Tirai gemerlap itu menggantung seperti penghalang antara hidup dan matinya impian, sutra merah yang menyesakkan lebih dari beludru. Andre berdiri di sisi panggung, keringat dingin mengalir di tulang punggungnya meski udara AC membeku. Di luar, gemuruh kerumunan penonton terdengar seperti gelombang pasang yang siap menenggelamkannya. Jantungnya berdegup kencang, hampir menyamai tempo drum pembuka yang menggelegar dari monitor panggung. Mereka menunggumu untuk gagal, bisik suara itu, dingin dan akrab, melesak ke dalam tulang-temulangnya. Seperti dulu. Seperti selalu.
Ia menutup mata, mencoba menarik napas dalam, tapi udara terasa tipis. Jari-jarinya yang biasanya lincah menari di senar gitar kini kaku, dingin, seperti kayu mati. Bayang-bayang kegagalan konser pertamanya lima tahun lalu—senar putus, suara fals, tawa penonton—berputar-putar seperti setan di kepalanya. Suara penasihat gelapnya itu semakin nyaring: Lihat mereka? Semua orang itu hanya menunggu satu hal. Melihat si gifted kid jatuh tersungkur. Buktikan kalau mereka benar.
Sejak kecil, melodi adalah napasnya, tapi panggung adalah siksaan yang tak terelakkan. Kenangan itu menyergap. Dirinya yang berusia delapan tahun, gemetar memeguk gitar kecil di depan keluarga besar, suara indahnya tiba-tiba hilang, terkunci oleh rasa malu yang membakar. Hanya senyap yang keluar. Dan ejekan sepupunya yang masih terngiang. Suara dalam kepalanya sekarang mengejek dengan nada yang sama persis. Kau masih anak kecil itu. Tak pantas berdiri di sini. Lari saja. Kaki Andre nyaris bergerak mundur.
Tiba-tiba, di tengah pusaran kecemasan itu, sebuah suara lain muncul. Sangat lembut, nyaris tenggelam. Bukan kata-kata, tapi… melodi. Sebuah lagu pengantar tidur. Lagu yang selalu dinyanyikan ibunya saat ia demam atau ketakutan kecil. Melodi sederhana, hangat, mengalir seperti aliran air jernih di tengah gurun rasa paniknya. Ia membuka mata, terkejut. Dari mana asalnya?
Cahaya lampu sorot menyapu gelap, menyentuh wajahnya pucat, mengingatkannya pada sentuhan ibunya yang lembut. Melodi itu menguat, membawa serta gambar yang terlupakan: bukan konser keluarga yang memalukan, tapi sore-sore di teras belakang rumah. Ibunya duduk di kursi kayu, Andre kecil duduk di kakinya, kepala bersandar di pangkuan ibunya. Suara ibu yang jernih dan penuh kasih menyanyikan lagu itu sementara jemarinya kecil Andre pertama kali belajar menekan senar gitar kecilnya. “Nak, musik itu bukan untuk ditakuti,” bisik kenangan suara ibunya, jelas sekali. “Musik itu teman. Biarkan dia yang memelukmu.” Suara penasihat gelapnya terdiam sesaat, terkejut.
Andre menarik napas lagi. Kali ini, udara terasa berbeda. Masuk lebih dalam. Di kepalanya, dua suara bertarung. Yang satu menjerit ketakutan, yang lain—kenangan ibunya—berbisik lembut dan meyakinkan. Kau bisa. Karena kau mencintainya. Karena musik mencintaimu kembali. Jari-jarinya yang kaku mulai merasakan getaran kayu gitar yang digantungkan di tubuhnya. Ia merasakan lekukan bodi gitarnya, akrab seperti bagian dari dirinya sendiri.
Setiap senar adalah sungai yang pernah ia arungi, setiap nada adalah pulau yang ia kenal dalam tidur. Suara penasihat gelap mencoba kembali, lebih keras, mencoba menenggelamkan melodi kenangan itu. Mereka tidak peduli! Mereka hanya mau hiburan! Kau akan— Tapi Andre memilih untuk tidak mendengarkan. Ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada melodi pengantar tidur itu, pada rasa pangkuan ibunya yang hangat, pada getar pertama gitar di tangannya saat kecil. Kenyamanan itu, bukan kesempurnaan, yang ia pegang erat.
Ketukan intro lagu pertama menggelegar dari drum. Saatnya. Lampu panggung utama menyala, menyilaukan. Tirai merah itu mulai terbuka. Biasanya, di momen inilah rasa mual dan ingin lari itu mencapai puncaknya. Tapi kali ini, sesuatu berbeda. Di tengah silau lampu, di balik bayang-bayang penonton yang mulai terlihat, Andre melihat—atau membayangkan—sosok ibunya, duduk di barisan paling depan, tersenyum lembut padanya. Sebuah jangkar di tengah badai.
Ia melangkah maju, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai anak yang kembali ke pelabuhan pertama. Kepalanya menunduk sejenak, bukan karena malu, tapi untuk menyelaraskan diri. Jari-jarinya, yang tadi kaku, kini menyentuh senar dengan keyakinan baru. Bukan keyakinan akan kesempurnaan, tapi keyakinan akan cinta. Cinta pada musik, pada momen, pada kenangan yang menyelamatkannya. Ia mengangkat kepala. Matanya masih basah, tapi bukan oleh air mata ketakutan. Ia tersenyum kecil, untuk ibunya di barisan depan yang hanya ia lihat, dan untuk dirinya sendiri yang berani bertahan.
Lalu, jari kanannya memetik senar pertama. Bunyinya jernih, murni, mengudara seperti burung yang terbebas dari sangkar. Suara penasihat gelapnya terdengar sekali lagi, Itu nada fals!, tapi kali ini, suaranya kecil, jauh, seperti gema di gua yang ditinggalkan. Ia mengabaikannya. Ia memetik senar berikutnya, dan berikutnya. Melodi mengalir, bukan sempurna, tapi hidup, tulus, dan penuh rasa. Ia bernyanyi, suaranya sedikit gemetar di awal, tapi semakin kuat, menemukan jalannya sendiri seperti anak sungai menemukan laut. Ia tidak lagi memikirkan penonton ribuan itu. Ia hanya memainkan untuk satu penonton: bocah kecil di teras belakang dan ibunya yang tersenyum. Saat tirai jiwa terbuka lebar, yang terdengar hanyalah musik, dan bisik lirih kenangan yang telah menjadi kekuatan. Panggung bukan lagi jurang, tapi rumah.
TAMAT