Setiap kali ada pesanan makanan yang salah alamat, Reyhan selalu curiga. Bukan karena dia pelit, tapi karena ini sudah kejadian yang kesekian kalinya. Padahal, dia sudah memastikan alamatnya tertulis jelas di aplikasi: Jalan Melati No. 17. Tapi entah kenapa, kurirnya selalu nyasar ke Jalan Melati No. 71—rumah Siska.
“Bang, nih lagi-lagi makanan kalian sampai di rumah gue,” protes Siska suatu sore, tangan kanannya memegang nasi goreng seafood ekstra pedas, sementara tangan kirinya menahan tawa.
Reyhan menggeleng, wajahnya memerah. “Gue yakin udah bener tulis alamatnya. Mungkin si kurirnya yang ngeles.”
Siska menyeringai. “Atau jangan-jangan, ini hidden cost dari lo biar bisa ketemu gue terus?”
Reyhan tertawa geli. Tapi di balik itu, jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya, dia sudah lama nembak virtual—istilah mereka untuk mengungkapkan perasaan lewat chat—tapi Siska selalu menghindar dengan alasan takut hubungan mereka jadi awkward.
Hingga suatu malam, hujan deras mengguyur kota. Reyhan memesan STMJ panas, dan seperti biasa, pesanannya kembali salah sampai. Ketika Siska mengantarkannya ke rumah Reyhan, dia terkejut melihat cowok itu demam.
“Lo gak makan dari tadi?” tanya Siska sambil menyiapkan STMJ.
Reyhan mengangguk lemah. “Gak nafsu. Lagian, makanan favorit gue selalu salah kirim ke rumah lo.”
Siska terdiam, lalu tersenyum. “Gue tahu kenapa.”
“Kenapa?”
“Karena gue admin yang bisa auto chat kurir begitu ada notif pesanan ke alamat lo. Biar lo sering dateng ke rumah gue.”
Reyhan terbelalak. “Jadi selama ini…”
Siska mengangguk, wajahnya merah padam. “Gue juga nembak virtual, cuma lo yang gak sadar. Padahal lo tau gue kerja di aplikasi food delivery ini dan gue orang dalem.”
Malam itu, di antara aroma STMJ hangat dan derai hujan, mereka akhirnya meet the unspoken—istilah mereka untuk perasaan yang akhirnya terungkap tanpa kata.
Dan sejak saat itu, pesanan Reyhan tak pernah salah alamat lagi. Kecuali, kalau mereka memang sengaja.
TAMAT