Bab 9: Wajah Sang Pengkhianat
Langkah kaki itu semakin dekat, setiap hentakannya membuat dinding terowongan bergetar. Lira merasakan dadanya sesak—bukan hanya karena ketakutan, tapi karena tarikan aneh seperti magnet antara dirinya dan sosok yang mendekat.
“Kita tidak bisa melawannya di sini,” desis Reyna, matanya panik. “Dia terlalu kuat di wilayah bawah tanah.”
Sylas tiba-tiba melangkah ke depan, tubuhnya yang setengah kayu itu berpendar lebih terang. “Aku akan menahan mereka. Pergi—ke Kuil Udara di puncak timur.”
“Kau tidak akan bertahan!” protes Darien.
Sylas tersenyum, atau setidaknya itulah kesan yang didapat Lira dari tarikan serat-serat kayu di wajahnya. “Perpustakaan ini sudah menjadi bagian dari diriku. Aku punya… kejutan untuk mereka.”
Suara pecahan kristal dan jerikan prajurit Ordo terdengar dari balik dinding. Mereka kehabisan waktu.
Kael, meski pincang, menarik lengan Lira. “Kita harus pergi. Sekarang.”
+++
Mereka berlari melalui labirin terowongan, diikuti oleh gemuruh dan teriakan di belakang. Tiba-tiba, getaran dahsyat mengguncang—sekilas Lira melihat cahaya hijau terang menyembur dari arah perpustakaan, diikuti rentetan ledakan.
“Sylas…” Reyna menggigit bibir, tapi tidak berhenti berlari.
Setelah berbelok-belok, mereka akhirnya menemukan tangga spiral menuju permukaan. Matahari sore menyilaukan ketika mereka keluar di tebing tinggi, di mana Kuil Udara yang setengah runtuh berdiri megah di puncak.
Di kejauhan, asap hitam membubung dari lokasi perpustakaan.
“Tidak ada waktu untuk berduka,” kata Reyna sambil menyeret sebuah batu altar untuk menutup jalan keluar. “Dia akan menemukan kita—”
Udara tiba-tiba berubah tekanan.
Lira berbalik, dan di sana—dia muncul.
Malrik.
Tapi bukan seperti dalam visi. Wajahnya setengah meleleh, mata kirinya menyala merah dalam soket yang rusak. Tubuhnya besar secara tidak wajar, dengan lengan kanan yang membesar dan dipenuhi kristal hitam.
“Lira,” suaranya menggetarkan udara sendiri. “Lihatlah apa yang mereka lakukan padaku—apa yang keluargamu lakukan padaku!”
Lira gemetar, tapi anehnya, tidak merasa takut. Ada sesuatu… kenangan yang menggeliat di benaknya.
“Kau… kau adalah pamanku,” ucapnya tiba-tiba, tanpa tahu bagaimana dia tahu itu.
Malrik tertawa—suara parau yang memecah telinga. “Dan kau adalah keponakan kesayanganku. Sebelum mereka meracuni pikiranmu tentangku.”
Dia mengangkat tangan, dan medalion di leher Lira tiba-tiba berpendar merah, menariknya maju seperti magnet!
“Kau tidak perlu takut,” bisik Malrik. “Bersamaku, kau akan membuka era baru Aetheria!”
Kael menerjang, pedangnya mengarah ke leher Malrik—tapi dengan gerakan sederhana, sang Pengkhianat mengibaskan tangan. Kael terlempar ke belakang seperti boneka kain, jatuh tak bergerak di dekat tebing.
“KAEL!” teriak Lira.
Kemarahannya memicu sesuatu—angin di sekitar mereka tiba-tiba berputar kencang, membentuk pusaran kecil. Malrik terlihat terkejut.
“Jadi kau sudah mulai mengingat?” dia menyeringai. “Bagus. Tapi kau masih terlalu lemah.”
Dengan gerakan cepat, dia menangkap Lira oleh kerah bajunya. “Kita akan pergi sekarang—”
Ledakan.
Sebilah pisau terbang menancap di bahu Malrik—dilempar oleh Darien yang tiba-tiba muncul dari balik pilar, wajahnya penuh darah tapi masih tersenyum.
“Jangan sentuh temanku, Penyihir Tua.”
Malrik menggeram, melemparkan Lira ke samping sebelum menghajar Darien dengan energi gelap. Lira melihat dengan ngeri bagaimana tubuh Darien terlempar, jatuh tersungkur di dekat Kael yang masih tak sadarkan diri.
Tapi aksi itu memberi Reyna cukup waktu. Dengan teriakan, dia menyerang Malrik dari belakang—pedang kembarnya bersinar biru.
Malrik berputar, tapi tidak cukup cepat—satu pedang menancap di perutnya.
“Pengkhianat,” desis Reyna.
Malrik tersenyum. “Kau tidak tahu apa-apa, gadis kecil.”
Dengan gerakan cepat, dia menangkap leher Reyna. Lira berteriak, merasakan elemen udara di sekelilingnya bergetar—tapi sebelum dia bisa bereaksi, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Kilatan cahaya putih menyambar dari langit, memisahkan Malrik dan Reyna.
Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang wanita dengan rambut perpendek dan baju tempur biru—mata dan tato tangannya bersinar putih terang.
“Jangan sentuh saudariku, Monster,” kata wanita itu.
Reyna terisak. “S-Selene?”
Malrik menggeram, tapi Lira melihat—untuk pertama kalinya—ketakutan di wajahnya.
“Kau seharusnya sudah mati!”
Selene tersenyum. “Laporan kematianku sangat berlebihan.”
Dia menoleh ke Lira, dan untuk sepersekian detik, Lira melihat kesedihan mendalam di mata wanita itu sebelum berubah jadi tekad.
“Lira, pegang medalionmu dan ulangi setelah aku—”
Tapi Malrik sudah bergerak. Dengan teriakan kemarahan, dia melepaskan gelombang energi hitam yang memaksa Selene berbalik mempertahankan diri.
Dan dalam kekacauan itu, Malrik menghilang—membawa serta Lira yang tiba-tiba pingsan oleh suara aneh yang menggema di kepalanya.
Bersambung…