BAB 12: TheRealWitness Muncul
“Kebenaran itu seperti kertas origami—semakin kau lipat rapi, semakin banyak sudut tajam yang tersembunyi.”
24 jam setelah video pengakuan mereka viral, tagar #ShadowToSpeakUp sudah mencapai 10 juta views. Komentar netizen beragam—ada yang support, ada yang nyinyir, tapi mayoritas terharap melihat kejujuran mereka.
Tapi kemudian…
Sebuah komentar dari @TheRealWitness muncul di kolom komentar:
“Lucu melihat kalian pura-pura jujur. Alya, lo lupa ya ada SESEORANG yang paling menderita dalam cerita ini? Orang yang selama ini jadi alasan tanpa suara?”
Misteri TheRealWitness
Alya langsung screenshoot komentar itu dan mengirim ke grup chat mereka berempat.
Bima: “Who the hell is this?”
Karin: “Gue ngerasa ada yang nggak beres…”
Rafi: “Alya, lo ingat siapa lagi yang terlibat waktu SD?”
Alya menggigit bibir. Satu nama terlintas: “Sinta. Temen sekelas kita yang pendiam banget itu.”
Pencarian yang Mengejutkan
Karin stalk akun @TheRealWitness—tapi hanya menemukan satu postingan di highlights:
Foto potongan diary bertuliskan:
“Hari ini Alya ngejek Rafi lagi. Tapi yang paling sakit, Rafi malah ngejek aku di depan Alya biar diterima. Aku cuma ingin mereka berhenti saling menyakiti.”
Tanggal: 15 Juli 2014—persis seminggu setelah foto mereka di SD.
Rafi yang Berubah Wajah
Rafi tiba-tiba pucat. “Oh Tuhan… gue lupa kalau dulu gue pernah ikut ngejek Sinta karena tekanan sosial.”
Alya terkejut. “Lo… apa?”
Flashback:
- Rafi kecil tertawa paksa saat Alya menertawakan Sinta yang terjatuh.
- “Dasar clumsy!” kata Rafi dulu, padahal dia langsung menyesal.
- Sinta pindah sekolah tak lama setelah itu.
Konfrontasi di Malam Buta
Mereka memutuskan mengunjungi rumah Sinta—sebuah apartemen kecil di pinggiran kota.
Saat pintu terbuka, Sinta yang sekarang sudah berhijab berdiri dengan mata dingin.
“Akhirnya kalian ingat juga ya,” ujarnya tanpa senyum. “Aku tunggu 7 tahun untuk dengar permintaan maaf.”
…