Novel: GADIS DUA WAJAH – Konspirasi di Jakarta (18/20)

BAB 18: RUANG YANG MELIPAT

Dinding-dinding itu bergerak mendekat seperti mulut raksasa yang sedang mengunyah. Ardian terperangkap dalam ruangan aneh bersama tujuh versi Dewi—dari balita menggemaskan hingga wanita dewasa dengan mata kosong.

Di tengah ruangan, mesin tik tua “Butterfly 1900” mengetik sendiri:

“Generasi ke-14 gagal. Penyebab: subjek mengingat janji masa kecil. Aktifkan Generasi ke-0: reset total memori.”

Dewi versi balita tiba-tiba menjerit. Tubuh mungilnya mulai terurai seperti puzzle, potongan demi potongan terlepas dan melayang menuju mesin tik.

——

Ardian meraih tangan Dewi dewasa. “Apa maksud Generasi ke-0?”

Dewi menatapnya dengan sedih. “Kau tidak mengerti? *Kitalah Generasi ke-0.* Percobaan pertama yang gagal di tahun 1995.”

Dia menyentuh mesin tik itu. Layar kecil menyala, menampilkan video:

Rekaman 31 Desember 1999:

  • Mei Ling berlumuran darah di ruang cermin
  • Johanes Lim menusukkan jarum ke leher Ardian kecil
  • Tahi lalat bulan sabit si anak perlahan menghilang

“Subjek A-00: Memori berhasil dihapus. Siap untuk daur ulang.”

——

Tiba-tiba!

Dewi versi remaja mendorong Ardian. “Lari! Lewat cermin nomor 3!”

Tapi sudah terlambat.

Dinding-dinding itu akhirnya menyatu, menghancurkan lima versi Dewi menjadi debu digital. Hanya tersisa Dewi dewasa dan balita—keduanya saling berpegangan tangan.

Mesin tik mengeluarkan bunyi “ting!” seperti lift. Layarnya sekarang menampilkan:

“Generasi ke-0 terkonfirmasi. Memulai proses… Permainan ulang.”

——

Ardian merasakan dunia berputar. Ia melihat:

  1. Dewi dewasa menubruk mesin tik itu, tubuhnya mulai menghilang
  2. Dewi balita melemparkan sesuatu padanya—sebuah bangau origami merah
  3. Ruangan menyusut jadi titik cahaya kecil…

Dan di detik terakhir sebelum segalanya gelap, Ardian mendengar suara Dewi dewasa berbisik:

“Cari aku di antara halaman-halaman buku yang tak terbaca…”