Novel: Bisikan Gletser di Hati Eiger (9/12)

BAB 9: DENGAR GEMURUH ES & LUKA YANG MEMBENTU DI EIGERGLETSCHER

Kabut di Danau Bachalpsee telah beralih menjadi gerimis membeku. Pisau Lukas di genggaman Rania terasa berat—seperti amanat yang dipaksakan. Di kejauhan, helikopter ke Maldives mungkin sedang menunggu. Tapi bisikan terakhir Arno menggema: “Wenn der Gletscher flüstert… hör zu.”

Ponselnya berdering. Lea.

“Er ist nicht auf der Nordwand. Arno berbohong.”
Lampiran: Peta jalur GPS Arno—berhenti di Stollenloch, gua es di Eigergletscher.

Rania menatap jalur merah di ponsel. Stollenloch—bukan Eiger Nordwand. Mengapa Arno berbohong?

Grindelwald Terminal ramai oleh pendaki. Di stan penyewaan alat, Rania bertemu Fritz (pemilik Berggasthaus Lauterbrunnen).
Gletscherspalten! Retakan es berbahaya di Eigergletscher sekarang!” peringatannya. “Salju musim semi melemahkan snow bridges.”
“Arno ada di sana.”
Fritz memandang tajam. Lalu, ia menyodorkan tali khusus gletser (Gletscherseil), crampon, dan ice axe. “Kau butuh partner. Aku ikut.”

Kereta Wengernalp membawa mereka naik. Melalui jendela, Eigergletscher terlihat—lidah es raksasa penuh retakan biru (crevasses) seperti cakar naga. Di ujungnya, mulut gua Stollenloch menganga gelap.

“Gua itu terowongan tambang abad 19,” terang Fritz. “Tapi bagian dalamnya tersambung ke gletser.”

Dingin menusuk saat mereka masuk. Lampu kepala menyoroti dinding batu basah dan rel kereta rusak. 200 meter ke dalam, pemandangan berubah drastis: dunia es biru. Langit-langit gua dipenuhi stalaktit es, lantainya mengkilap oleh lapisan firn (salju tua). Suhu turun drastis.

Hörst du?” bisik Fritz.

Gemuruh rendah bergema di dinding es. Seperti raungan bawah tanah.

Gletscherflüstern,” Fritz menjelaskan. “Bisikan gletser. Gesekan es di batuan dasar. Arno mungkin meneliti pergerakan gletser untuk proyek konservasi—tapi kenapa sendirian?”

Jejak sepatu Arno terlihat di lapisan firn. Mereka menyusuri terowongan es. Tiba-tiba—suara jeritan manusia!

“ARNO!” Rania berlari.

Di ruang es luas, Arno terjebak hingga pinggang di crevasse tersamar! Tali harness-nya nyangkut di bongkahan es (serac). Wajahnya pucat, napas memburu.

Stehen bleiben!” teriak Fritz. “Salju di tepi crevasse rapuh!”

Dengan hati-hati, mereka merangkak mendekat. Rania melihat buku catatan basah tergeletak di dekat tepi jurang—sketsa retakan es dan tulisan: “Bewegung erhöht. Riss bei Koordinate 46°34′ N.” (Pergerakan meningkat. Retakan di koordinat…)

“Pegang tali!” perintah Fritz pada Rania. Ia melemparkan ujung Gletscherseil ke Arno. “Greif zu! Raih!”

Setelah tarik-ulur menegangkan, Arno berhasil ditarik. Kakinya berdarah—terluka oleh pecahan es tajam (Bruchstücke).

Dummkopf! Sendirian di gletser yang aktif?” hardik Fritz.

Arno tak menjawab. Matanya gelap. “Aku harus dokumentasikan retakan baru. Untuk… peringatan.” Ia menunjuk buku catatan. “Ini bukti peningkatan pergerakan gletser. Schutzhütte di bawah terancam.”

Rania membuka buku—halaman terakhir terpotong robek. Tertinggal coretan: “Lea… Adrian… FOTO.”

