Cerpen: Penjaga dan Arwah yang Terlambat Sadar

Angin malam berbisik di antara nisan-nisan yang berderet rapi. Aku menggeser duduk di bangku kayu depan gubuk penjaga. Untuk kesekian kalinya kunyalakan senter LED 900 Lumen yang baru dibelikan anakku di Shopee. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 3 pagi – waktu ketika makhluk-makhluk di antara hidup dan mati paling aktif berkeliaran.

Dia muncul tiba-tiba di depan makam nomor 45, seperti bayangan yang mengental dari kegelapan. Lelaki berjas hujan basah itu berdiri terlalu sempurna, terlalu diam, dengan wajah yang terlalu pucat untuk orang hidup.

“Kuburanku basah,” ujarnya tanpa membuka mulut. Suaranya bergema langsung di kepalaku.

Aku menghela napas. “Makam nomor berapa?”

“Tidak ingat. Tapi ada suara air menetes… terus menerus…”

Aku bangkit sambil mengutuk dalam hati. Pasti lagi-lagi masalah pipa air bawah tanah yang bocor. Sudah kulapor ke dinas terkait minggu lalu, tapi seperti biasa, urusan orang mati bukan prioritas.

Ketika sampai di blok makam baru, aku melihat genangan air di depan makam nomor 112. Nisannya masih mengkilap – Herman Wijaya, meninggal dua minggu lalu kecelakaan mobil.

“Ini kamu?”

Arwah itu mengangguk pelan. “Aku ingat sekarang. Bukan air hujan… itu infus di rumah sakit ketika aku…”

Tiba-tiba tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku mundur selangkah ketika melihat air mulai memancar dari setiap lubang di tubuhnya – mulut, hidung, bahkan pori-porinya.

“Tolong… katakan pada istriku…”

Tapi kalimatnya terputus ketika air yang keluar dari tubuhnya sudah berubah menjadi darah. Aku memejamkan mata, menunggu proses ini selesai seperti yang sudah kualami belasan kali sebelumnya.

Ketika kubuka mata lagi, yang tersisa hanya genangan air keruh dan bau besi tua. Aku menggeleng, mengambil sapu dari gubuk. Besok pagi harus kuganti bunga di makam ini sebelum keluarga almarhum datang.

TAMAT