Matahari pagi menyinari kampung Nelayan Branta Pesisir (Madura) ketika Pak Dirga menemukan bendera merah putih tua tergeletak di muara. Kainnya compang-camping, terkoyak badai semalam. Dengan hati-hati ia melipatnya, ingatannya melayang ke upacara sekolah dulu saat ia menjadi pengibar bendera.
“Bendera kita harus diganti, Pak RT!” seru Bu Dian sambil menunjuk tiang kosong di balai desa. Warga ramai berdebat—uang kas kampung habis untuk perbaikan jembatan. Tiba-tiba, seorang bocah bernama Tirto mengacungkan celengan berbentuk becak: “Aku punya tabungan!” Mata warga berbinar, satu per satu mereka menyumbang recehan.
Esoknya, bendera baru berkibar gagah. Tapi keesokan pagi, kain itu robek memanjang seperti disayat pisau. Warga gempar. “Pasti tangan jahil!” geram Pak RT. Mereka memasang kamera pengintai. Malam harinya, layar monitor menangkap gambar tak terduga: seekor elang botak mencakar bendera, cakarnya tersangkut benang layangan putus.
“Elang itu hanya mencari sarang,” bisik Pak Sudarman, penjaga hutan bakau. Ia mengajak warga ke pulau kecil tempat elang-elang bersarang. Di sana, mereka terpana—puluhan bendera merah putih robek melapisi sarang burung-burung langka itu. “Mereka mengira kain merah putih adalah bunga karang…”
Warga punya ide gila. Mereka menjahit ratusan potong kain perca merah putih menjadi “bendera raksasa” khusus untuk sarang elang. Saat bendera buatan itu ditaruh di pulau, elang-elang tak lagi mendekati balai desa. Tapi tiga hari kemudian, badai besar datang.
Angin menerjang hingga atap balai desa terbang. Warga berhamburan menyelamatkan dokumen. Tiba-tiba teriakan Tirto memecah kepanikan: “Lihat! Bendera kita!” Bendera di tiang tinggi itu terkoyak separuh, tersisa warna putih saja berkibar liar. Seorang pemuda nekat memanjat tiang yang goyah.
Di puncak, tangannya hampir meraih tali bendera ketika petir menyambar tiang besi. Pemuda itu jatuh terpelanting. Semua berteriak. Tapi ajaib—ia mendarat di tumpukan terpal bendera elang yang terbawa angin. “Bendera itu menyelamatkanmu!” seru Pak Dirga.
Keesokan pagi, desa porak poranda. Bendera Indonesia yang tersisa separuh putih masih berkibar. Tiba-tiba deru helikopter pemerintah meraung di udara. Mereka turun membawa bantuan logistik. “Kami kira daerah ini sudah tak berpenghuni—bendera putih tanda menyerah!” kata petugas.
Warga terdiam. Mereka tak sadar bendera robek itu terlihat seperti bendera putih dari udara. “Tapi kami tak menyerah!” batah Tirto. Petugas itu tersenyum: “Kalian punya semangat merah-putih di hati.” Bantuan pun mengalir.
Malam itu, warga berkumpul di balai darurat. Mereka merobek bendera robek itu—kain merah dibagi untuk membalut luka, kain putih untuk membungkus bayi yang baru lahir. Bendera fisik lenyap, tapi gambar merah putih diplester luka ada di mana-mana.
Dua minggu kemudian, tunas hijau muncul di tiang bendera yang patah. Akar-akar kecil merambat dari tanah, membungkus besi berkarat. “Ini pohon kebangsaan kita,” bisik Pak Sudarman pada Tirto. Anak itu meletakkan bibit flamboyan di pangkal tiang.
Ketika musim berganti, kembang merah menyala mekar di bekas tiang bendera. Warga menyebutnya “Pohon Merah Putih”. Setiap hari Senin, anak-anak berkumpul di bawah naungannya, bernyanyi tentang elang dan akar yang tak pernah putus.
Suatu senja, Tirto melihat sesuatu berkilat di antara akar pohon. Ia menggali pelan—sebuah kotak logam berisi bendera tua yang ditemukan Pak Dirga di muara. Kain usang itu kini dibungkus plastik rapi, bertuliskan: “Simpan untuk yang akan tersesat.”
Tirto memandang ke laut. Di kejauhan, perahu nelayan asing terlihat mengapung. Ia tersenyum, menggantungkan kotak itu kembali di akar pohon. Angin berbisik membawa bau garam, sementara pohon flamboyan menjatuhkan satu kelopak merah ke pelupuk matanya.