Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (22/23)

Bab 22: Gua Dua Ratu

Dinding gua yang berdenyut ungu mengeluarkan cahaya fosfor aneh, memperlihatkan ukiran-ukiran kuno di permukaannya—dua wanita identik saling berhadapan, satu memegang matahari, satu memegang bulan.

Arin mulai sadar, tangannya yang berpendar emas menyentuh ukiran itu. “Aku… mengenal mereka.”

Suara cekikikan semakin dekat. Kael menyalakan obor, mengarahkannya ke lorong gua—

Bentuk-bentuk kristal hidup merayap di langit-langit seperti laba-laba, tubuh transparannya berisi asap hitam.

“Jangan biarkan mereka menyentuhmu!” peringat partikel cahaya Lira yang kini melayang membentuk perisai kecil.

+++

Mereka menyusuri lorong sempit, terkadang harus merangkak di bawah stalaktit kristal yang tumbuh aneh. Arin tiba-tiba berhenti di depan celah sempit yang dihiasi simbol matahari dan bulan bersatu.

“Di sini,” bisiknya, menyentuh simbol itu. Pintu batu terbuka tanpa suara.

Ruangan dalamnya membuat Kael terkesima—sebuah kuil miniatur dengan dua tahta batu, dan di atasnya…

Dua kerangka duduk tegak, masing-masing memakai mahkota berbeda:

  • Satu dari emas dengan batu matahari
  • Satu dari perak dengan batu bulan

Arin berjalan maju seperti dalam trance. “Aku tahu tempat ini… Ini adalah Ratu Cahaya dan Ratu Kegelapan.”

+++

Partikel Lira tiba-tiba bersinar terang:
“Kembar… selalu ada dua… satu untuk membuka… satu untuk menutup…”

Kael mulai mengerti. “Lira dan Arin… kalian adalah—”

“Penerus mereka,” selesaikan Arin, matanya kini sepenuhnya berwarna emas. “Tapi sesuatu tidak beres… seharusnya ada keseimbangan.”

Dari kerangka Ratu Kegelapan, medalioun perak melayang ke tangan Arin—pasangan dari medalioun Lira.

Tiba-tiba seluruh gua berguncang.

“Mereka masuk!” peringat Kael.

+++

Di lantai kuil, simbol lingkaran konsentris mulai berpendar di bawah kaki mereka. Arin tanpa ragu menginjak tengahnya sambil memegang kedua medalioun—emas dan perak.

“Kita tidak bisa melawan mereka sekarang,” ujarnya dengan suara yang tiba-tiba sangat dewasa. “Aku tahu tempat aman.”

Cahaya menyilaukan memenuhi ruangan. Saat Kael bisa melihat lagi, mereka sudah berdiri di…

Istana Aetheria yang Tenggelam, dikelilingi oleh Selene dan para Penjaga Cahaya yang terkejut.

“Bagaimana kau—” Selene terbelalak.

Arin tersenyum lemah sebelum kolaps. “Aku membawa kita… ke tempat partikel Lira terbanyak…”

Di sekeliling mereka, ratusan partikel cahaya berputar-putar seperti kunang-kunang, mulai membentuk siluet manusia


Bersambung…