Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (1/23)

Bab 1: Aether Gelap

Lira mengayunkan sabitnya dengan lancar, memotong rumput-rumput liar di tepi hutan. Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas ladang gandum yang menguning, dan udara berbau seperti tanah basah setelah hujan. Desa Elmsworth, tempatnya tinggal sejak kecil, selalu tenang—terlalu tenang, menurutnya.

“Aku ingin sesuatu yang berbeda,” bisiknya pada angin, seolah berharap alam akan menjawab.

Tiba-tiba, gemuruh menggelegar di kejauhan. Lira menoleh ke arah barat, tempat pegunungan Aetheria menjulang. Langit yang semula biru berubah gelap, seperti dilahap oleh bayang-bayang hitam yang merayap cepat.

“Apa itu…?”

Angin berubah dingin. Burung-burung berhamburan panik dari pepohonan. Lira merasakan getaran aneh di tanah, seperti sesuatu yang sangat besar sedang bergerak.

Kemudian, ia melihatnya.

Gulungan awan hitam pekat bergulung-gulung seperti asap, tetapi bukan asap biasa—ini seperti hidup, seperti memiliki kesadaran sendiri. Awan itu melahap pepohonan, menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya.

“AETHER GELAP!” teriak seseorang dari desa.

Lira berlari. Rumah-rumah kayu mulai bergetar, atap jerami beterbangan seperti diterbangkan badin. Ia melihat ibu Rina berusaha menarik anaknya keluar dari rumah yang hampir roboh. Tanpa pikir panjang, Lira membantu mereka, menarik tangan si kecil dengan erat.

“Lari ke gua di bukit!” teriaknya.

Tapi sudah terlambat.

Awan hitam itu tiba-tiba berbelok—seperti merasakan kehadirannya. Lira merasakan tarikan aneh, seperti sesuatu di dalam dirinya memanggil kegelapan itu.

Dan kemudian, dunia meledak.

Sebuah sinar putih menyambar dari langit, menghalau awan hitam sejenak. Lira tersungkur, matanya perih oleh debu dan asap. Ketika ia membuka mata kembali, seorang lelaki bertudung hitam berdiri di depannya, pedang pendek di tangannya menyala dengan aura biru.

“Kau masih hidup?” suaranya kasar, tapi tidak berniat jahat.

Lira mengangguk, masih tercekat.

“Kalau begitu, kita harus pergi. Sekarang.”

Ia menarik tangan Lira dengan kasar, menyelamatkannya tepat sebelum Aether Gelap menghancurkan tempat ia berdiri.
Lira tidak mengerti apa yang terjadi. Satu hal yang ia tahu—hidupnya tak akan pernah sama lagi.


Bersambung…