Novel: Dia yang Kusimpan di Reels (2/20)

BAB 2: DM Misterius

Aku baru buka satu pesan, tapi rasanya kayak nemu pintu dimensi lain.

Jari Alya menggantung di atas layar, jantung berdegup kencang seperti baru lari marathon. Pesan dari @/R._.F itu terlalu spesifik—strawberry cheesecake dari kafe dekat SD Bintang Kejora? Itu favoritnya waktu kecil, tapi gak ada satu orang pun yang tahu, bahkan sahabat dekatnya sekarang.

Dia menatap layar dengan tatapan kosong, otaknya berusaha memproses:

Option 1: Ini orang stalker tingkat dewa yang riset mendalam tentang hidupnya.
Option 2: Dia benar-benar kenal Alya dari dulu… dan Alya lupa.

Atau yang lebih gila—dia dulu tembok sekolah yang bisa ngobrol dan aku gak sadar.

Alya menghela napas, lalu mengetik balasan:

Alya: “Ok, ini mulai serem. Lo siapa sih sebenernya?”

R.F: “Nama gue Rafi. Tapi lo dulu manggil gue ‘Si Kutu Bau’ karena gue selalu bawa buku ke mana-mana.”

Flashback.

Alya memicingkan mata, mencoba mengingat wajah anak itu. Yang muncul di kepalanya cuma bayangan samar—kacamata tebal, baju lusuh, dan ekspresi datar setiap kali diejek. Tapi gak mungkin itu cowok yang sekarang ada di foto profil R.F.

Dia membalas:

Alya: “Sorry kalo dulu gue ikutan ngejek. Tapi lo gak mungkin Rafi itu. Cowok itu… gak segini menariknya.”

R.F: “Glow up, Aly. 7 tahun mengubah banyak hal.”

Clink.

Sebuah foto masuk ke DM-nya.

Alya membukanya—dan mulutnya terbuka.

Foto itu menunjukkan dirinya waktu SD, sedang tersenyum lebar di lapangan sekolah… dengan seorang anak laki-laki berkacamata berdiri di belakangnya, tatapannya kosong.

Itu… aku?

Alya bahkan gak ingat pernah difoto bersama anak itu.

R.F: “Gue ada di pinggir frame ini karena lo gak pernah mau foto bareng gue. Tapi gue simpan ini, karena ini satu-satunya foto kita berdua.”

Alya merasa tengkuknya mengeras. Kenapa dia menyimpan foto ini selama bertahun-tahun?

Sebelum sempat membalas, notifikasi baru muncul.

R.F mengirim sebuah link.

Dengan hati-hati, Alya mengkliknya—dan langsung terlempar ke sebuah blog pribadi yang judulnya sederhana: “The Invisible Boy”.

Postingan terbaru di blog itu adalah tulisan panjang dengan judul:

“7 Tahun Menunggu untuk Bilang: Aku Masih Ingat Segalanya Tentang Kamu.”

Alya menatap layar, darahnya berdesir dingin.