Matahari senja menyoroti debu-debu yang berputar di lorong asrama ketika Vira pertama kali melihat pintu itu—kamar 307, terkunci rapat dengan gembok berkarat, meski semua kamar lain di lantai tiga telah direnovasi. “Jangan dibuka,” kata Bu Tini, pengurus asrama, sambil menyeka keringat di dahinya. “Sudah lima tahun tidak dipakai.” Tapi justru larangan itulah yang membuat Vira penasaran.
Kunci itu ternyata mudah dibuka. Dengan senter ponsel, Vira menyapu cahaya ke dalam kamar yang penuh dengan barang-barang mahasiswa sebelumnya—buku catatan berserakan, pakaian tergantung, bahkan secangkir kopi setengah minum di meja belajar, seolah pemiliknya baru saja pergi sebentar. Yang paling aneh adalah papan puzzle di dinding, dengan ratusan keping yang tersusun membentuk wajah samar seorang pria. Vira mengulurkan tangan, menyentuh satu keping puzzle—dan tiba-tiba mendengar teriakan dari lorong.
“Kau tidak seharusnya di sini!” Seorang lelaki berdiri di pintu, wajahnya persis seperti di puzzle. Tapi sebelum Vira sempat menjawab, ia menghilang seperti asap. Yang tersisa hanya bau obat nyamuk bakar dan suara radio tua dari kamar sebelah yang memutar lagu tahun 90-an—lagu yang sama yang terus terngiang di telinga Vira sejak tadi siang.
Buku harian di bawah bantal mengungkap cerita yang membuat darah Vira membeku: pemilik kamar ini, Aldi, menghilang tanpa jejak lima tahun lalu setelah memecahkan kode dalam puzzle itu—kode yang ternyata Vira temukan tersembunyi di balik kertas dinding kamarnya sendiri. Setiap malam sejak itu, puzzle di kamar 307 bertambah lengkap sendiri, seolah tangan tak terlihat sedang menyusunnya.
Pada keping terakhir yang Vira temukan terselip di bawah kasurnya, tertulis pesan: “Cari aku di tempat kita pertama bertemu.” Instingnya membawanya ke perpustakaan kampus, di ruang mikrofilm yang berdebu. Di sana, di antara arsip koran lama, Vira menemukan foto Aldi tersenyum—berdiri persis di sebelah Bu Tini yang jauh lebih muda, dengan latar belakang kamar 307 yang baru saja dibersihkan dari coretan darah.
Kembali ke asrama malam itu, Vira mendapati kamar 307 terbuka lebar. Puzzle di dinding kini sempurna, membentuk wajah Aldi yang tersenyum sedih. Di meja, secangkir kopi masih hangat, dan radio tua memainkan lagu terputus dengan lirik: “Jangan cari aku lagi…” Keesokan paginya, kamar 307 kembali terkunci rapat. Bu Tini pucat ketika Vira menyebut nama Aldi, dan semua catatan yang Vira kumpulkan telah lenyap.
Sekarang, setiap kali Vira melewati lorong lantai tiga, ia selalu melihat bayangan seseorang berdiri di depan kamar 307—tidak pernah masuk, hanya menatapnya dengan puzzle di tangan, seolah menunggu seseorang yang berani menyusun kebenaran sampai akhir.
TAMAT