Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (8/23)

Bab 8: Persembunyian yang Terkuak

Buku hidup itu menutup sendiri dengan suara gemerisik daun kering. Ruangan kembali sunyi, hanya diisi oleh desau angin aneh yang berputar di antara rak-rak buku yang sudah menjadi bagian dari hutan mini ini.

Lira masih gemetar, ingatan tentang kehancuran Aetheria dan wajah Malrik yang kejam membekas di pikirannya.

“Jadi… aku hanya sebuah kunci?” suaranya pecah, lebih kepada dirinya sendiri daripada yang lain.

Sylas mengeluarkan suara yang mungkin adalah tawa—suara berderak seperti ranting patah. “Kau lebih dari itu, anak darah biru. Tapi Ordo memang melihatmu sebagai alat.”

Kael mengeratkan genggaman pada pedangnya. “Kita harus keluar dari sini. Jika Ordo tahu lokasi perpustakaan ini—”

“Sudah terlambat,” potong Sylas tiba-tiba, kepalanya menoleh ke arah langit-langit seperti mendengar sesuatu. “Mereka datang.”

+++

Reyna langsung masuk ke mode pertahanan, pedang kembarnya berkilau. “Ada terowongan darurat di balik rak ketujuh.”

Tapi sebelum mereka sempat bergerak, seluruh bangunan gemetar. Suara ledakan keras mengguncang dinding, memecahkan beberapa kristal di pintu masuk.

“Penghancur Aether!” teriak Darien. “Mereka bawa artileri berat!”

Lira merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—seperti tarikan magnetik ke arah luar. “Ada sesuatu… atau seseorang… yang memanggilku.”

Sylas tiba-tiba menjadi sangat waspada. “Itu Malrik. Dia merasakan kehadiranmu.”

Jendela-jendela kaca pecah berantakan ketika tiga sosok bertopeng perak meluncur masuk. Berbeda dengan Kanrak, mereka tidak berbicara—hanya menyerang dengan presisi mematikan.

Kael dan Reyna langsung menghadang, sementara Darien menarik Lira ke belakang.

“Kita harus pergi sekarang!” teriaknya.

Tapi Lira tidak bisa bergerak. Suara itu—panggilan Malrik—terlalu kuat. Matanya berkunang-kunang, dan tanpa sadar, tangannya mengeluarkan cahaya kebiruan lagi.

+++

Dunia di sekitarnya seakan menghilang. Dalam visinya, Lira melihat sebuah ruang bundar besar dengan pintu raksasa di tengahnya. Di depan pintu itu berdiri Malrik—wajahnya sekarang setengah hancur, mata kirinya menyala merah.

“Lira,” suaranya menggema di kepalanya. “Kau akhirnya mendengar panggilan darahmu.”

Lira berusaha melawan, tapi visi itu terlalu kuat. Dia melihat detail pintu raksasa itu—ukiran lima elemen, dengan sebuah lubang kunci berbentuk seperti…

“Medalionmu,” bisik Sylas tiba-tiba di telinganya, menariknya kembali ke realita.

Lira terisap napas dalam, visinya buyar. Di sekelilingnya, pertarungan masih berkecamuk. Salah satu penyusup bertopeng sudah terbaring tak bergerak, tapi Kael juga terluka—luka di pahanya mengucurkan darah deras.

“Reyna, sekarang!” teriak Darien.

Reyna mengeluarkan sesuatu dari sabuknya—sebuah bola kristal kecil—dan menghancurkannya di lantai. Asap tebal langsung memenuhi ruangan.

“Terowongan! Cepat!” pekik Reyna.

Mereka berlari melewati rak buku ketujuh yang ternyata adalah ilusi—di baliknya ada lorong sempit yang langsung menutup setelah Sylas—yang terakhir masuk—melangkah masuk.

+++

Di dalam kegelapan terowongan, hanya napas terengah-engah yang terdengar. Kael tersandung, lukanya lebih parah dari yang terlihat.

“Kita tidak bisa terus seperti ini,” gerutu Reyna sambil merogoh kantong obat di pinggangnya.

Lira masih gemetar, tangannya memegang medalioun yang selalu ia bawa—hadiah terakhir ibunya. Sekarang ia tahu kebenarannya: ini bukan sekedar perhiasan.

“Ini kuncinya,” bisiknya. “Untuk Pintu Aether Primordial.”

Sylas mendekat, cahaya hijaunya menerangi kegelapan. “Dan sekarang kau tahu mengapa Ordo takkan pernah berhenti memburumu.”

Dari jauh, suara gemuruh masih terdengar—Ordo terus menghancurkan perpustakaan. Tapi ada sesuatu yang lebih mengerikan…

Suara langkah kaki berat, diikuti dengusan nafas yang tidak sepenuhnya manusiawi.

“Dia datang,” mata Sylas melotot ketakutan. “Malrik… dalam wujud sebenarnya.”


Bersambung…