Novel: Bisikan Gletser di Hati Eiger (3/12)

BAB 3: SENTAKAN DI TEPI JURANG

Kesadaran kembali seperti kilat menyambar. Rania tersentak bangun, napasnya tercekat. Dingin. Sangat dingin. Salju menempel di pipinya, lehernya kaku. Kepala berdenyut-denyut seperti dipalu, dan di pelipis kanan, rasa perih yang menusuk. Ia menyentuhnya—sarung tangan basah, ujung jarinya kemerahan. Darah.

Beweg dich nicht. Jangan bergerak.”

Suara itu parau, dekat. Arno berlutut di sampingnya, wajahnya hanya beberapa jengkal dari wajah Rania. Kabut (Hochnebel) masih tebal, tapi matanya—biru es yang tadi dingin—kini memancarkan sesuatu yang lain: fokus tajam, seperti elang yang mengawasi mangsanya.

“Kau… kau memukulku?” Rania mengerang, mencoba bangun.

Tangan Arno menekan bahunya dengan kuat. “Dummkopf! Kau pikir aku mau bunuhmu? Kau tersandung, kepalamuhantam batu!” Tangannya dengan sigap membuka tas darurat, mengeluarkan emergency blanket—selimut tipis berwarna perak yang memantulkan cahaya suram. “Kau kena concussion ringan. Jangan banyak gerak.”

Rania memandang ke sekeliling. Kabut tipis sesekali tersibak, memperlihatkan jurang crevasse yang menganga hanya tiga meter dari tempatnya terjatuh. Napasnya tersendat. “Ya Tuhan… hampir saja…”

“Ya. Hampir saja kau jadi crevasse casualty,” gerutu Arno, seolah membaca pikirannya. Ia membungkus Rania dengan selimut darurat itu, gerakannya cepat tapi tidak kasar. “Kau beruntung jatuh ke sini, bukan ke sana.” Ia menunjuk jurang. “Salju di tepinya lunak. Tapi…” Ia memandang kepala Rania yang berdarah, lalu langit kelabu. “Sturm belum berhenti. Kita harus ke Schutzhütte. Sekarang.”

“Tapi aku pusing…”

Ich trage dich. Aku akan menggendongmu.”

Sebelum Rania protes, Arno sudah membalikkan tubuhnya, menarik lengan Rania yang terluka ke bahunya. “Achtung! Pegang leherku. Jangan biarkan kepalamu terguncang.”

Dengan satu hentakan, tubuh Rania terangkat. Arno kuat—otot-ototnya tegang menahan beban melalui harness yang masih terpasang. Rania terpaksa merangkul lehernya. Bau pinus, keringat, dan logam basah memenuhi indranya. Untuk pertama kalinya, ia melihat dari dekat rahang Arno yang keras, garis bibirnya yang tertutup rapat, dan—sekilas—bekas luka pucat di pelipis kirinya.

Mereka bergerak pelan. Arno menghindari moraine, memilih jalur padang salju yang lebih stabil tapi berkelok-kelok. Setiap langkahnya hati-hati, kakinya menguji salju sebelum menapak penuh. “Crevasse bisa bersembunyi di mana saja,” bisiknya, napasnya membentuk awan putih pendek. “Snow bridge—jembatan salju tipis—sering menjebak pendaki ceroboh.”

Rania menahan rintihan. Setiap guncangan membuat kepalanya berdenyut. Tapi ada sesuatu yang menenangkan dalam ritme langkah Arno: mantap, terukur, seperti detak jam Swiss.

“Kenapa… kau kembali mencariku?” tanya Rania, suaranya lemah. “Kau bilang aku Dummkopf.”

Arno diam sejenak. Hanya suara deru angin dan kriuk salju di bawah sepatunya.

Es ist meine Pflicht,” jawabnya kaku. “Kewajiban sebagai pemandu. Dan… kau membayar untuk itu, ja?”

Tapi Rania melihat rahangnya mengeras. Ia ingat teriakan panik Arno sebelum ia pingsan: “NEIN! RANIA—!” Suara itu penuh keputusasaan, bukan sekadar kewajiban.

Tiba-tiba, langkah Arno terhenti. “Scheisse!” kutuknya.

Di depan mereka, aliran air deras (glacier meltwater) memotong jalur. Airnya keruh kehijauan, mengalir deras di antara bongkahan es. Jembatan kayu sederhana yang biasanya ada, kini patah di tengah—tersapu badai.

“Alternatif?” desis Rania.

“Memutar lewat lateral moraine. Tapi itu tambah satu jam. Kau tak kuat.” Arno menatap aliran air. Lebarnya sekitar tiga meter. “Kita harus menyeberang.”

“Di air itu? Aku bisa hipotermia dalam tiga menit!”

Nein. Tidak basah.” Mata Arno menyapu sekeliling, berhenti pada beberapa batu besar di tepi sungai. “Steinmännchen.

Rania mengikuti pandangannya. Beberapa tumpukan batu datar setinggi lutut—cairns—berdiri seperti patung kecil. Tradisi pendaki menandai jalur aman.

“Lihat? Batu-batu besar di dasar sungai. Kita loncat dari satu batu ke batu lain.”

“Tapi arusnya—”

Vertrau mir. Percayai aku.”

Arno menurunkan Rania dengan hati-hati di tepi sungai. “Kau duduk sini. Aku uji dulu.” Dengan cekatan, ia melompat ke batu pertama—kokoh. Batu kedua—agak goyah, tapi ia menyeimbangkan diri. Saat melompat ke batu ketiga, kakinya tergelincir!

