Novel: Dia yang Kusimpan di Reels (19/20)

BAB 19: Memutar Ulang Cerita

“Kadang, yang kita butuhkan bukanlah akhir yang bahagia, melainkan akhir yang benar.”

Rekaman kaset tua itu masih berputar di pemutar usang, suara tangisan Rafi kecil menggema di ruang guru yang sunyi. Alya menatap layar laptop tempat mereka mengunggah file digital rekaman itu—kursor berkedip di atas tombol “upload”, seperti menantang mereka untuk membuat keputusan.

Perdebatan Terakhir

Karin: “Kita harus upload ini. Biar semua tau siapa Bima sebenarnya!”
Aldi: “Tapi itu sama aja kayak public shaming. Kita jadi sama kayak dia dulu.”
Rafi: “Gue setuju sama Aldi. Tapi… gimana kalau kita kasih dia pilihan?”

Mereka memandang satu sama lain—sebuah ide muncul.

Panggilan Terakhir untuk Bima

Alya menelepon Bima. Dua puluh deringan—tidak diangkat.

Tapi tiba-tiba…

Pintu ruang guru terbuka.

Bima berdiri di sana, wajahnya pucat, matanya merah.

“Gue… gue tau kalian bakal di sini.”

Pengakuan yang Tak Terduga

Bima menjatuhkan diri di kursi tua, tangannya menggenggam sebuah surat yang sudah kuning.

“Ini surat kakak gue. Dia bilang… film-film gue nggak layak tayang karena terlalu nggak punya hati.”

Isi surat:
“Bima, kamu jago bikin cerita, tapi selalu tentang balas dendam. Kapan kamu akan membuat sesuatu yang menyembuhkan?”

Air mata pertama Bima jatuh.

Kesepakatan Terakhir

Rafi mengulurkan tangan: “Kita lagi ngobrol sama Netflix. Mau bikin film documentary tentang cycle of bullying. Lo mau jadi bagian darinya? Tapi harus jujur. All in.”

Bima memandang mereka semua, lalu perlahan mengangguk.

“Gue… gue mau cerita yang sebenarnya. Gue capek jadi villain.”

Pengambilan Gambar Terakhir

1 bulan kemudian:

  • Mereka syuting film pendek berjudul “The Invisible Strings”
  • Bima muncul sebagai co-director yang mengakui semua kesalahannya
  • Adegan paling powerful: saat Bima dan Rafi berdebat di lokasi SD, dan akhirnya berpelukan

Tapi…

Di balik layar, Alya menemukan sesuatu di draft script Bima:

Akhir Alternatif: “Jika semua ini gagal, aku akan mengakui segalanya—dan pergi untuk selamanya.”