lontar menjunjung sakralitas namun terbatas aksesnya. Buku membuka akses namun kehilangan unsur performatif lisan. Video pendek memiliki kekuatan audiovisual dan jangkauan yang tak tertandingi, namun berisiko merendahkan kebijaksanaan menjadi komoditas hiburan ringan. Tantangannya bukan nostalgia pada masa lalu, tapi kesadaran kritis tentang bagaimana medium membentuk pesan yang dibawanya.

Kita perlu menyadari bahwa memindahkan kearifan dari lontar ke TikTok bukan sekadar perubahan teknologi. Ini adalah transformasi radikal dalam cara kita mengalami, memahami, dan menghidupi kebijaksanaan itu sendiri. Mungkin tugas kita sekarang adalah menemukan cara untuk memanfaatkan jangkauan dan daya tarik medium baru ini tanpa mengorbankan kedalaman, ketelitian, dan konteks yang membuat kearifan benar-benar bermakna. Belajar tidak hanya mengonsumsi kearifan dalam byte digital, tetapi juga meluangkan waktu untuk merenung, berdiskusi, dan kembali pada teks-teks yang utuh—seperti menyentuh daun lontar dengan penuh hormat di tengah pusaran scroll yang tiada henti.