Cerpen: Tangan Emas yang Membunuh Tanaman

Ketika surat wasiat Nenek Moira dibuka, seluruh keluarga Larsen berkumpul di ruang tengah rumah tua bergaya Victoria yang berdebu. Lampu gantung bergoyang tanpa angin, dan aroma tanah basah menguar dari ruang bawah tanah—padahal musim kemarau sudah berlangsung sebulan.

Lena Larsen, 24 tahun, seniman freelance yang gagal, duduk di kursi kayu ukiran yang mencengkram lengannya seperti tangan tak terlihat. “Keluarga kita,” kata Paman Fergus dengan suara khidmat, “adalah keturunan Penyihir Hujan dari Skotlandia.”

Lena menahan tawa. Penyihir? Tapi kemudian bibinya, Margot, mengangkat telapak tangan—dan api biru kecil menari di atas jarinya. Sepupunya, Ethan, membuat sendok perak mengapung di atas tehnya. Bahkan adiknya, Liam, yang canggung itu, bisa membuat bayangannya sendiri bertepuk tangan.

Lalu giliran Lena.

“Cobalah,” desis Nenek Moira dari foto hitam-putih di atas perapian.

Lena mengulurkan tangan ke vas bunga di meja. Dia berkonsentrasi, membayangkan bunga-bunga itu mekar subur…

Tanaman itu mengerut, layu, lalu mati dalam hitungan detik. Daunnya berubah hitam dan rontok seperti terbakar.

“Ah,” kata Paman Fergus dengan wajah datar. “Kau mewarisi Kutukan Cokelat.”

Ternyata, dalam garis keturunan penyihir Larsen, selalu ada satu anggota keluarga dengan kemampuan khusus: membunuh tanaman. Nenek buyut Lena pernah tidak sengaja menghancurkan seluruh perkebunan kentang di Irlandia.

“Ini bukan kutukan,” protes Lena saat keluarganya berkumpul untuk intervensi sihir“Aku hanya… kurang berbakat.”

“Sayang,” Bibi Margot menghela napas, “kamu membuat kaktus mati hanya dengan memandangnya.”

Lena mengubur wajahnya di tangan. Ini menjelaskan mengapa semua tanaman hiasnya mati dalam seminggu, mengapa bunga yang diberikannya pada pacar SMA-nya langsung membusuk, mengapa—

“Tunggu,” Lena mendongak. “Jika ini benar-benar ‘kemampuan’, bukankah seharusnya bisa berguna?”

Keluarga Larsen terdiam.

Keesokan harinya, Lena berdiri di depan kebun anggur milik musuh bebuyutan keluarganya, penyihir klan MacAllister. Kebun mereka terkenal subur, menghasilkan buah ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit.

Lena melepas sarung tangannya, menyentuh pagar kayu. Dia membayangkan akar-akar jahat merambat di bawah tanah, membusukkan semua yang disentuhnya.

“Apa yang kau lakukan—” teriak Ethan, tapi sudah terlambat.

Tanaman merambat mulai mengering. Daun-daun berguguran seperti hujan cokelat. Dalam lima menit, seluruh kebun anggur berubah menjadi hamparan batang kering.

“Kau gila!” teriak Bibi Margot, tapi matanya bersinar bangga.

Lena tersenyum. “Siapa bilang kutukan tidak bisa jadi senjata?”

Tepat saat itu, sekelompok orang MacAllister muncul dengan wajah merah padam. Lena mengangkat tangan—dan mereka mundur ketakutan.

“Penyihir Pembusuk!” teriak salah satu dari mereka.

Nama itu melekat.

Malam itu, di ruang bawah tanah rahasia keluarga Larsen, Lena duduk di tengah lingkaran garam dengan setengah lusin tanaman beracun di hadapannya. Bibi Margot mengangguk bangga.

“Keluarkan kemarahanmu, sayang,” bisiknya.

Lena menyentuh daun belladonna. Dalam sekejap, tanaman itu mati dan hancur menjadi debu hitam.

“Kita akan menjadikanmu senjata terhebat keluarga,” kata Paman Fergus sambil menepuk bahunya.

Lena tersenyum. Mungkin dia tidak bisa menyembuhkan atau meramal. Tapi siapa butuh sihir cantik ketika kamu bisa membuat kebun musuhmu mati dalam sekejap?

TAMAT


Istilah:

  1. Kutukan Cokelat– Julukan keluarga untuk kemampuan mematikan tanaman.
  2. Penyihir Pembusuk– Gelar yang diberikan musuh kepada Lena.
  3. Intervensi Sihir– Pertemuan keluarga untuk membahas masalah magis (parodi dari intervensi modern).