BAB 2: PETA HATI YANG TERSESAT
Angin berubah menjadi monster yang mengaum. Butiran salju yang tadi lembut, kini menghantam kulit seperti kerikil es. Rania membuntuti bayangan merah Arno, kakinya terhuyung dalam salju yang mendadak setinggi betis. “Schnell! Cepat!” teriaknya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru badai. Mereka menyusuri terowongan es sempit—dindingnya berkilauan biru pucat di bawah lampu darurat—sebelum keluar ke platform terbuka lain. Di sini, angin lebih ganas, mencabik-cabik napas.
“Ke… mana?” Rania terengah, matanya perih oleh salju.
“Talabfahrt! Turun!” Arno menunjuk ke arah pintu baja berat bertanda “Eismeer”. “Kereta terakhir sudah pergi. Kita turun jalur darurat—via ferrata.”
Via ferrata. Kata itu menggema di kepala Rania. Ia ingat membaca sekilas di blog pendakian: jalur besi di tebing curam, untuk turun atau naik dengan bantuan harness dan carabiner. Bukan untuk pemula, tulisnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena udara tipis.
Di dalam ruang kecil “Eismeer”, beberapa pendaki berpengalaman sedang memerikta peralatan. Bau keringat dan logam basah memenuhi udara. Arno melemparkan harness dan helm ke pangkuan Rania. “Pakai. Sekarang.”
“Tapi aku belum pernah—”
“Keine Ausreden! Tak ada alasan!” potong Arno, tangannya cekatan mengencangkan tali di tubuhnya sendiri. “Lihat caraku.” Ia memperagakan cara memasang harness: tali melingkar di pinggang dan paha, carabiner (pengait logam) di cincin depan. “Ini life line-mu. Kaitkan selalu ke kabel besi di sepanjang jalur. Immer! Selalu!” Matanya tajam. “Satu kesalahan, kau mati.”
Rania gemetar mencoba meniru. Tangannya kaku oleh dingin, gesper harness terasa licin. Seorang pendaki tua berjanggut kelabu membantunya. “Langsam, Fräulein. Pelan saja,” bisiknya ramah. Arno menggerutu melihatnya, tapi tak berkomentar.
Mereka keluar dari sisi lain pintu baja. Dunia berubah.
Tebing es vertikal menjulang di depan, disilang oleh kabel baja tebal dan anak tangga besi (stemples) yang tertancap di batu. Di bawahnya, jurang bergerigi ditutupi kabut salju yang berputar. Angin meraung di sela-sela batu, seperti suara hantu gunung yang marah.
“Komm! Ikuti aku!” Arno mulai turun, kakinya mantap di stemples pertama. Carabinernya klik saat terkait ke kabel. “Satu tangan selalu pegang kabel! Satu kaki selalu di tangga besi!”
Rania menarik napas dalam. Dinginnya logam menusuk sarung tangannya. Ia mengaitkan carabiner, lalu melangkah turun. Kaki pertamanya goyah. Tangannya mencengkeram kabel baja erat-erat—begitu dingin sampai terasa membakar kulit.
“Jangan lihat ke bawah!” teriak Arno dari dua meter di bawahnya.
Tapi Rania melirik. Kabut sesekali tersibak, memperlihatkan jurang gelap yang seolah tak berujung. Mual mendadak menyerang. Ia memejamkan mata, berpegangan pada kabel hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku gila datang ke sini,” bisiknya pada diri sendiri. Bayangan mantan tunangannya tiba-tiba muncul—senyum sinisnya seolah berkata, “Kau memang selalu nekat tanpa perhitungan, Ran.”
Mereka turun perlahan. Arno sesekali berhenti, memastikan Rania masih di belakangnya. “Bagus. Lanjut,” gumannya singkat saat Rania berhasil melewati bagian curam. Pujian sekadarnya, tapi membuat Rania sedikit lega.
Setengah jam kemudian, medan berubah. Tebing es berganti menjadi lereng batu dan salju yang landai. Kabel baja berakhir di sini.
“Kita lepas harness?” tanya Rania, napasnya membentuk awan putih.
“Nein. Masih ada jalur panjang,” jawab Arno, melepaskan carabiner tapi membiarkan harness tetap terpasang. Ia mengeluarkan peta topografi dari kantong anti-air. “Kita harus menyusuri moraine sisi timur, lalu belok kiri ke Schwarzegg Hutte. Tiga jam.”
