Sinar jingga senja menyapu desa kecil di Jawa Timur ketika Jarwo (10 tahun) meringkuk di teras rumah kayu, matanya tak lepas dari layar ponsel berdebu. Jarinya menari cepat di game Battle Legends, sementara keringat mengalir di pelipisnya. Tak jauh di sana, Kakek Marto (65 tahun) berlutut di tanah lapang, tangan keriputnya merangkai bilah-bilah bambu menjadi perangkap jangkrik.
“Dik, lihat langit merah itu! Seperti lukisan Dewi Sri,” panggil Kakek dengan suara serak.
“Sebentar, Kek! Musuh akhirnya muncul nih,” jawab Jarwo tanpa mengangkat kepala. Kakek menghela napas panjang, mengenang masa kecilnya di desa ini—saat anak-anak berlarian mengejar capung di sawah, bukan terpaku pada cahaya buatan.
Keesokan pagi, teriakan Jarwo memecah keheningan. “Kuota habis, Ma!” Ia mondar-mandir gelisah seperti ayam kehilangan induk. Kakek Marto mendekat dengan senyum misterius, membawa kotak kayu usang bertuliskan “Kenangan 1975”. “Ayo kita buka harta karun ini,” bisiknya.
Jarwo mengernyit saat melihat isi kotak: biji sawo mengkilap, gundu warna pelangi, dan papan congklak lapuk. “Mainan jadul begini?” gerutunya. Dengan sabar, Kakek menggambar tujuh lubang di tanah dengan tongkat. “Ini congklak, Dik. Lebih seru dari game online!”
Awalnya Jarwo ogah-ogahan. Tapi saat Kakek memindahkan biji dengan lincah—jari-jarinya menari seperti penari topeng—Jarwo terpana. “Caranya gimana, Kek?” tanyanya penasaran. Mereka pun duduk berhadapan, biji-biji sawo berpindah dari lubang ke lubang di bawah rindang pohon nangka.
Matahari terbenam ketika pertandingan berakhir. “Kalah lagi!” Jarwo mengeluh, tapi matanya berbinar. “Kakek hebat sekali!” Kakek mengusap kepala cucunya. “Dulu Kakek main setiap hari selepas memandikan kerbau. Tak ada yang kalah atau menang—yang ada tawa riang bersama teman.”
Esoknya, Kakek menggandeng Jarwo ke belakang rumah. “Kita berburu harta karun hidup,” ujarnya sambil menyodorkan senter tua. Di balik batu kali besar, mereka menemukan kerajaan kecil: puluhan jangkrik bersembunyi di balik rerumputan. “Ambil satu untuk teman barumu,” bisik Kakek.
Jarwo tertegun ketika seekor jangkrik hitam mengeluarkan suara nyaring dari kotak kardusnya. Kriiit… kriiit… “Ia menyanyikan lagu untukmu,” kata Kakek. Malam itu, Jarwo tertidur dengan suara jangkrik sebagai pengantar mimpi—pengganti musik dari ponselnya.
Hujan deras mengguyur tiga hari kemudian. Jarwo merengek bosan di kamar. Tiba-tiba matanya menangkap kotak congklak di sudut lemari. “Ayo, Adik! Kita main!” teriaknya pada adik perempuannya. Suara tawa dan gemerisik biji sawo segera memenuhi rumah.
Kakek Marto mengintip dari balik pintu. Dadanya hangat melihat Jarwo mengajari adiknya dengan sabar. “Lubang istananya diisi lima biji, Dek!” bimbing Jarwo. Cahaya ponsel terlupakan di atas meja, layarnya redup tak tersentuh.
Malam itu, Jarwo menemukan Kakek di gudang. “Apa yang Kakek lakukan?” tanyanya. Kakek tersenyum, menunjukkan ponsel butut. “Kakek mau lihat foto-foto kamu waktu kecil… tapi tak tahu caranya.” Jarwo duduk di sampingnya, jemarinya dengan lembut menuntun jari keriput Kakek menyentuh layar. “Ini tombol galeri, Kek.”
Di teras rumah, kotak jangkrik berdampingan dengan congklak. Jarwo memandang langit berbintang. “Kek, besok kita cari capung ya?” Kakek mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Kakek tunggu di kebun jam empat sore. Jangan telat!”
Ketika bulan purnama menggantung tinggi, Jarwo menulis di buku hariannya: “Hari ini aku menemukan dua dunia—dunia Kakek yang penuh petualangan, dan dunianya yang ingin belajar duniaku.” Di luar jendela, nyanyian jangkrik menyatu dengan desir angin, mengiringi mimpi indah tentang esok hari.