Cerbung: Resep Cinta di Pasar Terong Makassar (1/3)

Bagian 1: Cinta Rasa Cuko

Matahari musim kemarau di Makassar menyengat seperti wajan panas, menyiram Pasar Terong dengan cahaya kuning keemasan yang menyoroti debu-debu beterbangan. Di antara hiruk-pikuk pedagang ikan asin yang berteriak harga dan aroma rempah pala yang menusuk hidung, Yuri (22 tahun) dengan cekatan mengatur panci-panci besar di warung “Coto Nenek”, warung keluarga yang telah berdiri sejak zaman nenek buyutnya. Keringat mengalir di pelipisnya, tapi senyum tak pernah lepas dari wajahnya setiap melihat pelanggan setia menyeruput kuah coto yang ia racik dengan resep turun-temurun.

Pagi itu, seperti biasa, ia menyiapkan “cuko” – saus rahasia berbahan dasar cuka, cabai rawit, dan rempah legendaris yang membuat coto Makassar tak tergantikan. Tangannya menumbuk lumat bawang putih dan kemiri di lumpang batu sambil sesekali melirik foto kakek buyutnya yang tergantung di dinding kayu warung, seolah meminta restu. “Jangan lupa, Yuri,” bisik ibunya dari dapur belakang, “cuko harus pas pedasnya, bukan hanya buat lidah terbakar, tapi bikin hati rindu!”

Saat jam sarapan tiba, kerumunan pelanggan memadati bangku-bangku kayu panjang. Di tengah keriuhan itu, Yusuf (25 tahun) muncul dengan kemeja lengan pendek necis dan kamera DSLR tergantung di leher. Pemuda Jakarta itu telah menjadi langganan tetap selama seminggu terakhir, selalu duduk di bangku pojok sambil mencatat rahasia di buku kulitnya. Matanya yang tajam mengamati setiap gerakan Yuri seperti peneliti lapangan, bukan penyuka kuliner.

Hari ini, setelah menyuap tiga sendok, wajahnya berkerut. “Maaf, Mbak,” ujarnya tiba-tiba, suaranya mengalahkan gemericik kuah. “Cukonya kurang greget. Rasanya terlalu asam, kurang harmonis dengan kaldu sapi.” Sepi seketika melanda meja-meja sekitar. Pelanggan tua Pak Haji Mansyur yang sedang menikmati daging iga, tercekat. Yuri membeku, sendok kayu di tangannya bergetar halus.

“Kurang greget?” Yuri mendekat, matanya menyala. “Bapak tahu berapa generasi resep ini bertahan? Ini bukan masakan hotel bintang lima, tapi warisan yang dijaga dengan darah dan keringat!” Yusuf tak gentar. “Justru karena itu harus sempurna. Cuko seharusnya seperti orkestra—asam, pedas, gurih bersatu, bukan saling tindih!” Percakapan mereka berubah jadi debat sengit di antara decak kagum dan geleng-geleng kepala pelanggan.

Tiba-tiba, Yusuf mengeluarkan kartu nama dari dompet kulit. “Saya Yusuf Wijaya, finalis Kontes Chef Nasional. Kebetulan saya mencari resep coto autentik untuk babak final…” Yuri menyeringai, potongan kalimat itu seperti pisau di hatinya. “Jadi selama ini Bapak cuma mengincar resep kami? Bukan kelezatannya?” Suaranya menggema hingga ke warung ikan kering di seberang.

Sebelum Yusuf menjawab, seorang lelaki bertato naga di lengan—penagih utang pengembang tanah—melempar sepucuk surat ke meja preparasi. “Dua minggu lagi warung ini digusur!” katanya kasar sambil menepuk-nepuk poster menu.

“Sudah saatnya kalian minggir!” Surat peringatan itu jatuh di dekat panci cuko, tepinya mulai basah oleh cipratan kuah.

Yuri memungut surat dengan tangan gemetar, lalu menatap Yusuf yang masih terdiam. “Sekarang Anda tahu kenapa kami tak butuh kritik chef keren,” bisiknya getir. “Yang kami butuhkan adalah keajaiban.” Di luar, debu musim kemarau berputar seperti tarian hantu, menyelimuti foto kakek buyutnya yang tersenyum.

Yusuf memandang surat gusur itu, lalu ke wajah Yuri yang keras tapi rapuh. Tanpa kata, ia mengambil sendok kayu, mencocol sedikit cuko, dan mencicipinya lagi. Kali ini, matanya tak lagi menghakimi. “Kalau saya bantu selamatkan warung ini,” ujarnya pelan, “bolehkah saya belajar membuat cuko yang sempurna?”

Angin panas menerbangkan remah lada di meja, seakan alam ikut menahan napas menunggu jawaban.


bersambung…