“ARNO!” Rania menjerit.

Tapi Arno sudah mencengkeram batu besar di depannya. Setengah tubuhnya terendam air es yang deras! Wajahnya mengeras menahan dingin yang menyakitkan. Dengan tenaga penuh, ia menarik diri naik ke batu itu. Napasnya terengah.

Zu gefährlich! Terlalu berbahaya!” teriaknya. “Kau tak bisa lewat sini!”

Dari kejauhan, gemuruh tanah terdengar. Rania menoleh—sebuah Steinschlag (jatuhan batu kecil) meluncur dari tebing di atas mereka! Batu-batu sebesar kepalan tangan menghujani area di belakang Rania!

“RANIA! BAWAH!” Arno berteriak.

Insting Rania bekerja. Ia menjatuhkan diri, berguling ke parit kecil di sampingnya. Batu-batu menghantam tanah tempat ia duduk tadi, memercikkan salju dan kerikil.

Ketika ia membuka mata, Arno sudah ada di depannya—basah kuyup, wajahnya pucat tapi matanya membara. Tanpa kata, ia meraih Rania, menariknya ke pelukannya. Tubuh Rania yang menggigil bersentuhan dengan jaketnya yang basah dan dingin.

Du kleiner Vogel… Kau burung kecil yang malang,” bisiknya, suaranya serak. “Lihat? Gunung ini tak memaafkan kesalahan.”

Rania tak menjawab. Dadanya sesak oleh sesuatu yang bukan ketakutan. Kehangatan pelukan Arno—meski basah—terasa lebih nyata dari apapun sejak ia tiba di Swiss.

Tiba-tiba, angin berubah arah. Kabut tersibak seperti tirai.

Sinar matahari sore menembus awan, menyapu lereng gunung di seberang jurang. Puncak-puncak salju berubah warna: dari putih menjadi merah muda, lalu emas, lalu oranye menyala—seperti api yang menyala di atas es.

Alpenglow…” napas Arno, terpesona.

Rania tertegun. Cahaya surgawi itu mengubah segalanya. Salju berkilauan, batu-batu abu-abu jadi keemasan, bahkan wajah Arno yang keras disaput cahaya hangat. Untuk sesaat, rasa sakit, dingin, dan bahaya terlupakan.

“Indahnya…” bisik Rania.

Arno menatapnya, bukan ke gunung. Mata birunya memantulkan cahaya Alpenglow, kehangatan yang tak pernah Rania lihat sebelumnya. “Ja,” gumannya pelan. “Sehr schön. Sangat indah.”

Tapi keajaiban itu cepat berlalu. Kabut menutup lagi. Dingin kembali menyergap.

Arno menghela napas. “Kita harus pergi. Schnell.” Ia mengeluarkan tali nilon dari tas. “Aku ikat kita berdua. Jarak tiga meter. Jika aku jatuh, kau jadi jangkar. Jika kau jatuh, aku yang menarikmu. Verstanden? Mengerti?”

Rania mengangguk. Tali itu diikatkan di harness mereka berdua. Ikatan itu terasa seperti metafora aneh—menghubungkan dua orang asing yang saling menyelamatkan, saling mencurigai, dan entah mengapa, kini saling membutuhkan.

Saat mereka berbalik mencari rute lain, tangan Rania tanpa sengaja menyentuh kantong jaket Arno. Ada benda keras di dalamnya—bentuknya seperti bingkai foto…

Dan Arno menarik diri seketika, wajahnya kembali mengeras seperti batu Eiger.

Gehen wir. Mari pergi,” katanya, menghindari tatapan Rania.

Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur menggantung: Foto siapa yang kau simpan dekat hatimu, Arno? Dan mengapa melihatnya menyakitkan bagimu?

Dengan tali penghubung dan rahasia yang tak terucap, mereka menyusuri tepi jurang—masing-masing membawa luka, masing-masing menyembunyikan sesuatu.


Glossary:

  1. Concussion: Gegar otak ringan akibat benturan kepala. Gejala: pusing, mual, kebingungan.
  2. Emergency Blanket: Selimut darurat tipis berlapis metalik (biasanya perak/emas) untuk memantulkan panas tubuh, mencegah hipotermia.
  3. Crevasse Casualty: Korban jurang es (istilah pendakian untuk kematian di crevasse).
  4. Snow Bridge: Lapisan salju tipis yang menutupi crevasse, sangat berbahaya karena bisa runtuh kapan saja.
  5. Glacier Meltwater: Air lelehan gletser, sangat dingin dan deras, mengandung sediment batuan halus (“glacial flour”).
  6. Steinmännchen (Cairns): Tumpukan batu yang dibuat pendaki sebagai penanda jalur aman.
  7. Steinschlag: Jatuhan batu (kecil atau besar) dari tebing, bahaya mematikan di pegunungan.
  8. Alpenglow: Fenomena cahaya merah/emas di puncak gunung saat matahari terbit/terbenam, disebabkan pembiasan cahaya di atmosfer.
  9. Lateral Moraine: Tumpukan batu (moraine) di sisi kiri/kanan gletser.
  10. Pflicht: Kewajiban/tanggung jawab (Bahasa Jerman).
  11. Kleiner Vogel: “Burung kecil” (panggilan sayang dalam konteks ini).

Di gunung, kau belajar membaca medan: retakan di es, warna langit, gema jatuhan batu. Tapi membaca hati manusia? Itu lebih rumit dari menuruni Eiger North Face. Terutama saat hati itu sendiri adalah labirin es yang dijaga rapat-rapat.

Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12