Novel: Dia yang Kusimpan di Reels (18/20)

BAB 18: Ruang Guru yang Terkunci

“Kebenaran seringkali tersimpan di tempat yang paling tidak kita sangka—tersembunyi dalam diam, menunggu saatnya terungkap.”

Pagi itu, mereka berdiri di depan SD Bintang Kejora yang sudah direnovasi. Bu Tari menyambut dengan mata berkaca-kaca, genggaman tangannya pada kunci tua berkarat terlihat sangat kuat.

“Ikut aku,” bisiknya, membawa mereka ke koridor belakang sekolah—ke sebuah pintu kayu yang masih bertuliskan “RUANG GURU – DILARANG MASUK”.

Peti Kayu di Balik Lemari

Begitu masuk, debu beterbangan. Ruangan itu seperti time capsule tahun 2014.

Bu Tari membuka lemari besi, mengeluarkan:

  • Buku penghubung guru dengan catatan khusus tentang insiden bullying
  • Surat-surat siswa yang tidak pernah dibagikan
  • Sebuah peti kayu kecil berlabel “Untuk dibuka saat mereka dewasa”

Di dalam peti:

  1. Surat Rafi kecil: “Aku ingin berteman dengan Alya, tapi takut diejek.”
  2. Gambar Alya: Sketsa Aldi yang menggambar Alya sebagai peri—bukan sebagai bully
  3. Kaset rekaman: Label “Insiden Lapangan 15 Juli 2014”

Rekaman yang Mengubah Segalanya

Mereka memutar kaset itu di pemutar tua. Suara anak-anak memenuhi ruangan:

  • Suara Bima kecil: “Alya, Rafi bilang lo jelek!” (padahal tidak)
  • Suara Alya kecil marah: “Benar kata Bima, lo memang kutu buku!”
  • .. tangisan Rafi kecil: “Aku nggak bilang begitu… Bima yang bohong…”

SEMUANYA JELAS.

Bima selalu menjadi dalang.

Telepon dari Netflix

Tiba-tiba, HP Karin berdering. Nomor produser Netflix.

“Kami baru dapat informasi tentang Bima. Kontrak dibatalkan. Tapi… kami ingin bicara soal proyek baru—versi kalian yang sebenarnya.”

Pemulihan yang Tak Terduga

Di tengah kebingungan, Aldi tiba-tiba tertawa.

“Jadi selama ini… kita semua korban skenario Bima ya? Dari SD sampai sekarang?”

Rafi memandang mereka satu per satu:
“Kalau begitu… mari kita buat akhir yang berbeda.”

Alya mengangguk, mengambil kaset itu:
“Mari kita putar ulang ceritanya.”