Prolog: Seorang penulis pidato yang terkenal kehilangan kendali atas kata-katanya sendiri ketika sebuah suara asing di kepalanya mulai menyusun kalimat-kalimat yang lebih jujur—dan lebih mematikan—daripada yang pernah dia utarakan.
Ia tersenyum padaku dari balik kaca, bibirnya meregang dalam bentuk yang tidak pernah kumiliki, mata hitamnya—terlalu hitam—menatap langsung ke inti ketakutanku, sebelum aku sempat membalikkan badan untuk memastikan tidak ada apa-apa di belakangku. Ketika aku menatap kembali, hanya pantunanku yang pucat dan terperangkap dalam kerangka jendela kafe yang kotor yang terlihat, tangan gemetar mencengkeram cangkir kopi yang sudah dingin. Tapi kepastian itu datang terlambat; sidik jari kegelisahan itu sudah melekat, seperti noda kopi di serbet kertas.
Semuanya bermula sepekan lalu, mungkin. Bayangan itu, dalam cermin kamar mandi apartemenku yang remang-remang, sepertinya… bernafas lebih dulu dari tubuhku sendiri. Hanya sepersekian detik, selisih yang bisa dianggap trick of the light, ilusi kelelahan setelah tenggat proyek ilustrasi yang brutal. Tapi semakin kusadari, semakin sering itu terjadi: gerakan kecil yang tak sinkron, kedipan yang tertunda, atau tatapan yang bertahan sepersenyum detik lebih lama setelah aku memalingkan muka. Aku, Kai, yang selalu mengandalkan pengamatan untuk mencari nafkah, tiba-tiba merasa menjadi objek pengamatan yang paling intim dan mengganggu.
Kebiasaan kecilku berubah menjadi ritual pengawasan. Aku memasang lampu terang di depan cermin, membeli lampu meja tambahan, bahkan mempertimbangkan untuk menutupi semua permukaan reflektif dengan kain hitam. Tapi ketakutan itu tidak bisa dikurung; ia merembes keluar. Bayangan di jendela toko yang seharusnya mengikuti gerakanku, terlihat mempertimbangkan langkahnya sendiri terlebih dahulu. Pantulan di gagang pisau dapur berkilat seolah menyipitkan mata. Suatu malam, ketika aku terjaga karena suara gesekan samar—seperti kuku di kayu—aku menyapu senter ponsel ke sudut-sudut kamar tidur. Tidak ada. Hingga cahayanya menyapu permukaan lemari es. Di sana, dalam pantulan yang buram, sosok hitam pekat itu berdiri tegak di tengah ruangan, tidak bergerak, padahal aku sedang jongkok di lantai. Jantungku berhenti. Aku memutar badan begitu cepat hingga hampir terjatuh. Kosong. Ruangan itu kosong, sunyi, dan dingin. Tapi udara terasa kental dengan kehadiran yang baru saja pergi.
Paranoia tumbuh subur seperti jamur di tembok lembab apartemen tua ini. Aku mulai mencurigai suara-suara tetangga di lorong—apakah mereka benar-benar ada, atau hanya bisikan yang direkayasa untukku? Paket yang tidak dipesan muncul di depan pintu: sebuah kotak kardus kecil, ringan, tanpa alamat pengirim. Berisi satu buah kaca pembesar tua, kusam, dan berdebu. Alat untuk melihat lebih dekat. Untuk mengamati apa? Kulitku sendiri? Garis-garis tangan? Aku melemparkannya ke tempat sampah, tapi keesokan harinya, kaca pembesar itu tergeletak di atas meja kerjaku, tepat di sebelah tablet grafis. Keringat dingin membasahi punggungku. Tidak ada tanda-tanda orang masuk. Pintu dan jendela terkunci rapat. Satu-satunya penjelasan adalah aku yang meletakkannya di sana, dalam keadaan tidak sadar, atau… ia yang melakukannya. Makhluk pantulan itu. Yang semakin sering kulihat dalam sudut pandang mataku, selalu menghilang ketika aku berbalik.
Tidur menjadi mimpi buruk yang terjaga. Aku bermimpi berdiri di depan cermin yang tak berujung, dan bayanganku—dengan wajahku yang asli tapi ekspresi yang asing dan licik—melangkah keluar, mendorongku masuk ke dalam dunia kaca yang dingin dan tanpa warna. Aku terbangun terisak, tangan meraba-raba wajah sendiri untuk memastikan aku masih di sini, masih nyata. Tapi bagaimana membuktikan kenyataan ketika panca indera dikhianati?
Aku mulai memotret diriku sendiri secara obsesif, berpuluh-puluh foto sehari, mencari ketidaksinkronan, bukti visual bahwa bayangan itu hidup. Gambar-gambar itu tampak normal. Terlalu normal. Hingga suatu sore, saat aku memeriksa galeri, ada satu foto yang berbeda: diambil di dapur, aku sedang menatap keluar jendela. Tapi di jendela itu, bukan pantulan langit sore yang terlihat, melainkan wajah lain—wajahku sendiri, tapi distorsi oleh kebencian dan kepuasan yang mengerikan—menatap lurus ke lensa dari luar. Padahal, apartemenku di lantai sembilan.
Hubunganku dengan dunia luar mengering. Telepon dari agen, dari teman, bahkan dari keluarganya sendiri, aku abaikan. Suara mereka terdengar jauh, tidak relevan, seperti siaran radio dari ruang yang berbeda. Yang nyata hanyalah apartemen ini, cermin-cerminnya, dan kehadiran yang selalu mengintai di ambang persepsi. Aku menemukan coretan-coretan tipis di dinding dekat cermin kamar mandi—garis-garis acak yang membentuk pola hampir seperti sirkuit, atau sarang laba-laba. Aku tidak ingat membuatnya. Bau aneh kadang menyengat—bau logam tua dan tanah basah, meski tidak ada sumbernya. Kecoa-kecoa yang biasanya merayap di malam hari menghilang. Apartemen itu menjadi ekosistem yang terisolasi, dan aku adalah tikus laboratorium yang sedang diamati.