Moraine. Rania mengingat gambar di buku geologi: tumpukan batu-batu besar yang didorong oleh gletser, seperti puing-puing raksasa. Medannya tidak stabil dan licin.
Kabut semakin tebal (Hochnebel), menyelimuti segalanya dalam putih susu. Visibilitas turun drastis. Batu-batu besar muncul seperti hantu dari balik kabut, bentuknya aneh dan mengancam. Rania mengikuti bayangan merah Arno, kakinya tersandung-sandung di bebatuan tajam. Dingin mulai merayap masuk lewat jaketnya.
“Arno! Pelan sedikit!” teriaknya.
Tapi bayangan merah itu semakin jauh, terserap kabut.
“Arno?!”
Hanya angin yang menjawab, membisikkan sesuatu yang terdengar seperti ejekan.
Rania berhenti, jantungnya berdebar kencang. Ia memutar badan, mencoba mencari arah. Semua terlihat sama: batu abu-abu, salju putih, kabut abu-abu. Tak ada jejak kaki Arno—salju baru telah menutupi semuanya.
Tersesat. Kata itu menyergapnya seperti cakar dingin. Ia mengeluarkan ponsel. No service. Kompas digital di jam tangannya berputar liar, tak bisa mendeteksi utara.
“ARNO!” teriaknya lagi, suaranya pecah oleh kepanikan.
Dari kejauhan, mungkin dari arah kiri, atau depan, atau belakang—sulit dikatakan—terdengar suara samar: “Hier! Sini!”
Rania berlari menuju suara itu, kakinya terperosok di sela batu. “Arno? Kau di mana—”
KRAK!
Suara petir menggelegar, memecah kesunyian. Lebih keras, lebih dekat dari yang ia duga. Rania menjerit kecil, reflex merunduk. Saat ia menoleh ke arah sumber suara, sebuah kilat menyambar, menyinari sekejap lanskap mengerikan di depannya:
Sebuah jurang retak (crevasse) lebar menganga di antara dua tumpukan moraine, tersamarkan oleh salju tipis yang menutupinya seperti jebakan maut. Dan tiga meter di depan jurang itu, berdiri Arno—wajahnya pucat, matanya lebar penuh kengerian yang tak ia tunjukkan sebelumnya.
“Bleib stehen! Jangan bergerak!” teriaknya, suaranya nyaris hilang oleh gemuruh petir berikutnya.
Tapi Rania sudah tak bisa berpikir. Instingnya berkata: lari. Lari menjauh dari jurang, menjauh dari pria kasar ini, menjauh dari semua kegilaan ini. Ia berbalik, kaki melangkah cepat di medan berbatu—
—dan tersandung akar yang tersembunyi di balik salju.
Tubuhnya terjungkal ke depan. Kepalanya menghantam batu besar yang dingin.
Dunia berubah hitam.
Suara terakhir yang ia dengar adalah teriakan Arno, penuh amarah dan… ketakutan? “NEIN! RANIA—!”
Lalu, sunyi.
Glossary:
- Via Ferrata: Jalur pendakian di tebing curam yang dilengkapi kabel baja, tangga besi (stemples), dan jembatan. Memerlukan harness dan carabiner untuk pengaman.
- Harness: Tali pengaman yang dikenakan di pinggang dan paha, terhubung ke carabiner.
- Carabiner: Pengait logam berbentuk huruf D atau oval, untuk menghubungkan harness ke kabel baja.
- Stemples: Anak tangga atau pijakan besi yang ditanam di tebing sebagai bantuan pendakian.
- Moraine: Tumpukan batu, kerikil, dan pasir yang didorong/ditinggalkan oleh gletser yang mencair. Medan tidak stabil dan berbahaya.
- Hochnebel: Kabut tebal di ketinggian, sering menyelimuti lembah dan lereng gunung.
- Crevasse: Retakan dalam di gletser atau medan es, sering tersamarkan salju tipis (“snow bridge”), sangat mematikan.
- Schutzhütte/Schwarzegg Hutte: Gubuk pendaki di gunung untuk tempat berlindung.
- Talabfahrt: Turun ke lembah (Bahasa Jerman).
- Bleib stehen!: “Jangan bergerak!” (Bahasa Jerman).
Gunung-gunung ini tak peduli pada drama manusia. Mereka hanya diam, menunggu kesalahan kecil untuk menelanmu. Dan saat kau tersesat di antara batu-batu bisu, barulah kau sadar: di alam liar, bahkan kebencian pada seseorang bisa menjadi satu-satunya tali penyelamatmu.