Penjelasan tiba-tiba datang dari bayangan gua. Lea muncul, wajah basah oleh air mata dan kabut es.
Es war ich! Akulah yang robek halaman itu!”
Ia mengeluarkan potongan kertas: foto lawas Sophie bersama pemandu lain—berpelukan di Jungfraujoch.

“Kudapat dari tas Sophie setelah… setelah kecelakaan,” isak Lea. “Kukirim salinannya ke Arno tadi pagi. Agar dia tahu Sophie punya rahasia!”

Arno memandang foto itu—wajahnya seperti diterjang avalanche. “Sophie… dan Markus?” Markus, partner pemandunya yang tewas di Eiger setahun sebelum kecelakaan mereka.

Ja!” Lea berlutut. “Aku takut kau mengulangi kesalahan! Melupakan masa lalu karena Rania!”

Rania memahami sekarang. Arno ke sini bukan untuk proyek—tapi melarikan diri dari kebenaran tentang Sophie.

Gemuruh tiba-tiba menggelegar! Dinding es retak! Serac raksasa runtuh dari langit-langit!

Achtung!” Fritz menarik Lea mundur.

Rania loncat ke samping—tapi Arno yang terlambat! Serac menghantam bahunya!
AAAAHH!

Tulang selangkanya patah terdengar nyaring. Arno terpelanting ke tepi crevasse lagi!

Fritz segera bertindak:

  1. Memberikan suntikan morfin darurat dari kotak P3K
  2. Membidai bahu dengan ice axe dan tali
  3. Memasang tandu darurat (Schleppzug) dari jas hujan dan batang es

“Kita harus bawa dia keluar! Schnell!

Perjalanan pulang jadi neraka. Mereka menyeret Arno yang setengah sadar melalui terowongan es. Di luar, badai salju (Schneesturm) sedang mengamuk! Visibilitas nol.

Di Kleine Scheidegg, kereta terakhir sudah pergi. Mereka berlindung di stasiun tua. Arno menggigil hebat—hipotermia mulai menyerang.

Rania menggeser kantong panas (Wärmflasche) ke tubuh Arno. “Kau harus tetap sadar!”

Arno membuka mata, napasnya pendek. “Foto… Sophie…”
“Sudah tak penting, Arno.”
Doch…” Ia memejam. “Aku… selalu merasa gagal melindunginya. Tapi mungkin… dia tak butuh perlindungan.”

Di tengah deru badai, Rania menemukan buku harian Sophie di tas Arno—terselip di balik peta. Halaman terakhir:

“Markus hanya teman. Tapi Arno? Aku takut kehilangan dia. Pekerjaannya berbahaya. Mungkin jika aku jadi lebih ‘lemah’, dia akan berhenti jadi pemandu…”

Rania menutup buku, hatinya pedih. Sophie pura-pura lemah agar Arno berhenti memandu—tapi itu justru membuat Arno memaksakan pendakian fatal untuk membuktikan diri.

Fritz menghubungi Rega (tim penyelamat udara Swiss). Tapi badai terlalu hebat. “Mereka baru bisa datang esok pagi.”

Malam di stasiun dingin itu, Rania berjaga di samping Arno. Saat tengah malam, gemuruh gletser terdengar lagi—suara es yang retak dan bergeser, seperti ratapan.

Arno terbangun, demamnya tinggi. “Hörst du sie?” bisiknya.
“Siapa?”
“Sophie… dan Lukas. Mereka… memaafkan.”
Tangisnya pecah—duka yang tertahan lima tahun. Rania memeluknya, ikut menangis.

Fajar menyingsing. Badai reda. Suara helikopter Rega mendekat. Saat tim medis membawa Arno, ia meraih tangan Rania.
Bleib…
“Aku tak ke mana-mana,” janji Rania.

Tapi di bandara Grindelwald, Adrian menunggu dengan tiket Maldives.
“Helikopter Rega akan bawa Arno ke rumah sakit Interlaken. Kau sudah lakukan cukup.”
Dia menyodorkan tiket. “Ayo pulihkan kariermu.”

