BAB 7: CAHAYA PALSU DI RAWA BETAWI
(MALAM BADAI – LANGIT JAKARTA, 2025)
Drone Capung Ghost Network terjun ke kabut elektromagnetik Jakarta. Di bawah, kota itu seperti neon-lit corpse—menara pencakar langit berjubah iklan hologram yang memproyeksikan surga konsumsi, sementara di permukaan tanah, permukiman kumuh terendam air payau berwarna hitam kehijauan. Bau garam busuk dan limbah kimia menyengat meski berada di ketinggian.
“Turun di Sektor Mangga Dua yang Tenggelam,” perintah Profesor Arumi melalui comms. “Ada terowongan tua ke Menara IndoFear. Pengawasannya minimal.”
Dimas memandang Rini. Gadis itu menggenggam kristal Batu Galih, matanya tertutup. “Aku merasakan… kesedihan kota. Seperti luka bernanah.”
BRZZZT!
Drone menghentak diterjang lightning gun dari menara pengawas NeoNusantara. Alarm berderit!
“Tertembak! Sistem siluman terganggu!”
Di layar radar, tiga drone tempur berbentuk burung gagak mekanik—Krakens—mendekat dengan senjata plasma.
“Tak sempat turun!” teriak pilot. “Merejak—”
ZZZOOOMMM!
Dari permukaan tanah, semburan laser hijau menyambar! Tepat mengenai Kraken terdepan. Robot itu meledak jadi kembang api logam.
“Sinyal teman!” AI drone mendeteksi. “Kode: TEDA.”
Kode Morse dari Kapten Garuda!
Di atap sebuah ruko terapung, dua sosok berseragam hitam coret-moret—bekas seragam NeoNusantara—melambai. Satu orang masih memegang peluncur laser portabel.
“Tim TEDA!” sambut Dimas lega. “Pemberontak Kapten Garuda!”
—
DI RAWA-RAWA URBAN
Mendarat darurat di permukaan air kotor, mereka disambut tim TEDA: Sersan Aji (tangan robotik) dan Kopral Wulan (mata cybernetic).
“Kami dikirim Kapten,” Aji memberi hormat khas TNI. “Ada 12 lagi di penjuru kota. Siap jadi gangguan untuk operasi kalian.”
“Tapi Menara IndoFear dijaga Scorpion Sentinel,” Wulan memperingatkan. “Dan hari ini… dia lebih agresif.”
“Kenapa?” tanya Rini.
“Karena Nayla,” jawab Wulan serius. “Sejak chipnya retak, dia memancarkan gelombang sakit luar biasa. Sentinel menyukainya… seperti pupuk bagi monster.”
Dimas mengepal. Adikku jadi umpan…
“Terowongan ada di bawah Pasar Apung yang tenggelam,” Aji menunjuk bangunan semi-terendam di kejauhan. “Tapi awas—cahaya palsu.”
—
JEBAKAN DI PASAR APUNG
Pasar Apung 2025 adalah kubangan nostalgia: Perahu kayu tua terapung di antara plastik dan bangkai elektronik, atap seng bergelombang dipenuhi lumur neon, dan hologram ikan-ikan masa lalu berenang palsu di air hitam.
“Jangan sentuh air,” bisik Wulan. “Penuh nanobot pengintai NeoNusantara. Mereka bentuknya seperti… bayang.”
Benar saja—di air, bayangan mereka tidak sesuai gerakan. Seperti ada sesuatu yang mengikuti di bawah permukaan.
Tiba-tiba, Rini menjerit. “Kristal Batu Galih… panas! Ini bukan terowongan—ini mulut!”
Dari dalam air, cahaya biru cantik menyala—persis seperti energi Batu Galih! Sebuah jalan bercahaya muncul ke dasar pasar.
“Cahaya palsu!” ingat Dimas. Tapi terlambat.
SHLUCK! SHLUCK!
Kaki Aji dan Wulan terhisap lumpur berpendar! Bukan lumpur—nanobot cair berbentuk rawa!
“Jebakan!” teriak Aji. “Lari!”
Tapi nanobot itu membentuk tentakel, menarik mereka ke dalam!
ZZZAP!
Dimas mencabut keris, mengirim gelombang ketakutan. Tapi nanobot menyerapnya, malah makin kuat!
“Mereka makan emosi negatif!” Rini bersimpuh. “Kak Dimas… aku yang harus lakukan.”
Tanpa ragu, Rini mencelupkan tangan ke air hitam—langsung kontak dengan nanobot! Wajahnya mengerang kesakitan, tapi kristal di tangannya menyala emas.
“Kusebarkan… harapan warga Siniarresmi yang bangun desa!”
Nanobot bergetar hebat! Cahaya biru palsu padam. Lumpur melepaskan Aji dan Wulan.
Tapi Rini kolaps, tangan kanannya hitam—terinfeksi nanobot!
“Rini!”
“Aku… tak apa,” dia tersenyum lemah. “Mereka kenyang harapan… jadi jinak. Sekarang… aku bisa kontrol mereka.”
Dia mengangkat tangan. Nanobot hitam membentuk peta hologram: Jalur rahasia ke Menara, plus titik merah—posisi Scorpion Sentinel!
—
RAHASIA DI BAWAH MENARA
Terowongan ternyata di balik patung kuno Macan Kemayoran yang terendam. Saat menyusuri lorong sempit, Wulan berbisik:
“Menara IndoFear dibangun di atas bunker nuklir era konflik. Kata rumor… NeoNusantara nemu sesuatu di sana—bukan senjata, tapi makhluk.”
