Novel: Aetheria. Perang Cahaya dan Bayangan (10/23)

Bab 10: Sangkar Emas

Kesadaran kembali kepada Lira secara bertahap. Pertama, ia merasakan dingin—lantai logam yang menempel di pipinya. Kemudian, suara gemericik air yang menetes di suatu tempat gelap. Terakhir, bau anyir besi dan sesuatu yang manis secara tidak alami, seperti bunga yang mulai membusuk.

Dia membuka mata.

Sel penjara berbentuk heksagonal mengelilinginya, dindingnya bukan jeruji besi biasa tetapi kristal ungu yang berpendar lembut. Di luar, kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh cahaya pucat dari atas—sebuah lubang kecil di langit-langit tinggi.

Lira mencoba menggerakkan tangan, tapi rantai dengan simbol aneh mengikat pergelangannya, menghambat kekuatannya.

“Jangan sia-siakan tenagamu,” suara perempuan yang tidak asing menggelegar dari kegelapan.

Dari bayangan, seorang wanita dengan ramperak pendek melangkah maju—Selene, penyelamat misterius mereka di Kuil Udara. Tapi sekarang bajunya yang biru sudah compang-camping, dan ada luka bakar aneh di lengan kirinya yang berbentuk seperti rantai.

“Kau—” Lira terbatuk, tenggorokannya kering. “Apa yang terjadi? Di mana yang lain?”

Selene mengangkat tangan, menunjukkan rantai serupa di pergelangannya. “Kael dan Reyna selamat. Sedangkan kita…” Dia menunjuk ke sekitar. “Kita ada di Sangkar Emas, penjara khusus Ordo untuk Penyatu.”

+++

Dari cerita Selene, Lira mulai memahami:

  1. Sangkar Emasadalah struktur terapung di atas Danau Aether Terbalik—tempat dimana energi elemental paling kacau.
  2. Rantai di tangan mereka disebut Belenggu Malrik, diciptakan khusus untuk menekan kekuatan Penyatu.
  3. Selene telah menyusup ke Ordo selama 3 tahun sebagai tahanan untuk mengumpulkan informasi.

“Lalu kenapa kau tidak kabur?” tanya Lira.

Selene tersenyum pahit. “Karena baru sekarang kunci untuk rencana mereka akhirnya muncul—yaitu kamu.”

Tiba-tiba, dinding kristal bergetar. Sebuah proyeksi muncul—wajah Malrik yang rusak, tapi kali ini dengan mahkota hitam di kepalanya.

“Selamat datang di tahap terakhir, keponakanku,” suaranya menggema di seluruh sel. “Dalam 12 jam, bulan purnama Aether akan mencapai puncaknya. Dan kau akan membantu pamanmu membuka pintu.”

Proyeksi menghilang, meninggalkan mereka dengan jam pasir raksasa yang muncul tiba-tiba di tengah sel, butiran pasirnya sudah mulai jatuh.

+++

Selene segera bekerja. Dari lipatan bajunya, dia mengeluarkan jarum logam kecil yang diukir dengan simbol angin.

“Aku menyimpan ini selama 3 tahun,” bisiknya sambil mencoba membuka belenggunya. “Elemen terkunci, tapi simbolnya masih bisa dimanipulasi.”

Lira memperhatikan dengan seksama saat Selene menusukkan jarum ke bagian tertentu belenggunya. Dengan “klik” kecil, sebagian rantai terbuka.

“Kau bisa melakukannya juga,” Selene melemparkan jarum kedua. “Fokus pada elemen yang paling dekat denganmu—air dari tetesan di langit-langit.”

Lira mencoba. Dengan tangan gemetar, dia menusukkan jarum—dan dunia sekelilingnya berubah.

Dia tiba-tiba berdiri di ruang tak berbentuk, dikelilingi oleh 5 pintu:

  • Pintu Api (merah)
  • Pintu Air (biru)
  • Pintu Udara (putih)
  • Pintu Tanah (coklat)
  • Pintu Cahaya (emas)

Dan di tengahnya, sosok wanita dengan rambut sama seperti miliknya sedang menunggu.

“Ibu?” Lira berbisik.

Wanita itu tersenyum sedih. “Waktunya hampir habis, sayang. Kau harus memilih.”

“Memilih apa?”

“Pintu mana yang akan kau buka pertama.”


Bersambung…