Aku menyimpan uang receh di kaleng bekas biskuit, di balik lemari kamar. Sudah lima bulan aku bekerja serabutan selepas sekolah—membersihkan garasi tetangga, menjual kue buatan ibu, atau menjaga Warung Madura milik pak Munir. Semua demi satu tujuan: jam tangan merek Aristo yang ayah selalu pandangi di etalase toko jam di mall.
Ayah akan pensiun bulan depan setelah tiga puluh tahun jadi “staf keuangan” di perusahaan tekstil. Setiap pulang kerja, ia meletakkan tas kulit usangnya di kursi kayu, wajahnya keriput oleh letih. Aku ingat betul ia pernah berkata, “Kerja kantor itu menguras jiwa,” sambil memijat pelipisnya yang beruban.
Kaleng biskuit itu semakin berat. Kulihat koin-koin perak dan lembaran ribuan berdesakan di dalamnya, baunya apek dan harapan. Tanganku kapalan karena menyekop sampah dan mengangkat karung beras, tapi bayangan senyum ayah saat menerima jam itu menghapus semua sakit.
Hari ini akhirnya tiba. Aku berdiri gemetar di depan toko perhiasan, memandangi jam Aristo berpita emas di balik kaca. Petugas mengeluarkannya dengan sarung tangan putih, matanya menyipit curiga saat aku mengeluarkan uang receh dari kantong plastik.
Jam itu kini terbungkus kertas kado biru, dihiasi pita emas tipis. Kurasakan detaknya seakan hidup di genggamanku, denyutnya seirama dengan jantungku. Ayah pasti akan menangis. Selama ini ia hanya pakai jam plastik seharga dua puluh ribu yang kadang terlewat jarum menitnya.
Sore itu, kuhias meja makan dengan taplak putih dan kue bolu kesukaan ayah. Aku memakai baju kotak-kotak pemberiannya tahun lalu, yang kini sempit di bahu. Ibu memandangku sambil tersenyum, tangannya sibuk memotong wortel untuk sayur sop.
Pintu depan berderit. Ayah muncul dengan kemeja lusuh yang kancing ketiganya hilang, tas kulitnya lebih penyok dari biasa. Matanya merah, tapi senyumnya merekah saat melihat kue di meja. Ia mengangguk padaku, lalu menuju kamar mandi.
Naluriku berteriak untuk segera memberikan kado itu. Kudekati kamar mandi, kudengar gemericik air dan suara erangan lelah. Kugenggam kotak kado erat-erat, telapak tanganku basah oleh keringat.
Saat ia keluar dengan ramah basah, kuulurkan kotak biru itu dengan dua tangan. Bibirku bergetar, tapi tak ada kata keluar. Ayah membukanya perlahan, matanya membesar saat melihat jam Aristo berkilau di balik plastik pembungkus.
Wajahnya berubah. Senyumnya raib, digantikan kerutan dalam di dahi. Tangannya menggigil, urat lehernya menegang. Ia menatap jam itu seolah itu racun, lalu melemparkannya ke sofa. Kotak kadunya terpental ke lantai.
Aku terduduk lemas. Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang tak kupahami. Ibu memelukku dari belakang, tapi aku melihat air matanya jatuh di bahuku. Ayah berbalik, langkahnya berat menuju jalan. Tanpa pikir, kuikuti dari kejauhan.
Ia berhenti di sudut jalan gelap, di depan mobil sedan butut warna hijau. Seorang pria berkemeja rapi membayarnya lima puluh ribu setelah turun. Ayah menyembunyikan tas kulitnya di kolong jok, lalu menggosok wajahnya yang lesu. Di pergelangan tangan kanannya, tergantung jam plastik murahan—persis seperti yang dipakai penumpangnya tadi. Jam Aristoku masih terbungkus plastik, tergeletak di jok depan, memantulkan cahaya lampu jalan yang pucat.
Ayah marah karena jam mewah itu mengungkap kebohongannya selama ini. Ia bukan karyawan kantor, melainkan sopir taksi gelap. Jam Aristo adalah simbol kegagalannya—merek yang ia lihat di pergelangan penumpang kaya, mengingatkan bahwa ia tak mampu memberi lebih untuk keluarga. Aku justru menyakiti ayah yang malu pada realitanya.
TAMAT