Cerbung: Resep Cinta di Pasar Terong Makassar (3/3)

Bagian 3: Kontes dengan Bumbu Final

Kabut debu musim kemarau menyelimuti Makassar pagi itu, tapi di dalam ballroom Hotel Claro, AC berdesing kencang. Yuri berdiri di belakang meja kontes, jari-jarinya dingin meski memegang panci coto panas. Matanya menyapu ruangan—waswas melihat lelaki bertato naga duduk di baris juri pendamping, tersenyum sinis.

“Mereka pengembang… pasti menyusup lewat sponsor,” bisik Yusuf, merapikan dasi chefnya yang pertama kali dipakai. “Tabung bukti tanah aman?” Yuri mengangguk, menyentuh flashdisk di saku baju kebayanya. Di dalamnya, foto surat kuasa tanah 1933 dan dokumen peti VOC yang mereka foto di ruang rahasia.

Saat pembawa acara memanggil nomor mereka, Yusuf menahan lengan Yuri. “Ingat rencana kita: masak seperti biasa. Saat juri mencicipi, baru kita serang balik.” Yuri menghela napas, mencium aroma kaldu sapi yang mengingatkannya pada warung di Pasar Terong.

Tangannya mulai menari: memotong daging, menyangrai bumbu, menuangkan cuko dengan takaran lada gadang yang ditemukan di koper darurat Nyonya Lim. Yusuf mengawasi seperti konduktor, sesekali membisikkan koreksi: “Bawang putihnya setengah menit lagi…”

Tiba-tiba, lampu panggung padam. Gelap. Dentuman musik terhenti. Dalam keriuhan panik, siluet tinggi mendekati meja mereka. “Matikan kompor, atau foto telanjang ibumu tersebar besok,” suara itu mendesis di telinga Yuri. Tangannya gemetar—itu suara penagih utang. Tapi sebelum ia bereaksi, brrukk! — suara benturan keras. Yusuf telah menyergap lelaki itu ke lantai, sebuah kamera mini jatuh dari genggamannya. “Juri! Lihat ini!” teriak Yusuf ke arah kamera utama. “Pengembang mengancam peserta!”

Lampu menyala. Seluruh ruangan memandang mereka. Yuri melihat juri utama—Chef Marta—mengernyit. Ini saatnya.

Dengan suara lantang ia mulai: “Bapak-Ibu juri, coto ini bukan cuma daging dan rempah. Ini cerita Siti Maisaroh dan Li Wei, dua insan yang dipisahkan rasisme, tapi bersatu dalam cinta pada kuliner!” Layar besar di belakangnya menyala, menampilkan foto surat cinta 1957 dan peta notaris tua. Gasps meledak. “Dan tanah warung kami—”

“Bohong!” teriak pengembang di baris juri pendamping, wajahnya merah padam. “Itu dokumen palsu!” Tapi Chef Marta sudah berdiri, matanya tajam. “Saya arkeolog kuliner sebelum jadi chef,” ujarnya dingin sambil mengamati foto stempel VOC di flashdisk. “Stempel dan kertas ini asli. Dan peti di balik dinding Pasar Terong itu…” Ia menoleh ke kamera. “Pasti peninggalan gudang rempah VOC abad 18—situs cagar budaya!” Keriuhan memecah ruangan. Wartawan berkerumun.

Yuri tak menyia-nyiakan momentum. Ia menuangkan kuah coto ke mangkuk, lalu mengangkat cuko. “Resep rahasia kami adalah perpaduan: lada Sulawesi, cuka dari kebun Li Wei di Pecinaan, dan gula merah Ammatoa Kajang.”

Ia menatap pengembang yang pucat. “Seperti Makassar—beragam rasa bersatu!” Saat kuah menyentuh lidah Chef Marta, air matanya meleleh. “Ini… sejarah yang bisa dicicip!” soraknya. Yusuf memegang tangan Yuri. Di layar, skor mereka melonjak ke puncak.

Kekacauan terjadi. Polisi masuk mengamankan pengembang. Tapi di tengah sorak kemenangan, Yuri melihat Yusuf mengeluarkan sesuatu dari jas chef—sebuah kantong kecil berisi biji lada gadang dan surat usang. “Aku ke Makassar bukan cuma untuk kontes,” bisiknya, suara serak. “Nenekku keturunan Li Wei. Surat ini… wasiatnya untuk mengembalikan lada gadang ke keturunan Siti Maisaroh.” Yuri tercekat. Selama ini, resep yang direstui darah telah menyatukan mereka.

Enam bulan kemudian, di Pasar Terong yang ramai, warung “Coto Nenek” berdiri megah dengan plakat Cagar Budaya. Di sebelahnya, kedai “Coto Cinta” milik Yusuf memancarkan aroma baru: coto dengan sentuhan tahu pong dan saus jahe—persembahan untuk leluhur Tionghoa.

Yuri tersenyum melihat Yusuf mengajar anak-anak membuat cuko, caping anyaman miring di kepalanya. “Masih kurang greget?” godanya. Yusuf menepuk debu di pipinya. “Sempurna, seperti pemilik warungnya.”

Senja musim kemarau menyapu lorong pasar, meninggalkan langit jingga seperti kuah coto. Yuri menggenggam resep tua Siti Maisaroh dan secangkir lada gadang dari Yusuf. Di dinding, foto baru menggantung: kakek buyutnya dan Li Wei muda, disatukan dalam bingkai. Ia mencicipi cuko dari wajan—pedas menyatukan, asam mengingatkan, manis merasuk pelan. Di luar, debu menari di udara, tak lagi seperti ancaman, tapi seperti rempah yang melegenda.

Abadi, walau zaman berganti.

TAMAT