Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (14/23)

Bab 14: Bangkit dari Kegelapan

Kesadaran kembali kepada Lira dalam gelombang. Pertama, ia mencium aroma rempah-rempah dan daun penyembuh. Kemudian, suara gemerisik kain dan bisikan-bisikan pelan. Terakhir, rasa sakit—seperti setiap inci tubuhnya dipenuhi bara yang perlahan mendingin.

Dia membuka mata dengan susah payah.

Langit.

Bukan langit penjara bawah tanah, melainkan langit biru bersih dengan awan putih yang berarak pelan. Lira berbaring di atas dipan kayu sederhana, diselimuti kain linen yang kasar tapi nyaman. Di sekelilingnya, tenda-tenda kulit berjajar rapi di antara pepohonan tinggi.

“Selamat datang kembali, Penyatu.”

Kepalanya berpaling ke sumber suara. Reyna duduk di sebelahnya, wajahnya yang biasanya keras sekarang terlihat lelah tapi lega. Di belakangnya, Kael berdiri dengan lengan bersilang—luka di pahanya sudah dibalut, tapi matanya masih gelap oleh kekhawatiran.

“Di mana… kita?” suara Lira serak.

“Perkemahan Suku Angin, di perbatasan timur Avalon,” jawab Reyna sambil membantu Lira duduk. “Kau sudah tidur selama lima hari.”

+++

Cerita mereka sambung-menyambung:

  • Setelah pertarungan di Danau Terbalik, Selenemembawa mereka kabur melalui terowongan rahasia.
  • Darienmenghilang lagi—”Biasa si pengkhianat lucu itu,” gerutu Kael.
  • Suku Angin, sekutu lama Reyna dan Selene, memberi mereka perlindungan.
  • Yang paling mengejutkan: Avalon sekarang dikepung oleh Ordo Kegelapanyang kacau setelah Malrik “hilang”.

“Dan Sylas…?” tanya Lira meski sudah tahu jawabannya.

Reyna menunduk. Kael menjawab dengan keras: “Gugur. Tapi air danau di sana sekarang bersinar biru di malam hari—seperti ingatannya masih hidup.”

Lira mengepalkan tangan. Di telapaknya, simbol lima elemen sekarang tergambar permanen seperti tato—bukti penyatuannya dengan semua elemen.

“Ada kabar buruk lagi,” Reyna mengambil napas dalam. “Meski pintu terkunci, sebagian kecil Aether Primordial berhasil lolos.”

+++

Malam itu, di bawah cahaya bulan, Lira mencoba kekuatan barunya.

Dengan konsentrasi, dia bisa:

  • Memanggil embundari udara kering
  • Menghangatkan tangan dengan api minitanpa bahan bakar
  • Merasakan denyut kehidupandi bawah tanah

Tapi setiap kali dia mencoba menyentuh elemen kelima—cahaya—rasanya seperti menjamah kawat berduri.

“Kau memaksanya.”

Lira terkejut. Selene berdiri di baliknya, rambut peraknya berkilau di bawah bulan.

“Elemen terakhir bukan untuk dikendalikan,” lanjut Selene. “Tapi untuk dipahami.”

Dia mengangkat lengan bajunya—tato cahaya di kulitnya ternyata mirip dengan simbol di tangan Lira, tapi lebih kompleks.

“Kau…” Lira tersadar. “Kau juga Penyatu?”

Selene menggeleng. “Bukan seperti dirimu. Aku Penjaga Cahaya—manusia biasa yang dipilih elemen ini.” Matanya menerawang. “Dan sekarang, dengan Aether Primordial yang mulai menyebar, kita butuh lebih banyak Penjaga.”

+++

Keesokan pagi, mereka berkumpul di sekitar api unggun.

“Rencananya sederhana,” kata Selene menggambar peta di tanah. “Kita harus memurnikan kembali lima Kuil Elemen untuk memperkuat segel pintu.”

“Dimulai dari mana?” tanya Kael.

Selene menunjuk sebuah gunung jauh. “Kuil Cahaya, tempat segalanya bermula.”

Lira mengamati simbol di tangannya. Sesuatu memberitahunya bahwa perjalanan ini akan mengungkap rahasia kelahirannya—dan mengapa Aether Primordial begitu tertarik padanya.

Di kejauhan, awan hitam kecil mulai membentuk wajah yang mengerikan…


Bersambung…