Bab 17: Pengorbanan Cahaya
Lira merasakan panas menyebar dari tato di tangannya, membakar hingga ke tulang. Di depan, Darien—atau apa pun yang merasuki tubuhnya—memegang berkas cahaya terakhir Matahari Abadi dengan tangan berlapis kristal ungu.
“Kau tidak mengerti, Lira,” suaranya bergema ganda, seperti dua entitas berbicara bersamaan. “Aku bukan ingin menghancurkan dunia—aku ingin menyempurnakannya.”
Selene melangkah maju, pedang cahayanya bergetar. “Dengan membunuh ribuan orang? Dengan mengorbankan Penyatu?”
“Dengan menciptakan keseimbangan baru!” raung Darien.
+++
Lira tidak mendengarkan. Matanya tertuju pada cahaya di tangan Darien. Sesuatu di dalamnya… memanggilnya.
Tanpa berpikir, dia berlari.
“LIRA, TIDAK!” teriak Kael.
Tapi sudah terlambat.
Lira menyentuh cahaya itu, dan dunia meledak dalam putih.
+++
Dia berdiri di ruang tanpa batas, dikelilingi oleh:
- Ibunya, dengan separuh wajah terbakar
- Malrik muda, sebelum pengkhianatannya
- Lima Penyatu sebelumnya, masing-masing memegang elemen
“Kau harus memilih,” kata ibunya dengan suara hampa. “Menyatukan cahaya… atau menjadi perisainya.”
Di luar visi, Lira mendengar jeritan—Kael, Reyna, Selene—mereka sedang berjuang melawan Darien yang sekarang berubah menjadi monster kristal.
Lira melihat tangannya sendiri mulai berubah menjadi cahaya.
“Jika aku menyatukannya… aku akan hilang, bukan?”
Malrik muda mengangguk. “Tapi dunia akan selamat.”
Para Penyatu sebelumnya mengulurkan tangan. “Kami akan membantumu.”
Lira menarik napas. Dia melihat kembali—ke desanya yang hancur, ke Kael yang terus berjuang meski terluka, ke Selene dan Reyna yang tak pernah menyerah…
+++
Di dunia nyata, tubuh Lira bersinar terang.
Darien berteriak ketakutan ketika cahaya itu menelan kristal ungu di tubuhnya.
“TIDAK! AKU—”
Suaranya teredam ketika cahaya menyebar ke seluruh kuil, menyembuhkan retakan di dinding, memurnikan kolam hitam, dan—
Matahari Abadi muncul kembali di tengah ruangan, utuh dan bersinar lebih terang dari sebelumnya.
Tapi Lira…
Lira terjatuh, tubuhnya tembus pandang seperti kaca.
Kael menangkapnya tepat sebelum menyentuh tanah. “Tidak… TIDAK!”
Di tangannya, Lira hanya tersenyum lemah. “Dia… pergi. Untuk sementara.”
Selene berlutut di sampingnya, air mata mengalir. “Kau tahu ini akan terjadi.”
Lira mengangguk pelan. Tato di tangannya sekarang berubah bentuk—menjadi simbol matahari dikelilingi lima elemen.
“Tapi aku… belum selesai,” bisiknya sebelum tubuhnya pecah menjadi jutaan partikel cahaya, menyebar ke angin.
Bersambung…