Puncaknya adalah suara itu. Suara ketukan pelan, berirama, persis tiga kali, berasal dari dalam dinding di sebelah tempat tidur. Tok. Tok. Tok. Seperti kode. Itu terjadi setiap malam, tepat pukul tiga pagi. Aku menghantam dinding itu dengan tinju, berteriak agar berhenti, tapi suara itu hanya berhenti sebentar sebelum kembali lagi, lebih pelan, lebih… mengejek. Aku membor dinding, memecahkan plester, mencari sumbernya. Hanya kabel listrik tua dan pipa air yang berkarat. Tidak ada yang bisa membuat suara seperti itu. Kecuali jika suara itu bukan berasal dari dinding fisik, melainkan dari sesuatu yang ada di sisi lain persepsi. Dari tempat bayanganku tinggal.
Aku tidak bisa lagi membedakan. Apakah aku yang kehilangan akal, ataukah dunia ini memang telah retak, memungkinkan entitas dari cermin itu masuk? Atau lebih buruk lagi—apakah aku selalu hanyalah pantulan? Sebuah proyeksi dari sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih tua yang berdiam di tempat yang sunyi dan reflektif? Pikiran ini menggerogoti, seperti larva di dalam tengkorak. Wajahku di cermin terlihat semakin asing, semakin lelah, semakin… terpisah. Mataku tampak lebih cekung, garis mulut lebih keras. Kadang, saat aku tidak fokus, bibirnya seolah bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara yang tidak bisa kutebak. Aku mulai menghindari semua pantulan. Menutup mata saat melewati jendela toko. Mematikan layar ponsel. Tapi ketakutan itu menemukan jalan lain. Di ujung lorong apartemen yang panjang dan hanya diterangi lampu neon yang berkedip-kedip, kadang kulihat sosok hitam berdiri di depan pintuku. Tak bergerak. Menunggu. Ketika aku mendekat, ia menghilang begitu saja, seperti asap, atau seperti pantulan yang padam.
Malam ini, lampu neon di lorong mati total. Hanya cahaya redup dari bawah pintuku yang menerangi kegelapan seperti kunang-kunang. Ketukan di dinding terdengar lagi. Tok. Tok. Tok. Lebih dekat. Lebih… personal. Aku merangkak keluar dari tempat tidur, bukan lagi karena ingin menyelidiki, tapi karena dorongan panik yang buta. Aku harus melihat. Aku harus mengetahui.
Dengan senter ponsel yang gemetar di tangan, aku membuka pintu apartemenku perlahan. Lorong itu kosong, sunyi, dan gelap gulita di luar lingkaran cahaya kecilku. Aku mengarahkan senter ke ujung lorong. Tidak ada apa-apa. Hanya pintu besi tangga darurat di ujung. Aku menarik napas lega, sebentar. Lalu, naluri primitif itu menyergap—perasaan mengerikan bahwa aku tidak sendirian. Bahwa sesuatu berada tepat di belakangku, di dalam apartemenku sendiri, menunggu aku berbalik. Dingin menusuk tulang belakangku. Perlahan, sangat perlahan, aku mulai memutar badan, senter ponsel terangkat, siap menyinari wajah teror yang kuyakin akan kulihat.
Cahayanya jatuh pada cermin besar di seberang pintu masuk—cermin dekoratif tua yang selalu kututupi dengan kain, tapi kain itu kini terlepas, tergantung setengah terbuka. Dan di sana, dalam bingkai kayu yang gelap, bukan pantulanku yang terlihat. Yang ada adalah kegelapan pekat, bentuk yang tidak jelas seperti asap tebal yang bergeliat.
Lalu, dari dalam kegelapan itu, dua titik cahaya muncul—dingin, kuning pucat, seperti mata kucing tapi tanpa jiwa. Mereka menatapku. Dan di antara kedua titik itu, dalam bayangan yang lebih gelap lagi, terbentuk sebuah senyuman. Senyuman yang sama yang kulihat di kafe minggu lalu. Senyuman yang tidak pernah menjadi milikku. Tubuhku membeku. Napas tertahan. Senter ponsel jatuh dari genggamanku yang kaku, menghantam lantai kayu dengan suara keras, dan padam. Dalam kegelapan total yang tiba-tiba, hanya dua titik kuning pucat itu yang masih terlihat, mengambang di udara, mendekat. Sangat mendekat. Dan telingaku menangkap suara desisan, seperti udara yang ditarik melalui celah sempit, atau seperti… tawa yang teredam.
Lalu, kegelapan itu menjadi satu. Tidak ada lagi lorong. Tidak ada lagi pintu apartemen. Tidak ada lagi perbedaan antara di dalam dan di luar. Hanya kehampaan yang dingin dan sunyi, dan perasaan aneh bahwa aku sedang… diamati dari luar diriku sendiri. Dari suatu tempat yang sangat jauh, atau mungkin sangat dekat, terdengar suara ketukan terakhir. Tok. Dan kemudian, hanya ada senyuman itu, terpatri di kegelapan, dan rasa logam di lidahku yang bukan darah, tapi seperti kenangan akan sesuatu yang pernah hilang. Suara gesekan—kuku di kayu—kembali terdengar, sekarang dari dalam kepalaku sendiri, menandai batas-batas sel barunya.
TAMAT