“Sesuatu yang tidur…” gumam Dimas ingat peringatan Rini.
Di ujung terowongan, pintu baja. Tapi terkunci sidik jari Nayla.
“Hanya Nayla yang bisa buka,” kata Aji.
Dimas mengeluarkan foto lama Nayla dan sepatu merah kecil. “Kupikir… Batu Galih memberiku ide.”
Ia menempelkan foto ke panel. Lalu, dengan keris, ia memancarkan frekuensi kenangan bahagia—Nayla kecil tertawa di Kebun Raya.
KLICK!
Pintu terbuka!
Tapi yang menyambut mereka…
SSSSKKKREEEEEKKKK!
…adalah Scorpion Sentinel!
Robot kalajengking setinggi 4 meter, ekor logamnya berujung jarum penyuntik energi emosi. Matanya—layar hologram—memproyeksikan wajah-wajah korban yang menderita: warga Sinarresmi, tahanan politik, bahkan bayangan Kapten Garuda!
“PENDARAHAN… DETECTED…” suara mesinnya beresonansi dengan jeritan manusia. “FEAR… HATRED… DELICIOUS…”
—
PERTARUNGAN DI RUANG GENERATOR
Sentinel menyerang pertama: Ekornya menyemburkan gelombang merah—energi kebencian yang dipancarkan Nayla!
Dimas memblok dengan keris. Tapi kekuatannya memantul, menghantam generator tua. Ruangan bergemuruh!
“Jangan lawan dengan negatif!” teriak Rini. Nanobot di tangannya membentuk perisai hitam. “Kita butuh emosi kontradiktif!”
Aji dan Wulan menembak, tapi peluru plasma ditelan oleh lapisan logam Sentinel yang berubah-ubah seperti cairan.
“Stinger Conduit-nya!” ingat Dimas. “Di ekor!”
Dia menerjang. Tapi Sentinel membaca niatnya. Ekornya menyengat seperti ular!
DORR!
Wulan menubruk Dimas, kena sengat!
“WULAN!” Aji menjerit.
Wulan tidak mati—tapi tertransformasi! Matanya bersinar merah, senjatanya berbalik arah ke Aji! “Bunuh… semua pengkhianat…”
Chip di leher Sentinel menyala: Wulan kini dikontrol!
“Rini! Sekarang!” Dimas memohon.
Rini berlari ke arah Wulan—bukan menyerang, tapi memeluknya!
“Aku tahu kesepianmu, Mbak Wulan…” bisik Rini, air matanya jatuh. “Kau kehilangan adikmu di kerusuhan Jakarta… sama seperti Kak Dimas…”
Sentinel mendesis, ekornya mengarah ke Rini!
Tapi Rini terus memeluk Wulan yang mengamuk. “Kuberikan… kenangan adikku di desa. Dia sembuh dari sakitnya… berkat doamu…”
Nanobot di tangan Rini berpendar emas—mengirim memori palsu penuh kasih ke pikiran Wulan.
Wulan tergetar. Air mata darah mengalir dari mata cyber-nya. “Adik… ?”
KLENG!
Stinger Conduit di ekor Sentinel retak! Emosi kontradiktif—cinta di tengah kebencian—membuatnya overload!
“Sekarang, Bang!” Rini menjatuhkan diri, membuka jalan.
Dimas menusukkan keris tepat ke Stinger Conduit yang retak!
BWOOOONG!
Gelombang energi putih menyapu ruangan! Sentinel menjerit elektronik, lalu diam. Matanya yang hologram kini memproyeksikan… wajah Nayla yang sedang tersenyum bahagia!
—
PENGKHIANATAN
Di keheningan pascapetarungan, Aji mendekati Sentinel yang lumpuh. “Kita bisa gunakan ini untuk—”
DOR!
Peluru plasma menembus dada Aji dari belakang!
Profesor Arumi berdiri di pintu, pistol berasap. Wajahnya dingin.
“Arumi?!” Dimas terpana.
“Maaf, Rahardja. Tapi cahaya palsu bukan hanya dari NeoNusantara,” ujunya. “Ghost Network butuh Batu Galih… bukan untuk menyelamatkan… tapi untuk membangunkan yang tidur di bawah sini.”
Dia menunjuk lantai. “Bunker ini bukan tempat makhluk… tapi stasiun pemanggil untuk sesuatu yang lebih besar. Dan Nayla… adalah kuncinya.”
Rini mencoba mengaktifkan nanobot, tapi Arumi menembakkan EMP kecil. Nanobot mati. Rini jatuh lemah.
“Kau pikir kami membebaskanmu karena kebaikan?” Arumi tertawa sinis. “Kami butuh kerismu untuk membuka Pintu Sunda di bawah menara. Dan Nayla… darahnya adalah bahan bakar.”
Jam Dimas berbunyi—pesan dari Nayla:
“A… R… U… M… I… T… R… A… I… T… O… R…”
Arumi Pengkhianat.
“Nayla mencoba memperingatkanmu,” Arumi tersenyum. “Tapi dia akan jadi pahlawan versi kami. Selamat tinggal.”
Dia menembak panel darurat. Pintu baja jatuh, memisahkan Dimas-Rini dari dunia luar.
Di dinding, speaker aktif. Suara Nayla terdengar:
“Kakak… maafkan aku. Tapi I’ve… initiated Protocol Bunga Kamboja.”
Lampu darurat merah menyala. Sirene meraung.
“Apa itu Protocol Bunga Kamboja?!” teriak Dimas.
Jawabannya datang dari getaran dahsyat di bawah kaki:
GEMURUH seperti raksasa bangun tidur…