Bab 15: Kuil yang Terlupakan
Perjalanan menuju Kuil Cahaya memakan waktu tiga hari melalui Hutan Bisikan—tempat pepohonan tumbuh dalam spiral sempurna dan daun-daunnya bergetar sendiri memainkan melodi kuno. Lira menyentuh batang sebuah pohon raksasa, dan kulit kayunya berpendar singkat, meninggalkan kesan simbol matahari di ujung jarinya.
“Kita sudah dekat,” bisik Selene. Matanya tak lepas dari jalan setapak yang mulai menanjak. “Kuil Cahaya tidak bisa ditemukan—dia yang memilih untuk menampakkan diri.”
+++
Malam itu, di sekitar api unggun, Reyna membongkar paket persediaan terakhir. “Makanan tinggal untuk dua hari. Jika besok kita tidak menemikan kuil—”
“Kita akan menemukannya,” potong Kael dengan suara keras dari biasanya. Sejak pertempuran di Danau Terbalik, sikapnya berubah—lebih waspada, jarang tidur, dan selalu duduk paling jauh di setiap perkemahan.
Lira mendekatinya. “Ada apa sebenarnya?”
Kael menggeser pandangan ke kegelapan hutan. “Aku mendengar bisikan… seperti ada yang mengikut kita.”
Tiba-tiba, ranting patah berderak di balik semak. Kael langsung melompat, pedang terhunus—
Tapi yang muncul hanya Darien, tangannya mengangkat tanda damai. “Wah-wah, jangan tembak sang utusan!”
“Kau!” Reyna berdiri, pedang kembarnya sudah di tangan. “Kemana saja kau menghilang?”
Darien tersenyum lebar, tapi matanya—biasanya penuh kelakar—sekarang gelap. “Mencari ini.” Dari kantong jubahnya, dia mengeluarkan fragmen kristal ungu yang berdenyut lemah. “Bagian dari Aether Primordial yang lolos… dan dia sedang tumbuh.”
+++
Keesokan pagi, mereka mencapai tebing melingkar aneh—batuan putih tersusun sempurna seperti tangga raksasa yang mengarah ke… kehampaan.
“Di sinilah seharusnya Kuil Cahaya berdiri,” kata Selene, wajahnya pucat.
Tapi yang ada hanya lapangan kosong ditumbuhi lumut, dengan satu-satunya petunjuk adalah mosaik pecah di lantai yang menggambarkan matahari dengan lima segitiga.
Lira merasakan tarikan aneh. Dengan langkah mantap, dia berdiri di tengah mosaik dan menempelkan tangannya yang bertato.
Dunia bergetar.
+++
Cahaya menyilaukan memenuhi pandangan. Ketika Lira bisa melihat lagi, seluruh kuil telah muncul di depan mereka—struktur kristal raksasa yang memantulkan warna pelangi, dengan pintu gerbang dihiasi ukiran lima Penyatu sebelumnya.
“Astaga…” Reyna terkesima.
Tapi keajaiban itu segera tergantikan horor.
Di depan pintu kuil, tujuh tubuh berseragam Penjaga Cahaya terbaring tak bernyawa—masing-masing dengan luka bakar ungu di dada.
Selene berlutut, tangannya gemetar menyentuh salah satu mayat. “Ini… ini rombongan penyelidikku yang kutugaskan minggu lalu.”
Darien memeriksa fragmen kristalnya—yang sekarang berdenyut lebih kencang. “Aether Primordial sudah sampai sini duluan.”
+++
Di dalam kuil, kehancuran lebih parah. Dinding-dinding kristal retak dari dalam, seolah terinfeksi oleh sesuatu. Di ruang utama, tempat seharusnya Matahari Abadi—sumber elemen cahaya—berada, kini hanya tersisa bola kaca pecah yang buram.
“Tidak mungkin…” Selene bersandar di dinding, terlihat patah semangat untuk pertama kalinya. “Tanpa Matahari Abadi, kita tidak bisa memurnikan kuil-kuil lain.”
Lira mendekati pecahan bola kaca. Saat jarinya menyentuh permukaannya, kilasan ingatan menyambar:
- Wanita berambut cokelat(ibunya?) sedang memegang bola itu, mengisinya dengan cahaya.
- Ledakan dahsyatdari bawah tanah.
- Seseorang—berwajah samar—mencuri sebagian cahaya…
“Kita salah paham,” Lira berbalik pada yang lain. “Matahari Abadi tidak hancur—dia dicuri sebagian. Dan aku tahu di mana sisanya.”
“Di mana?” tanya Kael.
“Di Kuil Kegelapan—tempat Malrik mengubah dirinya.”
Darien tiba-tiba terkikuk. Fragmen kristal di tangannya melayang sendiri, membentuk panah yang mengarah ke barat.
“Dan tamu kita yang tidak diundang sepertiku juga tahu,” katanya dengan wajah suram.
Dari luar kuil, awan hitam mulai membentuk tornado kecil…
Bersambung…