Bab 12: Darah yang Terbagi
Pintu Aether Primordial yang terbuka sebagian mengeluarkan desisan gas ungu pekat, membentuk bayangan-bayangan bergerak seperti tangan-tangan yang mencengkeram udara. Lira merasakan tarikan aneh di dadanya—medalionnya yang retak masih memancarkan sisa energi, menyambut sesuatu dari dalam pintu.
“Kalian kira ini kekalahan?” Malrik tertawa, tangannya mengarah ke pusaran gas. “Ini adalah pemurnian! Aetheria harus dihancurkan sebelum dibangun kembali!”
Dari balik tembok air Sylas, Selene tiba-tiba berteriak:
“Jangan biarkan dia menyentuh bayangan itu!”
Tapi sudah terlambat.
Malrik melompat ke dalam pusaran gas, dan bayangan-bayangan itu menyatu dengannya. Suara jeritan menyayat telinga memenuhi ruangan saat tubuhnya berubah—tulang-tulangnya memanjang, kulitnya menjadi hitam legam, dan dari punggungnya tumbuh sayap pecah seperti kelelawar raksasa.
+++
Kael menarik Lira mundur. “Kita harus pergi—sekarang juga!”
“Tidak!” Lira melepaskan genggamannya. “Aku bisa merasakan… dia tidak sepenuhnya hilang.”
Di tengah kekacauan, visi aneh menyerangnya—dua kesadaran berperang dalam tubuh Malrik:
- Satu gelap dan penuh kebencian
- Satu lagi… mirip dengan energi ibunya
“Ada bagian dari paman saya yang masih melawan!” Lira berteriak pada yang lain.
Sylas, yang sekarang tubuh airnya mulai keruh, menganggak berat. “Darah kalian… terhubung. Itu sebabnya kau bisa merasakannya.”
Reyna yang sedang membantu Selene berdiri tiba-tiba tersentak. “Jika ada bagian dari dirinya yang masih baik—”
“Kita bisa menariknya keluar,” sambung Selene cepat. “Tapi butuh lima elemen bersatu!”
+++
Lira melihat sekeliling dengan putus asa:
- Air: Sylas sudah lemah tapi masih bisa bertahan
- Udara: Selene mengangkat tangan, angin mulai berputar di sekelilingnya
- Tanah: Reyna menghentakkan kaki, retakan membentuk pola simbol di lantai batu
- Api: Kael?
Kael menggeleng. “Aku tidak punya elemen api—”
Suara ledakan tiba-tiba mengguncang dinding jauh.
“Jangan khawatir,” suara serak yang familiar terdengar. Darien muncul dari puing-puing, tangannya memegang bola api biru. “Aku yang menangani bagian ini.”
Lira hampir menangis lega. “Kau masih hidup!”
Darien menyeringai sambil melemparkan bola api ke arah Malrik. “Kematianku masih jauh, Sayang.”
+++
Dengan semua elemen terkumpul, Lira merasakan medalionnya yang retak menjadi panas. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi, dan kelima elemen menyatu membentuk jembatan cahaya menuju tubuh Malrik!
“SEKARANG!” teriak Selene.
Lira menutup mata, fokus pada benang merah yang menghubungkannya dengan Malrik. Di dalam kegelapan pikirannya, dia melihat—
Seorang pria muda dengan mata sama seperti miliknya, terperangkap dalam sangkar energi hitam.
“Paman?” bisik Lira dalam visi.
Pria itu mengangkat kepala. “Lira? Kau… kau sudah besar.” Suaranya lembut, sangat berbeda dengan Malrik. “Tolong… bebaskan aku.”
Di dunia nyata, bayangan hitam mulai terpisah dari tubuh Malrik. Jeritannya mengerikan saat dua entitas itu perlahan terbelah—
Tapi tiba-tiba…
Medalion Lira pecah berkeping-keping!
Jembatan cahaya menghilang. Malrik (atau apa yang tersisa darinya) menjerit dalam kemenangan saat bayangan hitam sepenuhnya menguasainya lagi.
“Keterlaluan!” dia mengaum. “Tapi tidak apa—Pintu sudah terbuka cukup untuk Dia masuk!”
Dari dalam pintu, sesuatu yang lebih besar dari apapun mulai merayap keluar…
Bersambung…