Bagian 2: Sekotak Lada Gadang
Dua hari setelah surat ancaman itu, udara di Pasar Terong terasa lebih pengap. Debu musim kemarau mengepul seperti kabut cokelat setiap kali truk lewat, namun Yuri tak peduli. Dengan caping anyaman menutupi rambutnya, ia membelah kerumunan pasar menuju lorong gelap penjual rempah-rempah, diikuti Yusuf yang masih ragu.
“Lada gadang ini bukan sembarang merica,” bisiknya sambil menunjuk biji-biji keriput sebesar kacang tanah di toko tua Nyonya Lim. “Ini kunci cuko sejati—hanya tumbuh di lereng Gunung Bawakaraeng.”
Yusuf mengamati biji lada itu dengan mata berbinar, seperti ahli permata yang menemukan intan kasar. “Aroma tanah vulkanik dan kayu manis liar… Luar biasa!” Namun antusiasmemu pupus saat Nyonya Lim menggeleng. “Habis, Nak. Musim kemarau panjang bikin petani gagal panen.” Yuri mengutuk dalam hati. Tanpa lada gadang, resep turun-temurun itu hanya akan jadi coto biasa—dan warungnya pasti kalah dalam perlawanan melawan pengembang.
Saat mereka berbalik, langkah Yusuf terhenti di depan toko kelontong Tionghoa berdebu. “Tunggu,” gumamnya, hidungnya berkedut seperti anjing pelacak. “Aku mencium sesuatu… seperti vanila dan kemiri sangrai.” Sorot matanya tertuju pada loteng kayu lapuk di atas toko, di mana sebatang balok reyot tiba-tiba berderak. Sebelum Yuri menjawab, brak! — sebuah kotak kayu bertuliskan aksara Cina jatuh dari langit-langit, nyaris menghantam kepala Yusuf.
Di dalam kotak berlapis debu tebal itu, tersembunyi harta karun yang tak ternilai: setumpuk surat menguning bertali pita merah, dan selembar kertas kalkir berisi resep coto dengan tulisan tangan halus. “Ini… tulisan Buyutku, Siti Maisaroh!” desis Yuri, jarinya gemetar membuka surat tertua bertanggal 12 Juli 1957. Isinya bukan daftar bumbu, melainkan curahan hati: “Kepada Yang Mulia Tuan Li Wei, rasa cintaku padamu seperti cuko—pedas yang menyatukan, asam yang mengingatkan, manis yang tersembunyi…”
Yusuf membuka resep kalkir. Alih-alih petunjuk masak, yang terpampang adalah peta Pasar Terong tahun 1950-an dengan titik merah di bangunan tua Belanda, dan puisi misterius: “Di bawah pelana kuda besi, tiga jengkal mata naga menatap utara.” “Ini kode!” serunya. Tapi tiba-tiba, bayangan panjang menghalangi cahaya. Kakek Yuri, Pak Haji Darwis, berdiri dengan wajah pucat. “Kotak itu kutemukan 40 tahun lalu setelah Buyutmu wafat,” bisiknya parau. “Dia dan Li Wei dipisahkan keluarga karena perang rasialis. Resep ini… adalah kenangan terakhir mereka.”
Malam itu, di gudang belakang warung, Yuri dan Yusuf memeriksa peta di bawah lampu minyak. “Lihat,” Yusuf menunjuk sketsa bangunan Belanda. “Ini dulu kantor notaris kolonial. Dan ‘pelana kuda besi’…” Matanya berbinar. “Pasti itu patung kuda di depan Gedung Kesenian!” Tanpa pikir panjang, mereka menyelinap keluar. Di jalanan sepi, bayangan mereka memanjang seperti hantu penasaran.
Tepat di bawah patung kuda besi yang sudah karatan, sekop Yusuf membentur benda logam. Klang! Sebuah tabung tembaga berisi dokumen mengeluarkan bau apek. Saat dibuka, segel lilin membuyar memperlihatkan surat kuasa tanah bertahun 1933 atas nama Siti Maisaroh—bukti tak terbantahkan bahwa lahan warung “Coto Nenek” adalah hak turun-temurun keluarganya. “Pengembang tak bisa menggusur kita!” pekik Yuri, air matanya bercampur debu.
Tapi euforia itu pendek. Dari balik pohon asam, dua lelaki bertato naga—sama seperti penagih utang kemarin—melompat keluar. “Kasih tabung itu!” geram salah satunya, golok kecil berkilat di tangan. Yusuf mendorong Yuri berlari, sambil berteriak: “Ingat puisi tadi? ‘Tiga jengkal mata naga’—itu musti penanda di tanah!”
Saat mereka terpojok di lorong buntu, Yuri melihat tiga batu bulat mencolok di dinding tua. “Mata naga!” Dengan seluruh tenaga, ia menekan batu tengah. Kreek… Sebagian dinding bergeser, membuka ruang gelap. Mereka masuk, lalu pintu rahasia itu menutup tepat di depan hidung pengejar.
Dalam kegelapan yang berbau tanah dan kapur, senter Yusuf menyapu ruangan—dan cahayanya menangkap tumpukan peti kayu bertuliskan V.O.C. Yuri menahan napas. “Yusuf… kita bukan cuma menemukan bukti tanah.” Di lantai, secarik kertas resep tua terinjak kakinya, bertinta merah darah: “Jaga rahasia ini, atau darah akan tumpah seperti kuah coto…”
bersambung…