Novel: GADIS DUA WAJAH – Konspirasi di Jakarta (13/20)

BAB 13: TARIAN TERAKHIR

Keris itu bergetar di genggaman Ardian, seolah hidup. Darah—darahnya sendiri—mulai mengalir di sepanjang bilah, membentuk huruf-huruf Jawa kuno yang bersinar merah.

“Sanggupkah kau mengorbankan kenangan terakhirmu?”

Dewi yang kini bersinar keemasan melayang di atas panggung, tubuhnya dikelilingi proyeksi hologram 13 wanita sebelumnya. Suara mereka bergema:

“Kami terjebak dalam tarian abadi… bebaskan kami…”

Ardian menatap ibunya yang setengah mesin. “Apa artinya ini? Kenapa harus kenangan?”

Mei Ling mengeluarkan microchip terakhir dari dadanya. “Karena Ronggeng Merah bukan tubuh… tapi memori yang hidup. Setiap generasi menyimpan rahasia keluarga Wijaya dalam…”

Dia menunjuk tahi lalat bulan sabit Ardian yang tiba-tiba ada di lehernya.

——

Dewi menjerit kesakitan. Cahaya dari tubuhnya mulai membentuk tali pusar emas yang menyambung ke Ardian.

“Dia sedang menyerap kenangan terakhirmu!” teriak Rian dari atas tangga. “Jika selesai, dia akan menjadi wadah sempurna!”

Ardian merasakan sesuatu tersedot dari kepalanya—

Pemandangan terakhir ayahnya tersenyum sebelum ledakan.
Aroma kue ulang tahun ibunya yang terakhir dibuat.
Janji masa kecil pada seorang gadis kecil di laboratorium…

“Dewi…?” gumamnya bingung.

——

Keris di tangannya tiba-tiba berpendar lebih terang. Ardian memahami pilihannya:

  1. Menikam Dewi – Mengakhiri rantai tapi membunuh satu-satunya orang yang ingat masa kecilnya
  2. Menikam diri sendiri – Memutus siklus dengan mengorbankan seluruh kenangannya

Dengan air mata darah, Ardian mengarahkan keris ke—

Dada sendiri.

“Aku memilih… untuk melupakan.”

Bilah keris menyala putih panas.

——

Dunia meledak dalam cahaya.

Ardian melihat 13 wanita berkebaya merah tersenyum padanya sebelum menguap. Terakhir, ibunya—Mei Ling utuh tanpa bagian mesin—menepuk dahinya.

“Kau berhasil, Anakku.”

Lalu semuanya…

Hitam.