BAB 2: WARISAN DARI MASA LALU
Dewi menggenggam erat origami bangau di tangannya, kertas itu lembap oleh keringatnya. Setelah kejadian di kamar rias, ia berlari keluar tanpa arah, akhirnya menemukan dirinya di halte bus sepi. Lampu jalan yang berkedip-kedip membuat bayangannya bergoyang tak menentu di trotoar.
Ia membuka lipatan kertas itu dengan gemetar. Bukan sembarang kertas—tapi halaman dari buku harian tua. Tulisan tangan yang sudah memudar terbaca sebagian:
“…jika kau menemukan ini, artinya mereka sudah mendekat. Jangan percaya siapapun, bahkan bayanganmu sendiri. Cari Ardian Putra di Glodok. Hanya dia yang—”
Tulisan terputus oleh noda kecoklatan yang mirip… darah.
Dewi menelan ludah. Siapa Ardian Putra? Dan mengapa namanya membuat dadanya sesak seperti mengenal sesuatu yang seharusnya tak pernah ia ketahui?
——
Sementara itu, di kedai kopi Tak Kie, Ardian masih terpaku pada foto Dewi. Matanya menyipit ketika melihat detail kecil di foto itu—sebuah origami bangau tergeletak di meja di belakang Dewi.
“Kau kenal yang ini, Kang?” tawar Rian, teman hackernya, sambil menggeser laptop ke hadapan Ardian. Layar penuh dengan dokumen-dokumen rahasia bertanda “PROYEK RORO JONGRANG”.
Ardian menjatuhkan gelas kopinya. Di antara dokumen itu ada foto ibunya memegang bangau kertas persis seperti yang ada di foto Dewi.
“Kita harus menemui cewek ini,” desis Ardian, jarinya mengetuk-ngetuk foto Dewi.
Tapi sebelum mereka bisa bergerak, seluruh kedai tiba-tiba gelap. Listrik padam.
Di antara teriakan pelanggan yang panik, Ardian melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku—bayangan manusia di dinding yang bergerak sendiri, mendekat ke arahnya dengan gerakan tak wajar…
——
Di halte bus, Dewi tiba-tiba merasakan sakit tajam di belakang lehernya. Seperti ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya. Ia bingung melihat ke cermin kecil di dompetnya—dan hampir berteriak.
Tahi lalat bulan sabitnya… berdenyut.