Bab 3: Rahasia Darah Biru
Kabut pagi menyelimuti lembah sempit di antara dua tebing curam. Lira menggigil, memeluk tubuhnya sendiri sisa kedinginan setelah berenang di sungai. Kael berjalan beberapa langkah di depannya, tanpa sepatah kata pun sejak mereka melarikan diri dari desa.
“Kita berhenti sebentar,” akhirnya Kael memecah kesunyian, menunjuk ke sebuah gua kecil tersembunyi di balik semak berduri.
Lira mengangguk lemas. Kakinya sudah berbobot seperti timah, tapi pikirannya masih berputar kencang. Penyatu. Ordo Kegelapan. Kristal yang menyentuh kulitku…
Begitu masuk ke dalam gua, Kael segera menyalakan api kecil dengan gesit—tanpa pemantik, hanya dengan menggesekkan dua bilah logam yang mengeluarkan percikan aneh berwarna kebiruan.
“Kau juga punya kekuatan Aether?” tanya Lira penasaran.
“Bukan.” Kael menjawab singkat. “Ini hanya trik.”
Tapi Lira tidak percaya. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu, dan ia berniat mengetahuinya.
“Kenapa Ordo Kegelapan memburu Penyatu?” tanyanya lagi, kali lebih berani.
Kael menghela napas, lalu mengeluarkan sepotong roti keras dari kantongnya dan membaginya menjadi dua. “Karena Penyatu bisa mengendalikan kelima elemen Aether. Dan itu membuatmu… berharga.”
“Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa!” bantah Lira.
“Belum.” Kael menatapnya tajam. “Kau bahkan tidak menyadari ketika elemen udara membantumu berlari lebih cepat tadi, atau ketika elemen air membantumu bernapas lebih lama di sungai.”
Lira terkesiap. Ia memang merasa aneh—seperti ada energi asing yang mengalir membantunya tanpa sadar.
“Lalu kenapa kau membantuku? Kau bilang mereka membayarmu.”
Sekejap, wajah Kael menjadi dingin. “Aku pernah menjadi bagian dari Ordo itu. Sampai mereka membunuh seseorang yang penting bagiku.”
Suasana mendadak tegang. Lira ingin bertanya lebih jauh, tapi geraman binatang buas di kejauhan mengingatkan mereka bahwa bahaya tidak hanya datang dari manusia.
“Tidurlah,” kata Kael memutus pembicaraan. “Besok kita sampai di perbatasan Avalon. Dan kau harus siap—kota itu bukan tempat yang ramah.”
Lira memejamkan mata, tapi tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi bayangan desanya yang hancur, dan kata-kata terakhir ibunya sebelum meninggal:
“Darah kita adalah rahasia, Lira. Jangan biarkan mereka menemukanmu.”
Sekarang ia mengerti.
Di luar gua, bulan purnama bersinar terang, menebarkan cahaya keperakan di atas pepohonan. Sesosok bayangan mengamati mereka dari jauh—sepasang mata merah menyala di balik kegelapan.
Bersambung…