Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (18/23)

Bab 18: Serpihan Cahaya

Kael menatap kosong ke tangannya yang kini hampa. Partikel cahaya Lira masih berkilauan di udara seperti debu berlian yang tertiup angin, perlahan menghilang ke segala penjuru.

“Kita harus kumpulkan mereka!” teriak Reyna, berlari ke arah partikel-partikel itu dengan tangan terulur. Tapi butiran cahaya itu menghindar seperti hidup, melayang lebih tinggi dan lebih jauh.

Selene berdiri dengan wajah pucat, tangan menekan luka di perutnya. “Tidak semudah itu… Dia bukan lagi manusia, tapi esensi cahaya murni sekarang.”

+++

Di reruntuhan Kuil Kegelapan yang kini disinari Matahari Abadi, mereka menemukan Darien—tubuhnya kembali normal, tanpa jejak kristal ungu.

Dia tersungkur di lantai, napas tersengal. “Aku… Aku bisa mendengarnya selama ini… suaranya di kepalaku…”

Kael menghunus pedang. “Kau pantas mati.”

“Tunggu!” Selene menahan tangannya. “Dia korban, sama seperti Malrik. Dan mungkin satu-satunya yang tahu cara mengembalikan Lira.”

Darien mengangkat wajah penuh air mata. “Partikel cahayanya… mereka akan tertarik ke tempat-tempat dengan ingatan kuat tentangnya.”

+++

Mereka berpisah:

  • Kaelkembali ke desa Lira yang hancur
  • Reyna & Selenemenuju Kuil Udara tempat Sylas gugur
  • Darien(dirantai) diajak ke Danau Terbalik

Perjalanan Kael paling pilu. Di puing-puing rumah Lira, dia menemukan butiran cahaya kecil melayang di atas batu perapian. Saat dipegang, partikel itu memperlihatkan kilasan ingatan:

  • Lira kecil sedang tertawa, mengulurkan tangan ke ibunya
  • Lira remaja memandang langit, bermimpi melihat dunia

“Kita akan membawamu pulang,” Kael berbisik, menyimpan partikel itu di kantong kulit bercahaya pemberian Selene.

+++

Di Kuil Udara, sesuatu yang ajaib terjadi.

Begitu Reyna memasuki ruangan tempat Sylas gugur, partikel cahaya muncul dari dinding air, membentuk sosok Lira kecil yang tersenyum sebelum pecah lagi.

“Dia… dia ada di dalam elemen itu sendiri,” Selene tersentak.

Tapi yang paling mengejutkan terjadi di Danau Terbalik.

Saat Darien menyentuh air, seluruh danau bersinar biru terang, dan dari dalamnya muncul:

Sylas—dalam wujud baru, tubuhnya setengah air setengah cahaya.

“Kalian terlambat,” suaranya bergema. “Dia sudah mengumpulkan mereka.

Dia mengangkat tangan, dan di telapaknya muncul proyeksi:

Seorang anak laki-laki berambut cokelat sedang berlari di padang rumput, dikelilingi butiran cahaya yang familiar…

“Lira?” Reyna terkesiap.

Sylas menggeleng. “Bukan. Tapi darahnya… sama. Keturunan lain dari garis darah Penyatu.”

+++

Kembali di perkemahan, mereka menggabungkan temuan:

  • 17 partikelcahaya (dari total yang diperkirakan 100+)
  • Anak misteriusyang bisa mengumpulkan cahaya
  • Fakta mengejutkan: Lira mungkin bukan Penyatu terakhir

Selene memandang langit malam. “Kita butuh bantuan. Dan aku tahu harus mencari siapa.”

Dia mengeluarkan lonceng perak dari sakunya—lonceng yang hanya dimiliki…

Para Penjaga Cahaya.


Bersambung…