Cerpen: Koming Kucing dan Sang Peniru Gadungan

Matahari pagi menyembul di antara genting, menyapu embun yang menggantung di daun jambu air seperti Ratna Mutu Manikam. Di atas pagar kayu yang lapuk, Koming—kucing belang coklat-putih bermata biru safir—sedang mengatur strategi perburuan sempurna terhadap capung yang sedang terpesona cahaya. Telinganya yang runcing bergerak-gerak halus, radar alami yang tak pernah bohong. Tiba-tiba, dari seberang rumah yang lama kosong, sebuah suara serak-serak basah menyambar udara: “Kriiing! Telepon! Telepon!” Koming terkejut, melompat setinggi bantal, capung pun kabur. Matanya menyipit, penuh curiga. Rumah itu kini berpenghuni? Dan penghuninya… bersuara aneh?

Keesokan hari, misteri itu terungkap. Di teras rumah baru, tergantung sangkar besi berhias ornamen. Di dalamnya, sesosok makhluk berbulu hijau-metalik dengan paruh bengkok bak pedang kecil sedang mencakar-cakar jeruji. “Selamat pagi, bossss!” sahutnya tiba-tiba saat Koming lewat, suaranya parau tapi lantang, seperti tukang bakso yang kehabisan nafas. Koming mendekam, bulu tengkuknya merayap pelan. Ini bukan kawanan burung pipit yang bisa diusir dengan desisan. Ini… sesuatu yang bisa bicara! Ancaman baru bagi kedaulatannya sebagai penguasa pagar!

Perang dingin pun dimulai. Setiap kali Koming mencoba tidur siang di dahan mangga, sang beo—yang ternyata bernama Bibo—berteriak: “Bangun! Bangun! Ada tikus!” Koming terjaga, jantung berdegup kencang, hanya untuk menemukan… angin yang menggerakkan daun. Saat Koming sedang asyik menjilati bulu perutnya dengan khidmat, Bibo memekik: “Cieeee… mandiii!” disertai suara ciuman berdecak. Koming tersipu malu (meski bulunya menutupi), lalu mendesis marah. Si hijau ini tak tahu sopan santun!

Ketegangan memuncak suatu sore. Koming, setelah mengumpulkan nyali sebesar kacang kedelai, memutuskan untuk mengeksplorasi sangkar Bibo. Dengan langkah ninja, ia melompat ke atap sangkar. Matanya menyorot tajam. “Siapa kau?” tiba-tiba Bibo bersuara, menirukan nada berat Pak RT. Koming kaget, kaki belakangnya terpeleset. Klak! Kakinya yang gemuk tersangkut di jeruji atas. Koming tergantung terbalik! Perut bulatnya terpampang, kaki-kaki menggapai udara tak karuan. “Tolong! Maling! Maling!” teriak Bibo dengan suara nyaring seperti alarm toko.

Pintu rumah baru terbuka. Bu Tari, pemilik Bibo, muncul dengan wajah bingung. Melihat Koming yang terjebak seperti boneka kucing rusak, ia tertawa terpingkal-pingkal. “Dasar Koming usil!” Koming merintih malu. Tapi malapetaka belum selesai. Bibo, melihat tuannya tertawa, ikut bersorak: “Wkwkwk! Kucing goblok! Kucing goblok!” dengan intonasi persis suara anak SMA. Koming mendengus, matanya menyala biru penuh dendam. Ini perang.

Keesokan pagi, Koming menyusun balas dendam. Ia membawa “senjata rahasia”: seekor belalang sembah hijau yang baru ditangkapnya. Dengan lompatan penuh percaya diri, ia mendarat di depan sangkar Bibo. “Lihat ini, si Peniru!” pikirnya bangga, melepas belalang sembah yang langsung merayap di jeruji. Bibo mengamati, kepalanya miring. “Hiii… seram!” jeritnya tiba-tiba dengan suara cempreng Bu Tari ketakutan. Belalang sembah terkejut, sayapnya terkembang—lalu terbang tepat ke dalam sangkar! Bibo panik, terhuyung mundur, teriakannya jadi kacau-balau: “Pergi! Bukan aku! Alarm kebakaran! Alarm kebakaran—!” sambil menabrak-nabrak jeruji. Koming, dari luar, mengibaskan ekor dengan puas. Karma.

Tapi tiba-tiba, belalang sembah itu melompat ke kepala Bibo! Bibo membeku, matanya bulat seperti kelereng hijau. Lalu, dengan suara lirih yang tak pernah Koming duga, ia berkata: “Tolong… sayang?” menirukan nada merengek anak tetangga. Koming terdiam. Ada sesuatu yang lucu sekaligus memilukan di situ. Dengan gerakan lambat, Koming mengulurkan cakarnya melalui jeruji, menyambar belalang sembah dengan gesit. “Hmph,” desisnya, melepas si hijau kecil ke udara.

Sejak hari itu, gencatan senjata tak resmi terjadi. Bibo masih suka meneriakkan “Koming gendut!” saat si kucing lewat, tapi diiringi suara decak pakan biji-bijian yang ia jatuhkan sengaja ke tanah. Koming, meski tetap angkuh, mulai duduk di dekat sangkar saat matahari terik, seolah menjaga. Suatu hari, saat anjing liar mendekat, Bibo memekik: “Pulang! Bahaya! Bahaya!” dengan suara raungan Pak Satpam kompleks. Koming melompat, punggung melengkung siap serang—dan anjing itu pun kabur.

Kini, pagar kayu itu punya dua penjaga: satu dengan cakar, satu dengan paru-paru besi. Dan kalau kau dengar suara “Diam! Tidur!” di tengah malam, itu pasti Bibo menegur Koming yang sedang mengejar cicak. Atau suara “Bibo baik!” yang kedengaran setelah Koming diam-diam menaruh kadal kecil di depan sangkar. Perang mulut tetap ada, tapi di balik teriakan “bege!” dan “beo ompong!”, ada kesepakatan tak tertulis: trotoar depan rumah baru adalah zona netral, dan matahari sore adalah gencatan senjata untuk tidur siang bersama. Di sudut permukiman itu, drama kucing dan burung beo terus berlanjut—penuh teriakan, saling ejek, tapi juga… sedikit persahabatan yang disangkal dengan sangat keras. “Sahabat? Nggak ah! Cuma tetangga!” kira-kira begitu Bibo akan menjawab, jika kau tanya.

TAMAT