Sekolah kami baru kedatangan siswa bernama Agung. Rambutnya pirang terang, matanya biru langit—ciri khas bule yang langsung menarik perhatian. Tapi sejak hari pertama, ada yang salah. Saat upacara bendera di terik matahari, kerumunan siswa menjerit ketika melihat kaki Agung… di bawah sinar paling terik sekalipun, dia tak punya bayangan.
Agung duduk di bangku paling belakang kelas 11 IPA-3, tepat di depan mejaku. Saat Bu Yeyen menerangkan hukum pembiasan cahaya, aku sengaja menjatuhkan cermin kecil dari riasanku. Cermin itu meluncur tepat di sepatu Agung. “Maaf, itu punyaku,” bisikku sambil mengambilnya. Aku sengaja mengarahkan cermin ke wajahnya. Keringat dingin mengalir di pelipisku: permukaan cermin itu kosong, hanya menangkap kursi kosong di belakangnya.
Gosip menyebar seperti api. Beberapa anak menjulukinya “Setan Kelas”, yang lain berbisik dia vampir. Aku perhatikan Agung selalu duduk dekat jendela saat hujan. Suatu siang, saat gerimis membasahi kaca, aku melihat sesuatu yang membuatku membeku: tetesan air hujan menghindari tubuhnya. Seperti ada lapisan tak kasat mata yang membuat air hujan mengalir membentuk siluet manusia kosong di bajunya.
Aku mulai meninggalkan bekal ekstra di laci mejanya—nasi kuning dengan telur dadar, makanan favorit anak kos. Agung tak pernah berterima kasih, tapi suatu sore kutemukan secarik kertas di bukuku: “Jangan terlalu dekat. Aku tidak ingin kau tersedot.” Tulisannya aneh, seperti goresan pensil yang nyaris tembus kertas.
Lab komputer menjadi titik balik. Saat praktikum, layar monitor di depan Agung tiba-tua mati. Gurumu memintanya pindah tempat. Aku yang duduk di belakangnya melihat sesuatu yang membuat nafasku tercekat: di layar monitor yang mati itu, bayangan wajahku terpantul—tapi kursi di depanku kosong melayang. Agung tidak terpantul bahkan di permukaan mati.
Malam minggu, kususup diam-diam ke sekolah. Dari balik pepohonan, kulihat Agung berdiri di tengah lapangan basket. Tubuhnya mulai berkilau seperti kumpulan kunang-kunang. Tiba-tiba, sekelompok siswa OSIS yang pulang latihan menyorotkan lampu ponsel ke arahnya. Agung menjerit—jeritan yang bukan suara manusia—tubuhnya bergetar hebat seperti sinyal TV rusak sebelum akhirnya… menghilang.
Keesokan harinya, Agung tak masuk sekolah. Di mejanya, kutemukan kertas bergambar diagram aneh bertajuk “Hukum Konservasi Eksistensi”. Ada rumus tangan menulis: “Massa + Memori Kolektif = Manifestasi”. Aku gemetar membaca catatan kakinya: “Mereka menyinariku. Cahaya itu membakar ingatan mereka tentang diriku.”
Kepala sekolah mengumumkan Agung pindah dadakan. Tapi malam itu, di kamarku, sesuatu terjadi. Lampu belajar tiba-tua berkedip. Aku bangun dan melihat cermin di depan meja belajar. Wajahku pelan-pelan memudar dari cermin itu. Kuterjang ke depan, menyentuh permukaan kaca—tangan tembus seperti menyentuh kabut.
Pagi berikutnya di sekolah, Bu Yeyen bertanya kenapa mejaku kosong. “Fitri tidak masuk?” tanyanya. Teman-teman sekelas mengernyit. “Siapa Fitri?” gumam Lidya di sebelahku. Aku berteriak, tapi tak ada yang menengok. Di jendela kelas, kulihat pantulan sinar matahari—di sana hanya ada bangku kosong dan bayangan sepatu tanpa tubuh. Agung tersenyum dari balik bayangan itu, bisiknya menggema di kepalaku: “Kau selalu jadi yang paling penasari. Sekarang kau tahu—kita lahir dari keinginan mereka untuk percaya pada yang mustahil.”