Rania memandang pisau Lukas di sakunya, lalu ke helikopter Rega yang menjauh. Bisikan gletser tadi malam terngiang lagi—seperti desahan lega, seperti pelepasan.

Dia mengambil tiket dari Adrian…

…dan merobeknya di depan matanya.

Es tut mir leid, Adrian. Mein Platz ist hier.” Maaf. Tempatku di sini.

Saat Adrian pergi dengan wajah hancur, Lea memeluk Rania. “Danke.

Di rumah sakit Spital Interlaken, Arno terbaring dengan bahu dibebat. Rania menyerahkan buku harian Sophie.

“Kau tak gagal, Arno. Sophie mencintaimu—tapi dengan cara yang salah.”

Arno membacanya—air matanya membasahi kertas. “Selama ini… aku menyalahkan diri untuk kebohongan yang tak ada.”

Dia memandang Rania. “Dan kau… kau memilih untuk tetap di sini.”

Ja. Untuk proyek konservasi… dan untukmu. Jika kau mau.”

Tangan Arno yang tak terluka meraih tangannya. “Ich möchte. Aku mau.”

Esoknya, saat Rania kembali ke chalet Arno untuk mengambil dokumen proyek, ia menemakan koper Adrian di teras. Surat tergeletak:

Rania,
Kukirim semua data proyek Maldives-mu. Bos setuju kau kerjakan dari sini—dengan syarat libatkan hotel Swiss.
Adrian

P.S. Pisau di koper ini untuk Arno—pisau bedah terbaik. Katakan padanya: ia beruntung.

Di dalam koper: perangkat desain arsitektur lengkap, dan pisau bedah antik dengan ukiran “Dem Mutigen gehört die Welt” (Dunia milik yang berani).

Saat Rania tersenyum lega, ponselnya berdering. Fritz:
Komm schnell! Ke Stollenloch! Ada yang harus kau lihat!

Dengan hati berdebar, Rania kembali ke gua es. Di lokasi Arno jatuh, retakan es besar terbuka—memperlihatkan sesuatu yang terperangkap di dalam es selama puluhan tahun: kerangka manusia memakai pakaian pendakian tua, dan sebuah kantong kulit berisi… peta emas bertuliskan “Geheimnis des Berges” (Rahasia Gunung).

Fritz memandang ngeri. “Das ist… Friedrich Stoller. Penambang hilang tahun 1890.
Ia membalik peta. Tertulis koordinat dan puisi:

“Wo drei Gipfel küssen den Himmelblau,
Wacht der Schlüssel aus Feuer und Tau.”

(Di mana tiga puncak mencium langit biru,
Kunci dari api dan embun berjaga.)

Angin es berdesis masuk gua. Rania merasakan—petualangan baru saja dimulai.


Glossary:

  1. Eigergletscher: Gletser di kaki Eiger, dinamakan “Gletser Ogir”.
  2. Stollenloch: Lubang tambang tua (Stollen = terowongan tambang).
  3. Gletscherflüstern: “Bisikan gletser” – suara gemeretak es akibat pergerakan gletser.
  4. Firn: Salju tua yang terkompresi, tahap sebelum jadi es gletser.
  5. Serac: Menara es tak stabil di gletser, sering runtuh.
  6. Schleppzug: Tandu darurat untuk evakuasi.
  7. Rega: Garda Udara Penyelamat Swiss (REGA).
  8. Spital: Rumah sakit (Bahasa Jerman Swiss).
  9. Gletscherseil: Tali khusus untuk medan gletser (biasanya lebih tebal & tanda jarak).
  10. Bruchstücke: Pecahan (es/batu).

Gunung menyimpan rahasia berlapis: es yang menutupi luka, gua yang menyimpan dusta, gletser yang membisikkan kebenaran. Dan terkadang, untuk menemukan jalan keluar, kau harus lebih dulu berani terperosok ke dalam retakan terdalam.
– Rania

Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12