Bayu menyemburkan debu dari mulutnya. Langit di atas Gunung Kidul putih membara, tanpa secuil awan pengharapan. Kering. Selalu kering. Air sumur makin dalam, tanah makin retak. Ayahnya hanya menghela napas, memandangi ladang singkong yang merana. “Kali ini mungkin benar-benar gagal, Nak,” ujarnya lirih. Keputusasaan itu seperti debu yang menempel di kulit.
Berita tentang penambangan baru di perbukitan kapur sebelah desa menggema. “Banyak lapangan kerja!” janji para calo dari perusahaan. Tapi Bayu melihat truk-truk besar itu menggerus bukit, meninggalkan luka coklat pucat di tanah. Mbah Janu, tetua desa yang dianggap tua kolot, menggeleng khawatir. “Mereka mengganggu penunggu tempat itu. Nanti kita semua kena batunya.” Tapi siapa yang mendengarkan omongan orang tua di tengah himpitan kemarau panjang?
Suatu sore, langit yang biasanya jernih tiba-tiba diselimuti awan kelabu pekat, bergulung-gulung dengan cepat seperti amarah yang tertahan. Angin berhembus kencang, menerbangkan debu dan sampah plastik. “Awan hujan?” harap Bayu. Tapi Mbah Janu memandang langit dengan mata berkerut, wajahnya pucat. “Bukan hujan yang mereka bawa, Bayu. Itu… kemarahan.”
Dentuman pertama mengguncang genting. Bukan petir. Batu es sebesar kelereng, lalu sebesar telur bebek, menghujani bumi gersang dengan kekuatan merusak. Dug! Dug! Dug! Atap seng berdentam-dentam, daun singkong yang tersisa sobek-sobek. Warga berteriak ketakutan, berlarian mencari perlindungan. Bayu menyelamatkan diri ke gudang pupuk tua di pinggir ladang ayahnya, jantungnya berdegup kencang.
Di tengah riuh rendah dentuman es di atap seng, sesuatu menyambar pandangan Bayu. Cahaya biru samar. Di sudut gudang yang gelap, di antara karung pupuk yang berdebu, sebongkah es jatuh dari celah genting. Tapi ini bukan es biasa. Bentuknya sempurna, seperti kristal heksagonal yang dipahat oleh tangan ahli, memancarkan cahaya biru pucat dari dalam. Dinginnya menusuk tulang saat ia memungutnya.
Saat jarinya menyentuh kristal es itu, Bayu seperti tersetrum kecil. Sebuah suara bergema di kepalanya. Bukan kata-kata, tapi lebih seperti perasaan: kesedihan mendalam, kemarahan yang tertahan, dan… peringatan. Ia melihat kilasan gambar: akar-akar pohon kuno terpendam di bukit kapur, jaringan rumit seperti urat bumi yang sekarang tercabik-cabik oleh bor mesin. Dan sebuah sumber… sesuatu yang berdenyut dengan energi biru jauh di bawah tambang.
Dentuman es makin menjadi. Bayu nekat mengintip dari celah gudang. Pemandangan mengerikan: tanaman hancur, atap-atap rumah bolong. Tapi yang membuat darahnya beku adalah arah hantaman es terkuat. Batu es raksasa, sebesar kepalan tangan orang dewasa, menghujani area tambang dengan intensitas gila! Ia melihat alat berat yang penyok, tenda pekerja yang roboh, dan orang-orang berlarian panik di bawah bombardir es mematikan. Suara di kepalanya bergemuruh lebih keras: “Penjarah! Pengganggu!”
Hujan es berhenti tiba-tiba seperti dimatikan keran. Sunyi yang mencekam menyelimuti desa yang luluh lantak. Warga keluar perlahan, memandang ladang mereka yang hancur dengan air mata. Tangisan pecah. Tapi dari arah tambang, datang teriakan yang berbeda: teriakan histeris ketakutan. “Hilang! Mereka hilang!” berteriak seorang pekerja yang lari tunggang langgang. “Saat es terbesar jatuh… ada cahaya biru dari dalam lobang… lalu mereka… lenyap! Tertelan bumi!” Desas-desus tentang kutukan Mbah Janu tiba-tiba terasa sangat nyata.
Bayu masih menggenggam erat kristal es biru itu di dalam sakunya. Dinginnya tak lagi menusuk, tapi terasa… akrab. Ia memandang ke arah bukit kapur yang babak belur oleh es dan penambangan. Di antara kehancuran itu, ia melihat sesuatu yang tak terlihat orang lain: pancaran cahaya biru sangat samar, seperti nafas, keluar dari celah-celah batu yang baru terbuka. “Penjaga kembali tidur,” bisik suara itu, lemah namun lega. Bayu menarik napas dalam. Hujan es menghancurkan harapan panen, tapi juga menghentikan penjarahan bukit. Ia tahu rahasia yang mengerikan dan indah: Bumi ini bukan benda mati. Dan kadang, untuk menyembuhkan lukanya sendiri, ia harus memakai cara yang keras. Kristal di sakunya adalah bukti sekaligus peringatan. Perlawanan itu nyata, dan Gunung Kidul baru saja menyaksikan murka sang Ibu Pertiwi. Es akan mencair, tapi rasa takut—dan rahasia Bayu—akan tetap membeku jauh lebih dalam.
TAMAT