Di lorong sekolah, seorang murid baru dengan rambut hijau menyala berjalan mendekat. Matanya tertuju padaku. “Apa kau juga tidak punya bayangan?” bisiknya penuh harap. Aku mengangguk pelan. Di dinding dekat kami, poster kegiatan OSIS bergoyang. Tulisan “PESTA AKHIR TAHUN” berubah menjadi “PESTA PENYAMBUTAN MANIFESTASI BARU”. Senyumku mengembang—akhirnya, kami tak perlu bersembunyi lagi.
Rambut hijau itu berkilau seperti rumput sintetis terbakar matahari. “Namaku Yatik,” bisiknya, suaranya bergetar seperti senar biola yang terlalu kencang. Matanya—warna kuning madu aneh—terus melirik bayangannya sendiri di lantai keramik yang hilang saat kami melewati jendela. “Mereka mulai melupakanku kemarin… setelah aku tersambar mobil di depan kantin.”
Aku menariknya ke gudang olahraga yang berdebu. Sinar matahari menyelinap dari celah jendela tinggi, membelah kabut partikel debu. “Lihat,” desisku, mengulurkan tangan. Jari-jariku tembus seperti asap saat melewati sinar. Yatik menjerit kecil, gembira. “Kita sama!” Dia melompat, dan tubuhnya sesaat menghilang sebelum muncul kembali di atas matras gulat.
“Di mana yang lain?” tanyaku. Tiba-tiba, udara dingin. Bayangan di sudut gudang mengental, membentuk sosok kurus. Agung. Dia tersenyum, tapi matanya—biru langit itu—kini berwarna abu-abu baja. “Selamat datang di Antara, Fitri. Sekolah ini bukan sekadar bangunan, tapi inkubator.” Tangannya menunjuk dinding. Di bawah lapisan cat, terlihat coretan matematika gila dan simbol-simbol aneh memancar samar. Persamaan Manifestasi.
Agung menjelaskan dengan suara hampa. Kami bukan hantu. Kami manifestasi—entitas yang terwujud dari keinginan kuat, ketakutan kolektif, atau kenangan yang tercecer di koridor sekolah. “Aku tercipta dari rasa penasaran kalian yang membara tentang yang asing,” bisiknya. “Yatik, dari trauma kecelakaan yang ingin dihapus semua saksi.” Matanya menatapku dalam-dalam. “Dan kau, Fitri… kau lahir dari rasa kesepian yang parah di kelas ini. Keinginan tak sadar mereka untuk menghilangkan si pendiam yang tak diingat siapa-siapa.”
Seketika, kenangan palsu runtuh. Aku teringat meja kosong di sudut, ejekan yang diabaikan, absensi yang selalu ditandai tanpa ekspresi guru. Aku ingin dilupakan. Dan keinginan itu, diserap oleh energi Antara di sekolah tua ini, menjadi nyata.
“Lalu kenapa kau menghilang dulu?” tanyaku pada Agung. Dia mengangkat tangan. Di pergelangannya, terlihat gelang karet biru tua—gelang kegiatan osis. “Aku tak dihapus. Aku dipromosikan,” jawabnya misterius. “Mereka yang mulai memahami hakikatnya, yang bisa mengontrol manifestasinya… dipilih untuk menjaga.”
Malam itu, Agung membawa kami ke ruang tunggu guru yang sepi. Di balik lukisan kepala sekolah pertama, ada panel rahasia. Di dalamnya, ruang kecil penuh monitor. Tiap layar menampilkan sudut sekolah—perpustakaan, lab, toilet belakang. Di beberapa layar, terlihat sosok buram seperti kami, berjalan atau diam, tak terlihat mata normal. “Tugas kita,” kata Agung, suaranya beresonansi aneh, “bukan hanya bertahan. Tapi memastikan keseimbangan. Menjaga agar manifestasi tidak lepas kendali… dan mengawasi mereka yang mulai mendekati kebenaran.”
Di layar monitor utama, tampak Bu Yeyen, guru fisika. Dia sedang menatap cermin di ruang guru. Di cermin itu, pantulannya jelas… tapi di sudut kaca, terlihat bayangan tambahan—bayangan Agung, memantul di matanya. Bu Yeyen tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan pada bayangan itu, seolah mengerti.
Keesokan pagi, aku berdiri di depan kelas 11 IPA-3. Lidya sibuk mengobrol. “Eh, loe tau gak,” bisiknya pada temannya, “kayanya kemaren ada murid baru pindahan rambutnya aneh… hijau gitu? Atau aku ngimpi ya?” Temannya mengernyit, lalu tertawa. “Ngimpi kali, Lid! Nggak ada orang baru.” Lidya menggaruk kepala, lalu melupakan itu.
