Wahyudi mengayuh sepeda motor tua menyusuri gang sempit. Sejak kecil, ia punya kemampuan aneh: melihat tali merah yang menghubungkan manusia. Hari ini, tali itu membawanya ke sebuah rumah petak berjendela pecah.
“Paket untuk Ibu Rita!” serunya. Perempuan kurus muncul dengan mata sembab. Tali merah di dadanya nyaris putus—ujungnya melayang tanpa tujuan. Kasih sayang yang tercecer mencari tempat mendarat.
Wahyudi tahu aturan: jangan ikut campur. Tapi saat melihat foto bayi di meja, ia tergelincir: “Anak Ibu pasti rindu.” Perempuan itu terisak. “Dia di panti karena aku tak bisa bayar kontrakan…” Tali merahnya tiba-tiba menyala seperti kawat membara.
Keesokan hari, Wahyudi kembali membawa nasi bungkus. “Bukan pesanan saya,” kata Ibu Rita bingung. “Pesanan langganan sebelah, tapi kebanyakan,” bohongnya. Ia melihat tali merahnya kini menguat—terhubung ke foto bayi di dinding. Kadang harapan tumbuh dari kebohongan yang tulus.
Permasalahan datang. Bos kurir marah karena Wahyudi sering terlambat. “Kau kurir atau pekerja sosial?” hardiknya. Di tengah kemarahan, Wahyudi melihat tali abu-abu tebal menghubungkan bos dengan foto istri di dompet. Kekasaran sering jadi topeng untuk luka yang tak mau dilihat.
Minggu berikutnya, Ibu Rita menghilang. Tetangga bilang ia pergi merantau. Wahyudi menemukan paket tertinggal: boneka beruang untuk anaknya. Dengan nekat, ia antar ke panti asuhan.
Gadis kecil bermata sipit menerimanya. “Mama titip ini?” tanyanya polos. Tali merah dari gadis itu melambung tinggi—menembus atap, hilang ke langit. Wahyudi tercekat. Ikatan sejati tak terhalang tembok atau jarak.
Di perjalanan pulang, motor Wahyudi mogok. Ia terduduk di halte, menatap ribuan tali merah di kerumunan orang: ada yang kuat seperti tambang, ada yang tipis seperti benang. Tiba-tiba ia lihat sesuatu yang aneh—seorang kakek tunawisma terhubung ke semua orang lewat tali emas.
“Kenapa kakek punya banyak tali?” tanya Wahyudi penasaran. Kakek itu tersenyum. “Aku dulu penjahit. Menyatukan kain-kain sobek jadi selimut.” Di tangannya, selembar kain lap usai mengelap keringat Wahyudi. Bahkan yang dianggap sampah bisa menjadi jembatan.
Badai mengguyur kota. Wahyudi berlindung di toko kelontong. Pemiliknya—Ibu Wati—memaksanya minum jahe hangat. “Kau mirip anakku,” katanya. Anehnya, tak ada tali merah di antara mereka. Kekerabatan terkadang lahir dari kehangatan yang tak berdarah-darah.
Keesokan pagi, surat pemecatan menunggu. Tapi di meja bos, ada boneka beruang identik milik Ibu Rita. “Anakku di panti menyukainya,” kata bos sambil menahan haru. Tali abu-abunya berubah merah muda.
Wahyudi menganggur kini. Ia jadi sukarelawan antar makanan untuk lansia. Di rumah jompo, ia temui Kakek Karyo—tunanetra yang selalu menyimpan permen karet. “Untuk cucuku,” katanya. Padahal tak pernah ada yang menjenguk.
Suatu senja, Wahyudi duduk di taman. Ia lihat Kakek Karyo “menjahit” udara. Tali-tali perak muncul dari jarinya, menyambung ke anak-anak yang lewat. Seorang balita mengambil permen darinya lalu tersenyum. Kasih sayang sejati tidak butuh mata untuk melihat.
Hujan turun lagi. Wahyudi memandang langit. Untuk pertama kali, ia lihat talinya sendiri—merah terang membentang ke cakrawala, di mana seorang perempuan mirip ibunya sedang menyulam awan. Barangkali kita semua terhubung pada sesuatu yang tak terlihat.
Motor tua itu kini ia pakai antar obat gratis. Saat melintasi panti asuhan, seorang gadis kecil melambai. Tali merahnya yang dulu menembus langit, kini terikat kuat di pergelangan tangan Wahyudi.
“Kapan mama datang?” tanyanya. Wahyudi mengeluarkan surat dari Ibu Rita—tanda ia mulai kerja di kota. “Mama sibuk menjahit mimpi untukmu,” bisiknya sambil menyelipkan permen karet pemberian Kakek Karyo. Kadang pengantar pesan adalah jahitan sementara antara rindu dan harapan.
Esoknya, Wahyudi dikejutkan tamu: Ibu Rita berdiri di depan pintu dengan koper butut. “Tali merahmu mengantar saya pulang,” katanya misterius. Di belakangnya, bos kurir tersenyum sambil memegang surat rekrutmen.
Saat mereka pergi ke panti asuhan, Wahyudi perhatikan tangannya sendiri. Tali merah tipis mulai tumbuh ke arah tak dikenal—mungkin untuk seseorang yang akan ia temui besok. Kehidupan adalah mengantar dan menerima paket tak terduga.