Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (11/23)

Bab 11: Pintu Pertama

Lira meraih tangan ke depan, tapi sosok ibunya sudah menghilang—meninggalkan lima pintu elemen yang berdenyut seperti jantung hidup. Dari kejauhan, suara Selene memanggil namanya, tapi teredam seolah datang dari balik lapisan kaca tebal.

“Pilih dengan hati, bukan dengan takut,” bisik terakhir ibunya masih bergema di kepalanya.

Dengan langkah goyah, Lira mendekati Pintu Air—elemen yang paling dekat dengannya sejak di penjara. Begitu tangannya menyentuh permukaan biru itu, seluruh ruangan bergemuruh…

+++

Dia tersentak kembali ke realita. Selene sedang mengguncang bahunya, wajahnya panik.

“Kau menghilang selama 3 menit!” desis Selene. “Apa yang—”

Lira tidak sempat menjawab. Rantai di pergelangannya tiba-tiba berubah warna dari hitam menjadi biru pucat. Tetesan air dari langit-langit yang awalnya jatuh acak kini bergerak membentuk spiral di atas telapak tangannya.

Selene tersenyum liar. “Kau berhasil mengaktifkan elemen pertama!”

Tapi kemenangan mereka singkat. Suara langkah kaki berat mendekat dari luar sel.

“Persiapan sudah dimulai,” suara kasar seorang pengawal Ordo menggema. “Bawa tahanan ke Ruang Pembukaan.”

+++

Dengan cepat, Selene menyembunyikan jarum dan berpura-pura masih terbelenggu. Dua pengawal bertopeng perak masuk, menarik mereka berdua dengan kasar.

Saat dibawa melalui koridor melingkar, Lira melihat pemandangan mengerikan melalui jendela kristal—ratusan tahanan dirantai di tepi danau, energi elemental mereka disedot melalui tabung menuju pusat ruangan dimana Pintu Aether Primordial mulai terlihat samar-samar.

“Monster,” geram Selene.

Mereka dibawa ke platform batu di atas danau. Di sana, Malrik berdiri dengan jubah baru, dikelilingi oleh lima tiang batu yang masing-masing diukir simbol elemen.

“Ah, keponakanku bangun!” sambutnya dengan sarkasme. “Kau tepat waktu untuk acara utama.”

Dia mengangkat tangan, dan medalion Lira—yang sekarang menggantung di leher Malrik—bersinar merah menyala.

“Dalam beberapa jam, darahmu akan membuka segel terakhir,” lanjutnya. “Tapi pertama…”

Dia menunjuk ke tiang batu. “Kau akan menyelesaikan apa yang kau mulai di ruang visimu.”

Lira melihat lebih dekat—Pintu Air dari mimpinya ternyata adalah salah satu tiang batu itu!

“Pilih salah satu elemen untuk diaktifkan,” bisik Selene. “Ini kesempatan kita—aku punya rencana.”

Tapi sebelum Lira bisa memutuskan, teriakan memecah konsentrasi.

“LIRA!”

Dia menoleh—dan melihat Kael dan Reyna bertarung dengan puluhan pengawal di jembatan sebelah! Kael masih pincang tapi bertarung dengan amarah, pedangnya menghujam seperti petir. Reyna melompat dari satu musuh ke musuh lain, tapi jumlah mereka terlalu banyak.

Malrik menggeram. “Pengganggu.”

Dia mengangkat tangan untuk melepaskan energi gelap—tapi tiba-tiba seluruh danau bergolak!

Airnya membentuk pusaran raksasa, dan dari dalamnya muncul…

Sylas.

Tapi bukan lagi makhluk setengah kayu—tubuhnya sekarang sepenuhnya terbuat dari air murni, dengan mata hijau bersinar.

“Kau terlambat, Penjaga,” sergah Malrik.

Sylas tidak menjawab. Alih-alih, dia mengubah tangannya menjadi semburan air yang menghantam Malrik hingga terpelanting!

Kekacauan pecah.

“SEKARANG!” teriak Selene.

Dia menarik Lira ke tepi platform tepat ketika Sylas menciptakan tembok air memisahkan mereka dari Malrik.

“Pilih tiangnya!” Selene mendesak sambil melemparkan sesuatu ke arah Kael—sebuah pisau kecil yang langsung ditangkapnya.

Lira berlari ke Pintu Air. Begitu tangannya menyentuh tiang, seluruh tubuhnya terangkat oleh semburan air ajaib!

Di bawah, Kael dan Reyna berhasil mencapai platform.

“Kita harus pergi!” teriak Reyna.

Tapi Lira tahu mereka tidak bisa kabur—tidak sebelum menghentikan ritual.

Dengan teriakan, dia mendorong seluruh energinya ke tiang batu—dan dunia meledak dalam cahaya biru.

Ketika penglihatannya kembali, Lira melihat sesuatu yang mengerikan…

Malrik berdiri di depan Pintu Aether Primordial yang sekarang terbuka sebagian—dan di tangannya, tergenggam medaliun yang sudah retak.

“Terima kasih, keponakanku,” ujarnya penuh kemenangan. “Kau baru saja membuka jalan bagi Aether Gelap untuk bangkit!”


Bersambung…