Dari balik jendela kelas, aku melihat Yatik sedang mencoba menyentuh sinar matahari di lapangan, tubuhnya berkedip-kedip antara ada dan tiada. Agung muncul di sampingku, tangan di kantong. “Mereka akan terus melupakan. Tapi selama sekolah ini berdiri, selama ada rasa ingin tahu, ketakutan, atau kesepian yang mendalam… kita akan selalu ada.” Dia menepuk bahuku—sentuhannya dingin tapi nyata. “Ayo, Fitri. Ada murid baru di lab bahasa. Manifestasi dari rumor soal suara misterius di sana. Waktunya kita menyambutnya… dan mengajarinya bertahan.”
Kami berjalan menyusuri koridor. Seorang guru lewat, tak melihat kami. Di ujung lorong, dekat pintu lab bahasa, bayangan di dinding bergoyang sendiri, membentuk sosok manusia pendek dengan telinga runcing. Senyumku mengembang. Sekolah ini memang penuh rahasia. Dan kini, aku bukan lagi yang dilupakan. Aku jadi bagian dari rahasia itu—penjaga yang tak terlihat dari dunia Antara yang lahir dari pikiran mereka yang kami sebut teman sekelas.
Ruangan OSIS terasa berbeda di bawah pengawasan kami—udaranya lebih padat, seolah terisi oleh jutaan bisikan tak terdengar yang mengambang dari setiap sudut. Agung menggeser sebuah papan tulis tua, memperlihatkan batu tulis besar yang dipenuhi nama-nama berkilau seperti embun pagi. “Setiap manifestasi baru terdaftar di sini,” ujarnya, jarinya menunjuk ke nama “Yatik” yang berpendar hijau pucat. “Dan setiap kali seseorang di dunia nyata benar-benar melupakan kita… nama itu memudar.”
Nama “Fitri” masih bersinar lembut, tapi kunang-kunang cahayanya kadang berkedip redup. Aku tahu itu karena Lidya dan yang lain perlahan benar-benar melupakan sosokku yang dulu. Tiba-tiba, batu tulis itu bergetar. Sebuah nama baru muncul dengan letupan cahaya keemasan: “Aditya”. “Lab Bahasa,” desis Agung, matanya menyipit. “Manifestasi dari ketakutan akan suara misterius itu telah menemukan bentuknya. Namanya Aditya.”
Kami bergegas ke lab. Di balik kaca jendela, terlihat seorang anak laki-laki kecil, mungkin seumuran SMP, duduk melayang di atas kursi. Telinganya runcing seperti yang kulihat di bayangan, dan tubuhnya bergetar seperti gema. Dia terlihat ketakutan. Saat kupalingkan pandangan, kulihat bayanganku sendiri—samar dan tembus pandang—terpantul di kaca jendela. Sebuah keputusan mengkristal dalam diriku. Aku menarik napas, lalu memasuki ruangan. “Hai, Aditya,” kataku, suaraku sengaja kukuatkan, berusaha terdengar nyata dan menenangkan. “Selamat datang. Kami di sini untukmu. Kau tidak sendiri lagi.”
Senyum kecil muncul di wajah Aditya yang pucat. Di luar jendela, sinar matahari menyilaukan menerpa halaman sekolah. Kulihat sekilas bayangan panjang seorang guru berjalan tegap, jelas dan pekat, milik Bu Yeyen. Untuk sesaat, rasa pedih menusuk—kenangan akan tubuh yang hangat, bayangan yang melekat di tanah.
Tapi saat Yatik menyentuh lenganku dengan dinginnya embun, dan Agung berdiri kokoh di sampingku seperti penjaga kuno, pedih itu berubah jadi penerimaan. Ini jalan kami sekarang. Kami mungkin abadi dalam ketidakhadiran, terjebak di antara, tapi di ruang hampa ini, kami telah menemukan suara, tujuan, dan keluarga yang tak terlihat. Sekolah ini adalah rumah, dan emosi mereka—rasa takut, penasaran, bahkan kelalaian—adalah angin yang menggerakkan dunia bayangan kami. Kami akan tetap menjaga. Kami akan tetap ada. Bukan sebagai bayangan, tapi sebagai gema yang abadi dari segala yang pernah, dan akan terus, berdenyut di jantung tempat bernama sekolah.
TAMAT