Novel: Dia yang Kusimpan di Reels (7/20)

BAB 7: Jurnal yang Mengubah Segalanya

Kadang, kebenaran tidak datang dengan teriakan. Tapi dengan bisikan yang mengguncang jiwa.

Jari Alya menggenggam gagang pintu, dinginnya logam menusuk kulitnya. Di balik pintu itu, ada Rafi—mungkin dengan mata masih merah, mungkin dengan kepalan tangan yang baru saja menghajar sahabatnya sendiri.

Dua pilihan:

  1. Membuka pintu, mendengarkan penjelasannya—risiko tertipu lagi.
  2. Mengunci diri selamanya—tapi penasaran akan menggerogotinya.

KLIK.

Wajah yang Tak Terbaca

Rafi berdiri di teras, napasnya masih tak teratur. Bibirnya pecah-pecah, seperti memang baru bertengkar.

“Gue gak mau lo lihat video itu tanpa konteks,” ujarnya langsung, suaranya serak.

“Lalu konteks apa yang bisa bikin prank keji itu jadi acceptable?” Alya menyilangkan tangan, mencoba menyembunyikan gemetar di jemarinya.

Rafi mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah buku catatan kecil dengan sampul kulit hitam.

“Baca halaman terakhir,” dia menyodorkannya, matanya berkilau aneh. “Ini jurnal gue dari 3 bulan lalu—sebelum gue nemu akun lo lagi.”

Dengan hati-hati, Alya membukanya.

Halaman Tertanggal 14 April:
“Besok meeting sama Bima buat bahas ‘Plan A’ ngeprank mantan bully. Tapi kenapa setiap kali gue coba nulis skenario buat Alya, tangan gue gak bisa nulis? Gue harus ngakuin: 7 tahun gak cukup buat benci dia. Gue gak bisa.”

Halaman Tertanggal 20 April:
“Bima ngotot upload video ide ‘Prank Payback’ ke YouTube. Gue marah. Tapi lebih marah lagi karena… gue takut. Takut kalau Alya beneran lupa sama gue. Takut semua yang gue simpan ini cuma one-sided memory.”

Kata-kata itu terasa seperti tamparan.

Alya menatap Rafi. “Jadi… semua cheesecake, guitar playing, tahi lalat itu—”

“Gue gak bermain peran,” potong Rafi. “Gue emang always seperti ini. Cuma…” Dia menarik napas. “Gue gak pernah cukup berani buat exist di hidup lo—sampai lo bikin reels itu.”

Sesuatu yang Jatuh

Tiba-tiba, selembar foto kecil terjatuh dari jurnal itu.

Alya memungutnya—foto dirinya waktu SD sedang tersenyum, ditempeli sticky note dengan tulisan:

“Alya pertama kali tersenyum ke gue, 12 Juli 2014. Hari ini gue belajar lagu ‘Perfect’—buat suatu hari nanti.”

AIR MATA PERTAMA ALYA JATUH.