Lampu belajar di kamar indekos lantai 3 itu menyala hingga jam 3 pagi. Tick. Tick. Tick. Jarum jam dinding bersuara lantang di kesunyian. Angga menatap layar laptopnya, jemari kaku menekan tombol refresh.
“PENGUMUMAN: BEASISWA CENDANA AKAN DITUNDA.”
Tunda lagi. Ini minggu keempat. Beasiswa itu segalanya—jalan satu-satunya menyelamatkan orang tuanya dari utang, sekaligus membawanya keluar dari kosan kumuh ini. Tapi ada sesuatu yang salah akhir-akhir ini.
Creak…
Suara pintu kamar sebelah (kamar 305) berderit pelan. Lagi. Padahal kamar itu kosong sejak mahasiswinya meninggal setahun lalu—kecelakaan lab setelah gagal dapat beasiswa sama. Angga menghela. Hanya angin, katanya pada diri sendiri.
Keesokan paginya, kalkulator ilmiah kesayangannya lenyap. Semalaman ada di meja. Pagi ini: raib. Angga menggeledah seluruh kamar—tak ada. Ia teringat suara pintu kamar 305 tadi malam. Mustahil…
Malam berikutnya, ia sengaja begadang. Mataram menatap peephole pintunya. Koridor kosong, lampu temaram.
Langkah kaki pelan mendekat dari ujung koridor. Bayangan memanjang di bawah celah pintunya. Berhenti di depan kamar 305. Kreek… Pintu terbuka pelan. Tak ada suara manusia. Hanya bisikan dingin menyelinap: “Nilaaimu… tak cukup…”
Angga menjerit—suaranya tercekik ketakutan. Ia menelepon Ibu Kos.
“Kamar 305? Itu masih terkunci, Nak. Kuncinya hilang sejak… kejadian itu,” jawab Ibu Kos ketus.
Esoknya, flashdisk berisi draft proposal beasiswanya raib. Padahal ia yakin menancapkannya di laptop semalam. Angga mulai gila. Ia pasang kamera HP di kamar, arah ke pintu.
Malamnya, ia pura-pura tidur. Pukul 02.17, alarm getar di bawah bantalnya menyala. Layar HP memperlihatkan pintunya… terbuka pelan dari luar. Bayangan hitam tinggi memasuki kamar! Angga memejamkan mata, napas ditahan. Ia rasakan kehadiran itu membungkuk di mejanya.
“Kau tak layak…” bisiknya.
Angga tak tahan. Ia loncat dari tempat tidur, senter HP menyala!
Kosong.
Pintu terkunci rapat. Tak ada jejak. Tapi di meja—draft proposal skripsinya tercoret merah huruf besar: “GAGAL”.
Ia histeris. Paginya, ia temui Ibu Kos minta pindah kamar.
“Nggak bisa, Nak. Penuh. Tapi…” Ibu Kos menatapnya aneh, “Kamu yakin nggak yang ambil kalkulator sama flashdisk itu… kamu sendiri?”
“APA?!”
“Saya lihat kamu keluar kamar tengah malam tiga hari lalu. Jalan pelan, mata merem melek. Kayak orang ngelindur…”
Angga membanting pintu. Itu penghinaan! Ada yang ingin ia gagal. Dia yang di kamar 305.
Ia putuskan tidur di perpustakaan kampus. Tapi malam itu, laptopnya menyala sendiri. Layar penuh statistik nilai. IPK-nya: 3.98. Tiba-tiba, angka itu berubah drastis jadi 1.67, lalu muncul pesan merah: “KAMU SUDAH MATI”.
Angga meraih tasnya—ia harus lari dari kosan ini sekarang. Saat membuka laci, ia lihat sesuatu yang bikin darahnya beku:
Kunci kamar 305.
Dan itu… bukan kunci biasa. Gagangnya berbentuk kalkulator ilmiah mini yang dicat hitam. Persis seperti yang hilang!
Dengan tangan gemetar, ia masukkan kunci itu ke lubang kamar 305. Klik. Pintu terbuka.
Ruangan berdebu. Satu meja, tempat tidur kosong, dan… dinding penuh coretan rumus matematika dan deretan angka berulang-ulang: 3.98.
Di sudut, ada bingkai foto wajah perempuan—sang mantan penghuni. Matanya kosong. Di bawah foto, tergeletak flashdisknya!
Angga terisak. Ini gila. Ia colokkan flashdisk ke laptop. Hanya ada satu file: voice_305.m4a
Ia putar.
“…nilai kimia organik… B-… harus A… beasiswa…” Suaranya sendiri terdengar parau, berbisik-bisik panik. *”Aku harus ambil… milik Diana… IPK-nya 3.98… kunci kamarnya… di balik lemari…”*
Rekaman itu diselingi isak tangis histeris. “Maaf… Diana… aku perlu… mereka akan usir aku…”
Angga jatuh terduduk. Diana? Nama penghuni 305.
Lalu, rekaman terakhir membuat bulu kuduknya berdiri:
“Besok… aku akan jadi Diana… IPK 3.98… beasiswa pasti jadi…”
Suara itu… adalah suaranya.
Ia tak ingat apapun.
___
Keesokan pagi, Angga terbangun di kamar sendiri. Ada kopi hangat dan kue di meja. Selembar note dari Ibu Kos:
“Nak, kamu teriak-teriak tadi malam. Aku masuk, kamu tidur pulas. Ini obat dari psikiater kampus. Mereka yang hubungi aku setelah kamu bolos ujian dan curhat halusinasi beasiswa Cendana…
Beasiswa itu sudah dihentikan 2 tahun lalu. Kamu dapat suratnya bulan lalu, tapi mungkin lupa. Orang tuamu sudah bayar utang pakai warisan kakek. Mereka takut bilang karena kamu sakit keras demam minggu lalu. Segera pulang, ya?”
Di samping note, ada surat resmi kampus:
“PEMBERITAHUAN: Beasiswa Cendana tidak lagi tersedia sejak 2021. Pengumuman online adalah glitch sistem.”
Angga menatap kunci kamar 305 di tangannya—itu pembuka kaleng biasa yang dicat hitam, mirip kalkulatornya yang terjatuh di kolong tempat tidur.
Flashdisknya? Masih menancap di laptop kampus.
Suara bisik itu? Dokter bilang itu halusinasi post-demam akibat dehidrasi dan tekanan skripsi.
Dia tidak gila.
Hanya terlalu lama sendirian berperang dengan hantu-hantu yang ia ciptakan sendiri.
TAMAT